
Buku ini memenangkan Man Bookerprize tahun 2007. Buku karangan Kirani Desai ini diterjemahkan dengan judul "Senja di Himalaya". Sangat disayangkan, karena judul aslinya yang sangat "sakral" dan mewakili isi keseluruhan dan roh novel ini jadi hilang dan hambar.
Novel ini memang bercerita tentang kehilangan. Para tokoh utama novel ini, adalah pribadi-pribadi yang kehilangan, dan sedang melakukan pencarian. Ini adalah novel yang akan mengantarkan kepada Anda sebuah aliran pemikiran yang disebut sebagai Pos Kolonial. Tentang negara-negara dunia ketiga, yang mewarisi sebuah masalah sebagai akibat dari kolonialisme Eropa.
Novel yang sangat membosankan di awal karena terlalu datar dalam bertutur. Namun bila Anda mampu bertahan, maka akan menemukan keindahan serta sisi tragis dari kehidupan masyarakat di negeri jajahan.
Yang mengais-ngais dan terseok-seok meraba identitasnya yang absurd..... Desai dengan sangat cantik bisa menuturkan perasaan para tokohnya ini dengan penuh detil. Membuat kita terlarut di dalamnya. Ditambah lagi dengan sebuah akhir yang tragis, novel ini akan selalu terngiang bahkan saat Anda telah selesai membacanya...
Tuesday, January 06, 2009
The Inheritance of Loss
Monday, December 22, 2008
Half of A Yellow Sun: Sebuah Epik dalam Peperangan
Sebuah novel yang membuat aku sangat terpukau. Sang penulis Chimamanda Ngozi Adichie, mampu membawa pembacanya memahami kepedihan sebuah negeri yang jauh. Yayaya Nigeria, sebuha negeri yang sebelumnya hanya samar-samar kumengerti dengan berbagai macam kudeta militer.
Novel ini memberikan sebuah pencerahan tentang Nigeria, mengambil latar belakang Nigeria pada 1960-an. Saat pecah perang saudara, yang menyebabkan Nigeria terpecah menjadi dua Nigeria dan Biafra.
Ada empat tokoh utama yang sangat menonjol dalam novel ini. Pertama, Olannna, seorang anak konglomerat kaya di Nigeria, cantik, lemah lembut, dan patuh pada orang tua. Namun kekayaan orangtuanya tidak membuatnya tertarik. Karena dia lebih terkesima dengan ideologi sosialisme.
Kedua, tokoh Kainene. Saudara kembar dari Olanna, yang wajahnya sangat berbeda dengan Olanna, tidak cantik, berbadan tinggi dan ramping. Ia adalah seorang pengusaha wanita yang tangguh, dan pemberani.
Berikutnya adalah Odegnibo, seorang dosen di universitas Nsukka. Peraih gelar Doktor, seorang aktivis sosialisme di Nigeria. Simbolisasi dari mobilitas kelas masyarakat Nigeria. Berasal dari sebuah kampung miskin di Nigeria, menjadi kelas atas inteletual Nigeria. Cara berpikirnya yangs sedikit radikal, membuat Olanna langsung jatuh hati saat pandangan pertama.
Dan terakhir, Richard, seorang Inggris, yang datang ke Nigeria. Dan mendadak menemukan dirinya mencintai Biafra, dibandingkan negerinya. Ia digambarkan sebagai pria pendiam, yang lemah.
Keempat tokoh utama ini menjalin sebuah cerita tentang cinta yang tulus, perselingkuhan, dan juga kesetiaan pada negara di saat-saat peperangan. Mereka tetap setia pada Biafra, walaupun keadaan sangat sulit. Dan mereka seharunya bisa melarikan ke luar negeri.
Olanna yang lemah lembut berjuang untuk Biafra dengan menjadi guru bagi anak-anak korban perang. Odegnibo, tetap setia menjadi pejabat pemerintahan, dan menyiapkan bunker bila terjadi penyerangan.
Richard berkontribusi bagi Biafra dengan menuliskan apa yang dilihatnya, menampilkan sebuah fakta yang selama ini tertutup. Karena Nigeria mampu melakukan propaganda dengan lebih lihai. Dan jurnalis kulit putih hanya perduli pada jumlah korban kulit putih, sementara korban-korban penduduk lokal tak pernah masuk dalam hitungan.
Dan Kainene yang kapitalis, mampu membuktikan bahwa ia bukan hanya rakus dengan uang. Ia tetap setia membela Biafra dengan menjadi koordinator kamp pengungsian. Dia menggunakan hubungan dengan orang-orang penting yang dimilikinya, untuk mendapatkan makanan bagi para pengungsi korban perang.
Novel yang sangat pas untuk kajian studi pos kolonial. Tentang pembentukan negara paska penjajahan, yang meninggalkan banyak bom waktu perang saudara. Dan manusia-manusia yang gamang dengan identitasnya. Tokoh Harrison misalnya, pembantu dari Richard. Ia merasa bangga dengan kemampuannya memasak makanan Eropa, dan menganggap remeh makanan-makanan khas Nigeria seperti Nasi Jollof.
Sebuah novel yang sangat kaya, dengan kebijaksanaan. Menggambarkan manusia seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing, berjuang menghadapi kenyataan. Dan mereka tetap optimis, bahwa Matahari akan terbit esok hari...
Wednesday, November 12, 2008
Musashi: Perjalanan Spiritual Seorang Samurai...
