Showing posts with label My Thinkin. Show all posts
Showing posts with label My Thinkin. Show all posts

Monday, July 14, 2008

IIMS 2008 dan Saatnya Berlomba Branding..

Hari jumat kemarin, diundang oleh Toyota Astra Motor, pada pameran Indonesian International Motor Show (IIMS) 2008. Pengalaman yang sangat mengasyikkan, karena undangan khusus ini diberikan dalam kapasitas sebagai blogger.

Lalu apa yang menarik dari IIMS? Saya melihat bahwa ajang ini lebih banyak dijadikan sebagai sebuah ajang branding oleh banyak perusahaan. Toyota misalnya dengan sangat cerdas menampilkan I-Real yang diharapkan menjadi pusat publikasi dan bahan pembicaraan . Toyota juga menampilkan mobil Prius, yang belum hadir secara resmi di Indonesia. Namun mulai diperkenalkan kepada publik.

Kehebatan Toyota adalah, mampu menggiring para menteri yang meresmikan acara ini untuk pertama kali mengunjungi stand Toyota, dan mempersilahkan Ibu Marie Pangestu untuk mencoba I-Real. Bayangkan berapa banyak publikasi yang bisa dihasilkan dari sini, karena kehadiran para pejabat tentunya membawa kerumunan wartawan, dan itu berarti publikasi gratis bagi Toyota.


Isuzu, lebih ekstrim lagi dalam urusan branding mereka lebih banyak menampilkan mobil-mobilnya dalam balutan stiker bergambar senyuman anak-anak Indonesia. Ini adalah kerjasama antara Isuzu dengan Unicef. Sepertinya Isuzu ingin dipersepsikan sebagai produsen yang mempunyai keperdulian sosial yang tinggi.


Honda lain lagi, tampil dengan konsep muda dan urban, dimana tembok-temboknya dihiasi dengan pemandangan gemerlap lampu perkotaan, disamping parade mobil-mobil keluaran terbaru dari Honda. Sangat atraktif, dan menarik. Honda juga menampilkan aksi teatrikal, dengan mengangkat tema utama tentang pemanasan global yang saat ini isunya sedang hangat-hangatnya...




Jakarta, 140708
Mengapa Hari Ini Begitu Panas???

Tuesday, May 06, 2008

Dunia yang Damai Ketika Hidup Tanpa Prasangka...

Benarkah kedamaian dimuka bumi ini adalah sesuatu yang mustahil??? Banyak sekali wacana yang telah dimunculkan, banyak sekali usaha telah dilakukan. Kaum liberal berusaha mewujudkan obsesi tentang perdamaian dunia yang abadi melalui Liga Bangsa Bangsa (LBB), setelah meletusnya Perang Dunia I.

Ternyata para penggagasnya mungkin tertunduk dalam frustasi karena lembaga itu hanya bertahan beberapa saat, lalu runtuh akibat Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II, kaum Liberal masih belum putus asa, maka dibangunlah Perserikatan Banga Bangsa yang masih kukuh hingga saat ini, namun apakah ini bisa meredam peperangan? Ternyata tidak!!!

Peperangan masih saja terjadi, walaupun belum memuncak pada seperti halnya dua Perang Dunia sebelumnya. Lalu pertanyaannya apa sih penyebabnya manusia berperang? Ada pendapat yang mengatakan, perang diakibatkan dunia yang terlalu maskulin. Penguasa yang didominasi pria, membuat peperangan terus terjadi. Karena pria dianggap lebih suka menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan.

Ada juga yang berpendapat perang diakibatkan ketamakan atau sumber daya yang terbatas. Alasannya? Manusia menjadi agresif ketika dia harus berebut sebuah sumber daya yang terbatas. Penjajahan Eropa ke Asia dikarenakan terbatasnya pasokan rempah-rempah yang mereka butuhkan.

Lalu apa lagi lainnya? PRASANGKA, yayaya ini juga menjadi penyebab yang paling menyedihkan dari hancurnya peradaban. Seringkali kita terlibat dalam konflik hanya dikarenakan kita mempunyai prasangka buruk.

Perbedaan cara pandang, kebiasaan dan lainnya sering kali berujung pada permusuhan dan peperangan. Indonesia beberapa kali mengalami pertumpahan darah antaretnis karena terjadinya prasangka.

Prasangka akan membakar hati kita, lalu bertemu dengan orang yang merasa senasib. Dan muncullah sikap agresif, yang berujung pada kekerasan. Padahal prasangka itu seharusnya bisa dicegah, kalau ada suatu dialog.

Prasangka muncul karena adanya sumbatan dalam komunikasi. Dan sering kali kita sama-sama tidak tahu bagaimana memulai berdialog dengan orang lain yang berebeda. Kita terkadang merasa diri paling benar, sementara orang lain juga merasa serupa.