Sebenarnya sudah selesai membaca buku ini beberapa minggu yang lalu, tapi belum sempat menulis, dan sangat sayang ajah kalo tidak berbagi betapa indah dan mendalamnya buku ini. Ini mungkin salah satu buku terpanjang yang pernah aku baca, karena terdiri tak kurang dari 1200 halaman. Fiuhhhh bayangkan stamina yang dibutuhkan.
Sebenarnya buku ini bergerak sangat lambat di awal, jadi agak membosankan khas gaya para penulis Jepang, yang prolog ceritanya sangat bertele-tele. Tapi jelas buku ini memang sangat indah dan penuh perenungan, sehingga tidak heran buku ini menjadi buku klasik yang selalu menarik perhatian dari generasi ke generasi.
Berkisah tentang Musashi, seorang Samurai muda yang meledak-ledak dengan kemampuan yang membahayakan, lalu jalannya berubah ketika bertemu dengan seorang Biksu Zen eksentrik yang kemudian membawanya pada sebuah pencerahan.
Musashi yang meledak-ledak melalui berbagai macam cobaan, dan tantangan mentransformasi menjadi seorang Samurai sejati, yang anggun, tenang, dan penuh perhitungan. Dia mampu mengendalikan dirinya, untuk menggunakan kekuatannya untuk menjaga perdamaian....
Kisah yang sangat menarik, karena kita dibawa ke Jepang di era Shogun, dimana terjadi perebutan pengaruh antar-penguasa. Disini juga kita bisa mengintip sistem nilai masyarakat Jepang, yang masih dianut hingga saat ini.
Makanya tak heran, saat Jepang mulai menggeliat sebagai eknomi baru dunia. Para pebisnis di Amerika Serikat merasa perlu membaca buku ini, untuk memahami partner mereka dari Jepang.
Buku yang sangat direkomendasikan dibaca, walaupun harus bersusah payah membaca ribuan halaman.
Jakarta, 121108
On Evening...
Wednesday, September 17, 2008
Twilight: Kisah Percintaan Remaja yang Tak Biasa
Pertama kali tahu buku karya Stephenie Meyer ini justru karena pemberitaan bahwa buku ini sukses melalui kampanye pemasaran melalui dunia online. Sang penulis, benar-benar menggarap dan memelihara para penggemarnya di dunia online. Ia menjawab satu per satu e-mail yang masuk, dan menanggapi secara serius website para penggemar bukunya yang berdikusi melalui internet.
Bukunya sebenarnya sederhana tentang percintaan kisah anak remaja SMA. Namun yang menjadi menarik adalah Sang Pria ternyata seorang Vampir. Aku berpikir jalan cerita akan berjalan standar dan mudah ditebak.
Ternyata dugaan itu salah, maka tak mengherankan bila buku ini mencuri hati para pembacanya. Buat yang suka dengan cerita-cerita cinta, mungkin buku ini sangat pas. Buat yang suka dengan sebuah kisah yang tidak biasa juga harus membaca buku ini. Karena ada sebuah nuansa baru yang ditawarkan, yang tidak biasa dalam sebuah novel percintaan populer...
Jakarta, 170908
Menunggu Saat Berbuka...
Monday, September 08, 2008
Blakanis: Tentang Kejujuran yang Langka
Arswendo setelah sekian lama, kembali dengan novelnya "Blakanis". Masih dengan gaya menulis yang sederhana, namun mengena. Blakanis bercerita tentang Ki Blaka, dan sebuah gerakan yang dimulainya untuk berani berkata dan berbuat jujur.
Dari sebuah kerumunan kecil, perkumpulan ini menjadi sangat besar. Ada mantan pejabat yang kemudian mengaku korupsi, ada anak-anak sekolah yang berhenti menyontek dan lain lain. 
Ki Blaka sendiri tidak menginginkan dirinya, dan apa yang dilakukannya menjadi sebuah kultus, aliran kepercayaan atau apapun. Ini sepertinya merupakan sebuah sindiran lain dari Arswendo tentang bangsa ini yang sangat mudah untuk mengkultuskan sesuatu.
Arswendo benar-benar membawa cerita ini dalam konteks Indonesia yang sangat kental, dengan berbagai macam problemanya, bukan hanya menyangkut soal kejujuran, tapi tata sosial masyarakat Indonesia yang disentil dengan sangat halus, bahkan mungkin tak terasa bila Anda bebal.
Novel ini uniknya menceritakan satu cerita yang sama dengan dua sudut pandang yang berbeda. Satu sudut pandang pria, dengan gaya bercerita yang tegas, lebih melihat dari sisi intrik, dan politis. Satu sisi lagi dari sisi wanita, yang lebih personal, hal-hal yang sangat humanis, kadang remeh-temeh tapi menyentil.
Dua sudut pandang ini saling melengkapi, agar kita mendapatkan satu kesatuan cerita utuh dalam memandang Ki Blaka, dan Blakanis. Sebuah buku yang wajib dibaca untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik....
Jakarta, 080908
Setelah Berbuka...
Wednesday, September 03, 2008
Enrique's Journey, Perjalanan Dramatis Menemui Ibu

Buku karya Sonia Nazario ini, bercerita tentang perjalanan Enrique seorang remaja dari Honduras yang pantang menyerah menemui ibunya yang bekerja sebagai imigran gelap di Amerika Serikat.
Perjalanan yang harus ditempuh sangat mengerikan dan dramatis. Dia harus menghadapi kekerasan dari para preman, pemerasan dari polisi perbatasan yang korup, dan kemungkinan celaka lalu mati akibat jatuh dari atap kereta.
Kisah ini diceritakan oleh Sonia berdasarkan kisah nyata, ribuan anak-anak dari negara-negara Amerika Selatan, seperti Honduras dan Guatemala yang nekad menuju ke Amerika Serikat, demi bertemu dengan ibunya yang telah lama tidak bertemu. Mereka bahkan tidak bertemu dengan ibunya hingga belasan tahun.
Kemiskinan, adalah jawaban dari pertanyaan mengapa anak-anak itu rela menuju Amerika, seperti halnya para ibu dari negeri Amerika Tengah rela meninggalkan negaranya. Los Angeles yang gemerlapan sepertinya menawarkan mimpi yang tidak dapat ditolak oleh mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat minim sarana dan prasana.
Ini sama halnya dengan urbanisasi masyarakat pedesaan yang tergiur dengan kehidupan Jakarta yang gemerlap, dan dianggap bisa menawarkan kehidupan yang lebih baik.
Kisah Enrique seperti sebuah cerita telenovela, dramatis, menyedihkan, dan permasalahan yang tak berujung. Pertemuan dengan ibunya di Amerika Serikat bukan berarti akhir yang bahagia, ada dendam masa lalu dimana ia merasa ditinggalkan oleh ibunya. Sementara Sang Ibu merasa ini adalah bagian dari pengorbanannya demi kehidupan anak-anaknya yang lebih baik.
Epik tentang lingkaran kemiskinan yang tak berujung...
Jakarta, 030908
Menanti Saat Berbuka..
Tuesday, July 29, 2008
The Last Empress: Pertarungan Diplomasi Dalam Bungkus Sejarah
"The Last Empress", adalah sekuel dari buku "Empress Orchid" yang pernah ditulis resensinya disini. Bila dalam novel sebelumnya, kita akan dibawa dengan keindahan kota terlarang, dan betapa repotnya tatacara kekaisaran Cina. Maka pada sekuel ini lebih banyak nuansa kelabu.
Kekaisaran Cina yang mulai rapuh, kekuatan asing yang semakin merajalela. Disinilah kita akan disuguhi sebuah dongeng tentang diplomasi antarnegara. Bagaimana diplomat Cina di masa itu, harus bernegosiasi untuk mempertahankan wilayahnya dari negara asing.
Sementara di dalam negeri sendiri, terjadi pergolakan yang luar biasa, menuntut Kaisar mengusir kekuatan asing. Tarik-menarik kepentingan tergambar juga dengan jelas disini. Dan akhirnya aku belajar bagaimana seorang pemimpin harus mempertimbangkan begitu banyak variabel saat mengambil keputusan.
Bagaimana Ratu Yehonala, yang sudah mulai renta, harus berpikir keras menjaga keseimbangan politik untuk menjaga kelanggengan dinastinya. Di satu sisi, dia tahu tidak akan mampu menghadang kekuatan asing keluar dari negaranya. Karena melawan secara frontal berarti bunuh diri. Karena kekuatan militer Cina tak akan mampu membendung pasukan asing, dan teknologi mereka yang canggih.
Cina yang mengagung-agungkan dirinya sebagai yang terhebat, dan menganggap orang-orang Barat itu sebagai Bangsa Barbar, telah disadari oleh Ratu Yehonala sebagai sebuah kesalahan besar.Cina mungkin mempunyai teknologi tinggi di masa lalu, tapi kini mereka kalah jauh dengan teknologi yang dimiliki oleh negeri Barat.
Di sisi lain, golongan konservatif tidak menginginkan perubahan. Mereka juga tidak menginginkan adanya orang-orang asing amsuk ke negaranya. Mereka mulai menghasut untuk menciptakan kebencian pada orang asing. Kemudian menimbulkan sebuah gerakan yang disebut "Boxer". Mereka adalah para petani miskin yang putus asa, karena berbagai bencana alam, yang menyebabkan mereka gagal panen dan kelaparan.
Konteks seperti ini, seakan mirip dengan apa yang terjadi saat ini. Sejarah memang berulang. Dan saatnya kita mulai belajar. Sangat impresif, karena aku belajar bagaimana seorang diplomat yang piawai bernegosiasi. Dan seorang pemimpin sejati harus mengakomodasi dan mengambil keputusan yang sulit.
Jakarta, 290708
Dalam Sebuah Penantian
Tuesday, July 22, 2008
Empress Orchid: Pergolakan di Tengah Dunia yang Berubah..

Hanya satu kata untuk novel ini "luarrrrr biasaaaa". Karena novel ini bukan hanya menghantarkan detil-detil mengenai Kota Terlarang, dengan berbagai tradisinya. Tradisi yang membuat tercengang, sekaligus pusing membayangkan alahkah repotnya menjadi Kaisar dan Permaisuri di negeri itu.
Novel ini mengisahkan tentang Ratu Yehonala, yang berjuang melawan intrik di Kota Terlarang. Posisinya sebagai selir kerajaan yang kemudian memegang tampuk kekuasaan, membuatnya harus pandai membawa diri, karena sekian banyak musuh yang berusaha menjegal dan menantikan kejatuhannya. Ia harus memim[pin Cina, di saat keadaan yang bergolak.
Catatan penting lainnya dari novel ini, adalah bagaimana sebuah kekaisaran yang telah berumur ribuan tahun harus mengalami nasib yang sangat mengenaskan akibat ketidakmampuannya menghadapi perubahan yang bergulir di luar. Kebijakan Cina pada masa itu yang mengisolasi dari negara lain, dan menganggap peradabannya adalah yang tertinggi di dunia, harus menelan pil pahit, dan mengalami kekalahan yang memalukan.