Inilah saatnya untuk mampu membuka telinga, belajar mendengar baru berkomentar. Saatnya berempati pada orang lain, baru menuntut untuk dimengerti. Alangkah indahnya dunia ini, apabila semua orang mempunyai sikap seperti ini. Lagi-lagi ini sebuah utopia. Tapi sebuah pergerakan dimulai dari ide, lalu menyebar dari individu ke individu, maka efek bola salju akan bergulir. Begitulah dunia berubah, melalui sebuah langkah yang sederhana...

Jakarta, 060508
I Wish I Can be A Wise Man...

Wednesday, March 12, 2008

PR di Era Web 2.0

Saat ini aku sedang asyik membaca buku yang membahas tentang PR. Salah satu yang ditekankan dalam buku ini, seorang PR harus menjalin hubungan baik dengan media, misalnya company visit, media luncheon dll. Seorang PR juga harus mempunyai hubungan personal yang baik dengan jurnalis, misalnya dengan mengajak jalan bareng dll. Hal itu memang sering juga aku lakukan saat bekerja di Maverick.

Persoalannya sekarang, bagaimana menjalin hubungan dengan para "jurnalis" di dunia internet, yang sering kita sebut blogger??? Banyak blogger yang sangat eksis di Indonesia saat ini adalah para jurnalis sebagai profesi utama.

Namun apakah sama sikap mereka sebagai jurnalis dan blogger? Ternyata sangat berbeda, sebagai seorang blogger mereka lebih nyantai, dan tidak menjaga jarak. Karena mereka memang tidak sedang mewakili media tertentu. Mereka mewakili diri sendiri. Tidak perlu berpikir tentang independensi dan tetek bengeknya. Wong mereka menulis sesuka hati kok.

Nah permasalahannya bagaimana pendekatan yang mesti dilakukan? Aku kok jadi membayangkan suatu saat nanti para PR punya pekerjaan baru, bukan hanya ngajak jalan-jalan para jurnalis, tapi juga mesti ikut ngumpul di acara kopdar para blogger. Karena para blogger itu kan hobi untuk berkumpul, dengan ikut ngumpul informasi yang ditulis oleh blogger bisa lebih dimoderasi.

Tugas berikutnya yang harus juga dilakukan adalah blogwalking dan ikut kasih komentar. Karena ikatan batin blogger terjalin justru dari ajang ini. Pendekatan yang murah meriah, tapi mungkin agak merepotkan. Apalagi bila Anda terbiasa sebagai PR yang jaim, dan terlalu banyak tatakrama...

Jakarta, 120308
Menanti Meeting Berikutnya...

Monday, March 10, 2008

Menarik Konsumen Baru ke Bioskop

Masih seputar film Ayat Ayat Cinta, ada sesuatu yang menarik tentang film ini, selain hujan kritik pada tulisan sebelumnya. Film ini tampaknya sangat sukses untuk membawa konsumen baru yang sebelumnya jarang-jarang, untuk memperhalus kata tidak pernah ke bioskop.

Karena saat kemarin nonton, aku terhenyak dengan kerumunan penonton yang sangat berbeda dari penonton bioskop yang biasa. Bila seringnya kita melihat para ABG funky, ato eksekutif muda, dan keluarga kelas menengah atas. Kemarin aku melihat kelompok lain, yaitu keluarga kelas menengah bawah, dan kata seorang teman apa yang disebut Ibu-ibu pengajian.

Ternyata hal ini dirasakan juga oleh yang lain. Dua orang teman juga memberikan pendapat yang serupa. Jadi disini, aku melihat kehebatan Sang Produser untuk menggaet konsumen baru, merelakan uangnya nonton bioskop. Mereka-mereka yang biasanya cukup puas, duduk manis di depan tv menyaksikan sinetron, atau membeli film bajakan.

Lalu apa yang membuat mereka berbondong??? Aku dapat informasi dari blog rumput teki, film ini menjadi begitu meledak karena ada berita tentang janji Hanung pada ibunya untuk membuat film religius, back up dari Muhammadiyah, molornya jadwal tayang, hingga bocornya film di internet.

Coba kita kupas satu per satu fenomena ini. Janji pada Ibu, sepertinya barang jualan yang gak akan pudar membuat konsumen kita terenyuh. Masih ingatkah dengan Tiara Lestari??? Tiara Lestari sempat membuat kehebohan, karena berani tampil bugil di Majalah Play Boy Spanyol, dan beberapa negara lainnya. Namun publik segera memaafkan Tiara, setelah dia mengaku tobat, karena memenuhi harapan Sang Ibu.