Kekaisaran Jepang juga mengalami nasib yang sama sebelumnya. Mereka dipaksa oleh kekuatan Barat untuk membuka diri mereka atas isolasi dari negara lain. Namun mereka mampu bangkit lebih cepat, segera mencanangkan reformasi besar-besaran yang dikenal sebagai Restorasi Meiji.
Dalam novel ini digambarkan, bagaimana Kekaisaran Cina yang agung, dipaksa membuka diri dan wilayahnya dicaplok oleh negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Rusia, bahkan juga Jepang yang baru saja mengalami kebangkitan, dan menjadi sangat agresif serta ekspansif.
Kekalahan Cina dalam Perang Candu menyebabkan Cina harus rela kehilangan beberapa wilayah, dan masih ditambah pula mereka harus membayar kompensasi biaya perang. Dalam novel ini tergambar jelas, bagaimana teknologi Cina kalah jauh dibandingkan negara-negara Barat, misalnya pandangan terkagum-kagum Ratu Yehonala tentang teknologi jam.Ini merupakan hadiah dari negeri Barat untuk Kaisar.
Novel ini memberikan sebuah pembelajaran berharga bukan hanya tentang detil sejarah, dan kebudayaan. Tetapi juga perenungan bahwa perubahan adalah keharusan. Statis berati bersiap menggali kuburan, dan layu dengan keadaan yang memalukan...
Jakarta, 220708
Waktu Luang yang Smakin Mahal Buat Ngeblog...
Friday, June 20, 2008
Lolita: Tentang Dunia Yang Muram

Kesan pertama yang terbangun dari nove Lolita, yang ditulis oleh Vladimir Nabokov adalah kemuraman. Sebuah percintaan antara seorang paruh baya, dengan seorang anak-anak berusia 12 tahun.
Kisah yang sangat rumit, sebuah percintaan yang sangat tragis. Dengan pendalaman karakter pribadi-pribadi yang nyleneh. Ceritanya seperti datar, konflik seperti dijaga dari awal hingga akhir.
Awalnya serasa agak membosankan membaca novel ini. Karena semuanya serba aneh. Namun kisah percintaan yang tulus dengan bungkus yang aneh bisa direnungkan disini. Novel ini juga membawa pada kehidupan tahun 50-an. Kehidupan dimana televisi sepertinya baru memulai debutnya, dan kehidupan unik lainnya.
Novel ini juga membawa kita pada berbagai kultur negeri Eropa dan Amerika. Karena persentuhannya dengan berbagai negara yang pernah ditinggalinya, membawa novel ini menjadi lebih kaya.
Jakarta, 200608
Malam Hari Masih di Kantor Itu Pilihan...
Monday, May 12, 2008
"Perempuan Suci", Feminisme Timur, dan Perubahan Sosial Pakistan

Novel pertama karya Qaisra Sahraz ini memang sangat menganggumkan. Tokoh utamanya adalah Zarri Bano, seorang wanita muda, modis, cantik, dan sangat cerdas lagi kaya raya. Ia adalah seorang aktivis feminis, yang menganut kebebasan. Hingga akhirnya, Sang Ayah memerintahkan menjadi seorang Perempuan Suci.
Dengan status ini, Zarri Bano, harus mengubah kehidupannya secara total. Ia tidak boleh menikah, dan mengabdi sepenuhnya pada ilmu agama. Dan ia harus berbalur Burqa hitam, sebagai simbol status barunya ini. Status ini dipaksakan oleh Sang Ayah, untuk melindungi harta warisan keluarga, karena anak lelaki dalam keluarganya mati muda.
Novel yang sangat mengejutkan, dan menguras emosi. Anda akan dibawa bersedih, tersentuh, melayang oleh ceritanya yang romantis. Dan suatu saat akan marah, tentang sistem patriarki yang sangat tidak adil.
Alur besarnya sangat bisa ditebak, bergaya khas alur film Bollywood yang mendayu. Namun jangan berprasangka dulu hingga Anda masuk ke dalamnya. Di sana Anda akan melihat sudut pandang Islam, untuk menjelaskan kepada dunia Barat yang selama ini berpandang curiga.
Di sini, Anda juga akan menemukan bagaimana feminisme menemukan bentuknya dalam konteks budaya Timur. Feminisme ditampilkan dengan tetap berbungkus kepatuhan pada orang tua, bukan meledak-ledak dan frontal seperti yang dilenggangkan oleh Ayu Utami, dalam Saman.
Aku paling suka dengan alasan, Zarri Bano menerima putusan sebagai Perempuan Suci. Yaitu saat ayahnya, mengatakan "Kau butuh lelaki dalam hidupmu". Jadi dia sebenarnya sedang melawan patriarki itu sendiri, dengan menjadi seorang Perempuan Suci. Bukan justru sebaliknya, seperti yang dituduhkan oleh orang-orang sekitarnya.
Disini, Anda juga akan menemukan perubahan sosial dari tiga generasi keluarga Pakistan. Sebuah perubahan cara pandang dari masyarakat agraris berbalut konsep islami, menuju masyarakat industri modern. Hal ini digunakan dengan perlambang keluarga Zarri Bano yang merupakan Tuan Tanah turun temurun, dan keluarga Sikander yang merupakan tunangan Zarri Bano, yang berasal dari keluarga kaya baru. Seorang pebisnis, yang tinggal diperkotaan.
Jakarta, 120508
Hari Mulai Menua...
"A Thousand Splendid Suns", dan Nyanyian Kepedihan...

Setelah memukau dunia dengan bukunya "A Kite Runner". Khaled Hosseini menulis buku berikutnya "A Thousand Splendid Suns". Buku yang masih juga membahas tentang bait-bait kepedihan Afghanistan yang terkoyak dalam perang saudara dalam beberapa tahun ke belakang.
Buku ini diawali dengan kisah tragis Mariam sebagai Harami atau anak Haram, dari seorang terpandang di kota kecil Herat di Afghanistan yang menghamili pembantunya. Meminjam mata Mariam yang malang, pembaca diajak bertualang dalam kehidupannya yang menyedihkan.
Ditolak oleh ayah kandungnya, lalu ibunya memilih gantung diri, karena anaknya lebih memilih menemui ayahnya. Penderitaan Mariam terus berlanjut, dimana dia dipaksa menikah dengan seorang pria yang jauh di atas umurnya.
Ia menjadi saksi sistem patriarki Afghanistan yang rigid. Dicampakkan oleh suaminya karena tidak mampu menghasilkan seorang anak. Dimadu, dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tanpa mampu melakukan perlawanan.
Novel ini juga menangkap perang saudara yang berkepanjangan di Afghanistan. Kota yang hancur lebur, aliran pengungsi ke Pakistan yang hidup dalam kesengsaraan. Dan tangisan pedih dan lirih, karena begitu banyak keluarga yang meninggal akibat perang.
Novel ini, menurutku masih kurang menggigit dibandingkan karya Khaled sebelumnya, "A Kite Runner". Suasananya terlalu suram, dan mencekam. Atau mungkin aku terlalu terpesona dengan karya sebelumnya? Ledakan emosional yang pernah dirasakan tatkala membaca A Kite Runner, sangat jauh dibandingkan buku ini yang terasa hambar.
Tapi secara keseuluruhan buku ini layak untuk dibaca, karena Anda bisa mengintip kehidupan sosial masyarakat Afghanistan. Dan tentunya perubahan politik di sana yang mengakibatkan peperangan, dan kemiskinan tak berkesudahan.
Jakarta, 120508
Siang Nan Sunyi...
Friday, April 25, 2008
Saatnya Berdialog dengan Konsumen

Lois Kelly dalam bukunya "Beyond Buzz", memberikan sebuah sudut pandang baru dalam dunia pemasaran. Ia menyarankan agar pemasar bukan hanya sekedar berkomunikasi satu arah melalui iklan dan kegiatan promosi lainnya. Kini saatnya pemasar berdialog dengan konsumen.
Keahlian baru yang harus dimiliki oleh pemasar, yang berulang kali ditekankan dalam buku ini, adalah kemampuan mendengarkan. Pemasar harus menjadi pendengar yang baik dari keluhan, masukan, dan kebutuhan konsumen. Karena menurut Kelly, tugas pemasar adalah memenuhi kebutuhan konsumen, bukan memaksa konsumen membeli suatu produk yang dihasilkan.
Sebuah dialog dengan konsumen dapat dilakukan apabila ada sebuah konteks yang membingkai produk. OLeh karena itu Kelly menawarkan 9 hal yang akan disukai konsumen sebagai sebuah cerita, diantaranya David Vs Goliath, Biografi tokoh kenamaan, kisah selebritis dll.
Kelly juga menekankan perlunya pemasar berkomunikasi dengan lebih informal, dan emosional agar lebih mudah dimengerti oleh orang lain. Karena saat ini dunia bisnis cenderung menjadi lebih kasual, dibanding era sebelumnya. Kelly menyebutnya sebagai 'writing for the ear".
Pendapat ini sangat menarik, karena selama ini orang-orang PR, dan Marketing terlalu terbiasa menulis dengan gaya formal, dingin, serta membosankan. Gaya yang sangat tidak cocok untuk sebuah dialog antara konsumen dan pemasar. Tuntutan perubahan gaya penulisan ini, menurut saya salah satunya dikarenakan kehadiran internet, mengapa?
Karena internet memaksa pemasar untuk berhubungan langsung dengan konsumen. Kehadiran blog, forum, mailing list dan sarana lainnya menyebabkan konsumen bisa langsung menyuarakan pendapatnya dengan mudah. OLeh karena itu, pemasar dituntut untuk bisa berkomunikasi langsung dengan mereka.
Buku ini berkaitan erat dengan buku "Word of Mouth Marketing" . Apabila buku Word of Mouth Marketing hanya berbicara tentang bagaimana menciptakan efek getok tular sebuah produk, buku ini menariknya ke arah yang lebih luas untuk melakukan perubahan dalam paradigma pemasaran di sebuah perusahaan, termasuk di dalamnya tipikal orang yang harus direkrut untuk menjadi pemasar jenis "baru". Pemasar yang mempunyai keahlian mendengarkan, dan berdialog dengan konsumennya.
Jakarta, 250408
Menjemput Siang...
Friday, April 11, 2008
Novel Sastra Generasi Pop "So real/surreal"

Novel yang ditulis Nugroho Nurarifin ini mengusung gaya penulisan generasi baru penulis dalam sastra Indonesia. Gaya menulis yang terkesan pop namun mendalam. Khas generasi baru penulis Indonesia. Gaya menulis seperti ini, mengingatkan gaya menulis Fira Basuki, Ayu Utami, dan beberapa penulis muda lainnya.