Kedua back up dari Muhammadiyah, tidak perlu diragukan lagi akan membuat kaum Muhammadiyah akan berbondong menuju bioskop. Apalagi film ini memang menampilkan citra Islam yang toleran, dan bersahabat, ditengah stigma yang menganggap Islam itu bergaris keras, dan tidak toleran pada perbedaan.

Pertanyaan menariknya mengapa Muhammadiyah, bukan NU??? Yayaya, NU memang lebih besar dibandingkan Muhammadiyah, tapi jelas Muhammadiyah lebih mudah didekati karena sepaham. Muhammadiyah dikenal sebagai golongan Islam yang lebih moderat.

Ketiga, molornya jadwal tayang, mungkin saja sebuah kesengajaan. Tujuannya agar membuat orang semakin penasaran. Dan juga untuk menghindari persaingan langsung dengan film dengan tema serupa di awal Februari. Ingat Februari adalah bulannya Valentine, sehingga produser berlomba membuat film cinta romantis yang menguras air mata.

Maka sangat menarik kegiatan promosi yang dilakukan. Dibandingkan memasang papan reklame besar-besar di tempat strategis, mereka menggunakan kegiatan PR yang murah dan berefek luas. Untuk eksekusi di lapangan, pada saat hari pertama pemutaran film, Ayat-Ayat Cinta menempatkan orang tertentu untuk melakukan gaya teatrikal dengan membawa papan betuliskan "Ayat Ayat Cinta Mulai Hari Ini". Hmm strategi yang jitu.

Kemudian bocornya film di internet??? Jangan-jangan ini memang kesengajaan??? Karena mungkinkah kita mendownload film secara penuh, dengan koneksi internet Indonesia yang payah??? Bukankah ini justru sangat menguntungkan Ayat Ayat Cinta karena orang semakin penasaran???

Yayaya, walaupun filmnya menurut aku tidak bagus, tetapi ternyata banyak juga yang memuji, dan memuja film ini. Sebagai sebuah film yang sangat menyentuh, seperti halnya seorang pembaca yang memprotes tulisanku sebelumnya. Ini wajar, karena mungkin aku memang bukan konsumen yang ditarget dari film ini. Lalu kenapa aku nonton??? Hehehehe. Jawabannya simpulkan sendiri...

Jakarta, 110308
Pagi yang Cerah...

Wednesday, March 05, 2008

Bermutu atau Laku???

Yayaya, sekarang lagi banyak yang meributkan soal film Ayat-Ayat Cinta. Aku tentunya tidak bisa komen soal filmnya, karena belum sempat nonton. Penyebabnya sudah jelas, karena histeria orang untuk menonton yang luarrr biasa, sehingga aku gak kebagian.

Tapi beberapa orang berkomentar film ni gak bagus-bagus amat. Tapi kok laku ya??? Ini sebenernya adalh pertarungan klasik, antara populer dan bermutu. Selalu dikaitkan bahwa yang populer itu kebanyakan berselera rendah, dan begitu-begitu saja.

Kalo menurutku, itu tergantung bagaimana kita melihatnya. Karena dalam pemasaran memang tidak semua orang membutuhkan yang terbaik, dan bermutu kok. Orang membeli sesuai kebutuhan.

Ada segmen yang memang menyukai barang dengan mutu terbaik, tapi biasanya itu memang sangat terbatas. Lihat musik-musik klasik, jazz peminatnya sangat terbatas, dibandingkan musik Pop. Di sisi lain lihat juga produk bermerek yang sangat berkualitas peminatnya juga sangat sedikit, karena gak semua orang mampu membeli.

Dan beragamnya jenis konsumen inilah yang dilirik oleh pemasar. Jadi ya ndak perlu pusing, dan bertanya-tanya lagih. Kenapa itu yang ndak mutu kok ya banyak penggemarnya???

Jakarta, 050308
Ujan Benerrrrr

Friday, February 22, 2008

Marx, Critical Theory, dan Blogger???


Lalu pertanyaan semua orang adalah, apa hubungannya??? Jadi gini ceritanya, Marx itu menulis tentang keterasingan manusia, akibat kapitalisme. Karena pada saat itu kapitalisme benar-benar memeras tenaga para buruh dengan upah murah, dan jam kerja yang tak terbatas. Makanya Marx menyebutnya sebagai keterasingan manusia, akibat pekerjaan yang memperlakukannya sebagai mesin produksi. Para pekerja yang terasing ini disebut sebagai kelompok yang termarjinalkan oleh sistem kapitalisme.

Kemudian muncullah turunan dari pemikiran Marx, yang dikenal sebagai Critical Theory. Tidak sekeras Marx dalam melihat kapitalisme, tapi masih menyadarkan diri pada pemikiran tersebut. Critical Theory melihat banyaknya kelompok-kelompok yang termarjinalisasi, bukan hanya secara ekonomi, tapi bisa juga secara sosial, budaya, dan lain lain. Inilah yang membedakan dengan Marx, yang hanya berbicara pada aspek ekonomi. Oleh karena itu kita perlu melakukan pemberdayaan kaum yang termarjinalkan ini, begitu menurut Critical Theory.