Mengambil latar belakang Jakarta yang kompleks, novel ini diawali dengan tokoh utama seorang yang sudah putus asa, dan apriori dengan kehidupannya. Terlalu banyak kekecewaan yang terpendam, sehingga ia memutuskan menjalani kehidupan sekali pakai. Sebenarnya masih ada tiga tokoh lainnya, yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang semuanya saling berkait, membentuk sebuah cerita yang berkelindan.
Novel ini mengangkat ranah posmodernisme, dalam kemasan sebuah cerita yang nyata dialami oleh kaum urban Jakarta. Penulisnya tampak sangat terobsesi dengan Boudrillard, dan teori simullacra...
Sangat masuk akal, karena penulisnya adalah pekerja di dunia media. Dan Simullacra sebenarnya bercerita tentang kritik bahwa medialah yang menciptakan realitas dalam benak kita, bukan kenyataan itu sendiri??? Apakah Anda merasa pusing??? Yah bisa dimaklumi, posmodernisma kadang dianggap sebagai pemikiran orang-orang gila, tapi sangat relevan apabila direnungkan lebih mendalam lagi.
Monday, March 31, 2008
Menciptakan Word of Mouth Produk Anda...

Kemarin aku baru saja selesai membaca buku Word of Mouth Marketing yang ditulis oleh Andy Sernovitz. Buku ini membahas tentang bagaimana sebuah produk menggunakan word of mouth atau efek getok tular dalam kampanye pemasarannya.
Menurut Sernovitz, ada lima T yang harus diperhatikan saat melakukan kampanye ini. Kelima hal tersebut adalah, Talker, Topics, Tool, Taking Part, dan Tracking. Talker adalah orang-orang yang akan menjadi perantara membicarakan produk Anda. Talker bisa jadi pelanggan Anda, para pehobi, atau profesional yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang bidangnya.
Tapi jangan lupakan juga orang-orang yang baru pertama kali menggunakan produk Anda. Karena terkadang mereka bisa jadi menjadi pengiklan yang paling baik, karena mereka baru pertama kali terpesona dengan produk Anda.
Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah Topic. Anda harus memikirkan dengan serius, topik apa yang bisa bicarakan tentang produk Anda. Topik ini seharusnya sesuatu yang sederhana, dan memang berasal dari produk itu sendiri. Dalam WOM Marketing, kejujuran merupakan hal yang sangat mutlak, kalau tidak maka kredibilitas produk Anda akan dipertanyakan.
Ketiga, adalah tentang Tools. Tools berbicara tentang segala perlengkapan yang seharusnya disiapkan agar memudahkan konsumen melakukan word of mouth. Misalnya, membuat link send-to-friend di setiap halaman website. Link ini harus memungkinkan seseorang mengirimkannya kepada banyak orang. Kedua, membuat pesan yang termuat dalam satu e-mail, dan pastikan e-mail itu tidak akan berubah apabila di forward.
Keempat, Taking Part, menjelaskan bagaimana seharusnya Anda terlibat dalam proses ini. Buku ini sebenarnya lebih banyak mengambil konteks di internet, karena memang kehadiran internet membuat efek WOM lebih cepat dan luas.
Sernovitz menyarankan agar setiap perusahaan memiliki blog korporat. Dan tidak harus ditulis oleh bagian marketing atau PR, tapi oleh mereka yang punya minat untuk menulis di blog. Perusahaan juga harus melakukan kegiatan rutin setiap hari mengecek apa yang dibicarakan konsumen tentang produk kita.
Apabila ada pemberitaan yang negatif. Maka apa yang harus dilakukan adalah, memberikan respon secepatnya, dan selesaikan masalah. Konsumen yang komplain dan diberikan solusi yang terbaik, akan berubah menjadi konsumen yang menyebarkan informasi positif tentang produk Anda.
Kelima, Tracking. Dengan ini akan memudahkan Anda mengetahui siapa yang menjadi talker produk Anda, topik apa yang menjadi WOM, dan mengetahui apakah Tools yang Anda siapkan bekerja dengan baik.
Satu hal yang menarik dari Tracking yaitu menghitung ROI dari investasi WOM Marketing. Selama ini WOM Marketing tidak pernah diperhitungkan, walaupun menyumbang pendapatan yang cukup besar pada perusahaan. Hal ini disebabkan karena WOM Marketing tidak membutuhkan biaya investasi alias gratis.
Jakarta, 310308
Sebuah Senin di Penghujung Bulan...
Friday, March 28, 2008
Menu Strategi PR Indonesia

Selama ini aku selalu merindukan buku-buku yang mengambil studi kasus lokal, alias dari Indonesia, yang digarap secara konseptual. Buku semacam ini memang sangat langka di Indonesia. Ketika aku kuliah di MM UGM pun, kebanyakan studi kasus yang diberikan adalah studi kasus dari Amerika Serikat. Padahal belum tentu konteksnya sesuai apabila ingin diterapkan di Indonesia.
Buku "Strategi Public Relations" yang ditulis oleh Silih Agung Wasesa, menjawab sudah kerinduanku tentang kasus-kasus negri sendiri, dengan pendekatan konseptual yang kuat. Pengalamannya yang cukup panjang sebagai praktisi PR, dan kemudian konsultan PR di Intermatrix, membuat dia sangat piawai dalam menjelaskan tentang berbagai kasus PR di Indonesia.
Buku ini sekaligus memperkenalkan padaku, bahwa ternyata PR sendiri mempunyai banyak cabang. Bukan hanya sekedar Marketing PR dan Crisis Management seperti yang aku kenal selama ini. Ternyata ada juga strategi PR untuk menggarap channel distribusi, sales, bahkan juga peran PR dalam diplomasi antarnegara dan kasus hukum.
Maklumlah pengetahuanku di dunia PR memang masih sangat sempit, walaupun aku sempat beberapa bulan bekerja di Maverick. Beberapa kasus yang sangat menarik misalnya, Toyota yang menggunakan strategi PR sebelum peluncuran Avanza dan Kijang Inova. Dan berbagai kasus menarik lainnya.
Buku yang sangat mencerahkan, bagi Anda yang baru pada tahap awal belajar tentang PR. Dan ingin mengetahui referensi studi kasus PR di Indonesia.
Jakarta, 280308
Waktu Makan Siang Sudah Habisss
Thursday, March 13, 2008
"The Long Tail", Saat Konsumen Berlimpah Pilihan

Buku “The Long Tail” yang ditulis oleh Chris Anderson sepertinya layak dicermati oleh para pemasar saat ini. The Long Tail, memberikan kesimpulan menarik yaitu apapun produk yang dijual pasti ada peminatnya, walaupun sangat sedikit.
Ia memberikan contoh penjualan di Amazon, Rapshody, E-bay dan beberapa perusahaan online lainnya. Hasil penelitiannya membuktikan, bahwa tidak ada sau produk pun yang tidak laku. Paling tidak setiap produk laku satu kali dalam sebulan.
Dan temuan yang lebih mengejutkan lagi dari buku ini adalah, perusahaan-perusahaan ini memperoleh laba terbesar justru dari produk-produk yang tidak terlalu laku tersebut. Inilah mengapa disebut sebagai Long Tail atau ekor panjang.
Selama ini pemasar hanya menggenjot produk-produk hit, best seller dan sebagainya, yang disebutnya sebagai produk yang berada di bagian kepala. Karena produk inilah yang sangat cepat perputarannya, dan menghasilkan lebih banyak keuntungan. Namun penjualan di internet justru menghasilkan temuan sebaliknya. Produk yang bukan best seller, membentuk ekor panjang yang memberikan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada dua hal yang memungkinkan hal ini. Pertama adalah demokratisasi alat produksi, yaitu suatu keadaan dimana orang bisa memproduksi sesuatu dengan harga yang lebih rendah. Ambil contoh, makin maraknya band-band Indie saat ini karena orarg bisa membuat lagu hanya dengan sebuah komputer di rumah, tanpa perlu ke studio rekaman. Proses kreatif menjadi milik semua orang, di manapun dan kapan pun.
Kedua, internet menyebabkan biaya distribusi dan display menjadi sangat rendah, bahkan hampir di titik nol. Bayangkan ketika era sebelum adanya internet, toko-toko hanya akan menjual produk yang paling laku di pasaran, karena tempat display yang sangat terbatas. Sementara itu begitu banyak produk baru yang muncul, yang tidak akan mampu ditampung oleh display yang ada. Oleh karena itu, toko-toko mengambil kebijakan hanya akan memajang produk yang banyak dicari. Hal ini tentunya tidak berlaku di internet, dimana sebuah produk hanya berarti satu byte data.
Kesimpulannya, menurut Chris Anderson, saat ini adalah era keruntuhan bagi produk-produk hit, best seller atau apapun sebutannya,. Konsumen lebih bebas menentukan produk yang sesuai dengan selera pribadinya, karena semua produk tersedia di internet. Selama ini produk Hit atau Best Seller menjadi pilihan sebagian besar konsumen, karena mereka mempunyai pilihan yang terbatas, karena biaya distribusi dan display yang sangat tinggi.
Ini adalah sebuah era perubahan revolusioner, yang harus diwaspadai oleh setiap pemasar. Semua pemasar harus mengantisipasi perubahan tersebut.
Jakarta, 130308
Selamat Pagi Jakarta...
Monday, February 04, 2008
"Mantra Pejinak Ular" dan Simbolisasi...
Novel ini sebenarnya sudah sangat lama diterbitkan (tahun 2000), namun baru sempat beli pas pameran buku tahun lalu, karena lagi di obral hehehe. Novelnya sangat menarik, karena menampilkan kekhasan para sastrawan yang sangat bergaya Jawa.
Novel ini sebenarnya ingin mengangkat tema yang sedang ngetren di jamannya, yaitu kejatuhan Soeharto dan mesin politiknya. Tokoh utama diwakili oleh Abu Kasan Sapari yang seorang pegawai negeri rendahan, sekaligus dalang.
Novel ini ingin menunjukkan walaupun dengan posisinya sebagai pegawai rendahan, yang tentunya terjepit mesin politik karena pegawai negeri pada era itu adalah salah satu penggerak Golkar, masih bisa melakukan perlawanan dengan caranya sendiri.
Dengan mendalang, Abu Kasan Sapari bisa menunjukkan sikap politiknya sebagai individu, untuk melawan mesin politik. Kesenian dijadikan alat untuk melakukan perlawanan diam-diam, sehingga membuat penguasa ketakutan. Karena wayang pada masa itu, punya pengaruh yang sangat besar. Setiap program pemerintah, sosialisasi program, dan sebagainya akan lebih mudah menggunakan sarana wayang.
Pertunjukan wayang adalah sebuah wadah interaksi sosial, semua kalangan di masyarakat Jawa sangat menyukai wayang. Cerita wayang yang penuh dengan simbolisasi sangat efektif untuk menyampaikan pesan bagi masyarakat Jawa yang memang lebih menyukai sesuatu yang menggunakan ibarat, dan simbol.
Satu lagi catatan yang menarik dari novel ini. Abu Kasan Sapari mendapatkan ilmu pejinak ular, yang pada akhirnya membuat masyarakat sekitarnya resah karena ia memelihara ular di rumahnya. Dan akhirnya ia mengakhiri semuanya dengan menyerahkan ular peliharaannya ke Bonbin, dan tidak meneruskan amanat untuk menurunkan ilmunya pada orang lain.
Akhir cerita ini menarik, karena ini menunjukkan perubahan sosial antara generasi tua dan generasi muda Jawa. Dimana generasi muda, mulai meninggalkan dunia takhayul, diwakili dengan tidak diturunkannya ilmu Mantra Pejinak Ular.
Jakarta, 040108
Pagi....
Thursday, January 03, 2008
Anna Karenina dan Prose Pencarian dalam Dunia yang Muram
Akhirnya setelah melalui perjuangan yang panjang, selesai juga aku menyelesaikan dua jilid buku "Anna Karenina" (edisi bahasa Indonesia). Terjawab sudah rasa penasaran mengapa buku ini sangat banyak dibicarakan para pecinta sastra.
Anna Karenina ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan, yaitu sebuah eksplorasi tentang perselingkuhan di era abad ke-19. Lebih dari itu buku ini adalah kritik sosial tentang masyarakat Rusia saat itu.
Tentang pertentangan kelas, tentang muculnya kaum borjuis dan tuan tanah. Tentang kaum aristokrat yang hidup berfoya-foya menikmati warisan turun-temurun. Dan banyak hal lainnya.
Leo Tolstoy memang patut diacungi jempol, karena bukan hanya bisa melakukan eksplorasi emosional masing-masing tokohnya dengan sangat sempurna. Tapi juga mempunyai pengetahuan yang sangat luas dalam berbagai bidang mulai dari dunia sastra, filsafat hingga seni.
Novel ini syarat dengan nuansa ideologis sosial yang membela hak-hak kaum petani, yang kehidupannya dianggap tereksploitasi oleh kaum arsitokrat dan tuan tanah. Tentang pencarian jati diri masing-masing tokohnya.
Novel yang sangat lengkap, dan sangat direkomendasikan untuk dibaca.
Jakarta, 030108
Sore yang Mendung
Monday, October 29, 2007
Mari Berkelana Bersama Traveler's Tale

Kebetulan seorang teman berbaik hati meminjamkan buku ini. Buku ini ditulis oleh Adithya Mulya, Ninit Yunita dan dua orang lagih (maafkan lupa namanya soalnya banyak bener penulisnya).Ternyata isinya keren bangettt. Di samping banyolannya yang seru bikin ketawa-ketawa sendiri. Aku juga belajar banyak hal tentang berbagai negeri yang jauh. Hmm jadi pengin nich jalan-jalan keluar negeri, ingin melihat dunia luar, biar pemikiranku yang kerdil ini lebih tercerahkan.
Buku ini juga dibumbui dengan kisah tentang sahabat yang kemudian saling jatuh cinta. Cerita cintanya sih standar, tapi jiwaku yang mellow inih, selalu saja terhanyut dengan kisah-kisah cinta yang romantik. Karena cara penuturannya yang tidak biasa, penuh dengancitarasa drama dan komedi. Cerita yang membuatku terharu sekaligus tertawa di saat yang bersamaan.
Membaca buku ini sekaligus memberikan warna baru dalam referensi bacaanku yang selama ini lebih banyak dengan buku-buku sastra yang lebih rumit. Bahasa yang lebih cair dan lugas, tentunya memberikan citarasa baru dalam kekayaan bahasa yang aku miliki.
Jakarta, 261007
On Cloudy Afternoon…
Friday, October 19, 2007
Dongeng Sindhunata dalam "Putri Cina"

Saat libur lebaran kemarin, akhirnya aku mampu menyelesaikan satu buku. Judulnya "Putri Cina" karya Sindhunata. Seperti buku-buku sebelumnya, aku sangat terhanyut dengan caranya mendongeng yang menurutku luarrr biasa atraktif. Masih ingat "Anak Bajang Menggiring Angin"? Sebuah karya luar biasa, yang saat ini telah dinobatkan sebagai karya klasik. Dari buku itulah pertama kali, aku berkenalan dengan kedahsyatan kata-kata yang dirangkai oleh Sindhunata.
Buku ini intinya bercerita tentang perlakuan tidak adil yang dialami etnis Cina di Indonesia. Di latar belakangi peristiwa Mei 1998, karya ini dibumbu dengan peristiwa sejarah, dan mitos yang berkembang di tanah Jawa yang melintasi batas waktu.
Dalam karya ini, kita dibawa dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, yang dirajut indah dengan mitos-mitos yang berlindan di dalamnya. Ini tak mengherankan, karena sejarah Jawa selalu penuh dengan bumbu mitos. Penyebabnya sejak lama, sejarah Jawa lebih banyak diturunkan melalui komunikasi lisan. Kedua, masyarakat Jawa lebih suka menggunakan perlambang untuk menyampaikan sesuatu. Makanya banyak orang mencirikan orang Jawa sebagai plintat-plintut dan gak tegas.
Novel ini juga unik, karena menggabungkan dongeng dari negeri Cina dan Jawa. Yang membuatnya menjadi sesuatu yang unik, dan baru untuk pengetahuanku yang sangat terbatas tentang banyak hal.
Jakarta, 191007
Bentarrr lagi pulang...