Lalu bagaimana kaitannya dengan Blogger??? Inilah menariknya, ketika aku diminta untuk mengkonsep acara tentang para blogger untuk peluncuran All New Corolla Altis, aku terinspirasi dengan pemikiran Critical Theory. Jadi sudut pandang yang diambil adalah tentang pengakuan, sesuatu yang sifatnya partisipatif.

Karena selama ini mereka masih dianggap minoritas, kaum yang jarang dilirik oleh kaum mainstream. Kaum mainstream itu misalnya media konvensional yang ada saat ini (misal tv, radio, majalah, koran dll. Padahal para blogger, adalah kalangan yang potensial untuk jadi mesin PR.

Mereka yang berpengaruh di blog, biasanya punya penggemar loyal. Dan tulisannya akan dibaca oleh para penggemarnya. Bedakan dengan media konvensional, betulkah semua kolom di koran dibaca? Apakah semua acara ditonton? Dan hebatnya lagi tulisan di blog bisa memasang link satu sama lain, dan juga mereka akan memasang link ke website Toyota.

Maka jadilah sesuatu yang menggemparkan dunia blogger bahkan sebelum acara, karena pendekatan partisipatif, Anda bisa baca ditulisan Ndoro Kakung, Pak Dewo, Pak Roni, dan Mas Andri.

Dan acaranya alhamdulilah berjalan lancar, dan menuai buzz yang sangat besar gaungnya, lebih dari yang diduga. Akhirnya apa yang aku impikan sebagian tercapai. Aku pengin menggabungkan dunia ide dan filosofis yang rumit dan mengawang, dengan dunia praktis. Selama ini sepertinya dua dunia ini, terdapat jurang yang begitu lebar...

Semoga ini adalah awal yang baik untuk sebuah kesuksesan berikutnya.


Jakarta 220208
Siang yang Cerah,,,

Wednesday, February 13, 2008

Demam Cinta Laura Makin Membara....

"udah ujan,becek,gak ada ojek...." , aku yakin pasti Anda pernah dengar kata-kata ini. Yayaya, itu adalah salah satu kosa kata yang dipopulerkan Si Cinta Laura. Menarik untuk disimak, bukan dari gaya bahasanya yang agak kebule-bulean. Tapi siapa dibalik Si Cinta Laura, yang berhasil menciptakan citra tersebut. Sehingga nama Cinta Laura melesat tajam, dan menjadi pembicaraan dimana-mana.

Bayangkan kutipan kata-kata Cinta Laura itu, masuk ke e-mailku lebih dari 3 kali, dikirim atau di forward oleh banyak orang. Belum lagi pembicaraan di kantor, di seputaran teman-teman gaul, bahkan terakhir aku lihat di status gtalk seorang teman. Wowww luarrr biasa, betapa Cinta Laura dibenci, tapi sekaligus dicinta (tanpa sadar) oleh banyak orang.

Ini menunjukkan beberapa hal menurutku. Pertama, para manajer artis Indonesia makin profesional mengelola "barang dagangannya". Mereka mulai sadar perlunya personal brand dari seorang public figure. Karena di tengah persaingan dunia artis yang sangat ketat, begitu banyak sinetron, begitu banyak wajah baru. Si pendatang baru yang pengin eksis, harus punya sesuatu yang beda. Sesuatu yang layak untuk diperbincangkan.

Kedua, sepertinya dalam memasarkan Cinta Laura, timnya telah melakukan integrated marketing communication. Mereka menciptakan kalimat-kalimat yang aneh, yang terkesan lucu, bodoh, namun menghibur. Misalnya coba lihat kutipan di atas, kutipan itu mempunyai akhiran huruf yang sama hampir di semua kata. Dan ini menurut aku bukan kebetulan belaka.

Ketiga, yang perlu dicermati adalah, internet menjadi alat komunikasi yang luarrr biasa untuk menyebarkan citra tersebut. Bayangkan orang-orang profesional yang tidak sempat nonton infotainment pun, jadi tahu soal Cinta Laura. Dari mana??? Ya dari milis, dan tren yang terpasang di status Mesessenger. Karena orang Indonesia itu terlalu aktip dan ekspresip, jadi statusnya selalu sangat update.

Pilihan Cinta Laura yang bergaya genit dengan gaya agak bule, sangat pas untuk unique selling point (USP) dia, agar segera menarik perhatian publik. Karena apa???

Pertama, dia memang keturunan bule, yang merupakan standar tidak tertulis kalo Anda ingin jadi artis di Indonesia saat ini. Kedua, orang Indonesia menganggap yang agak kebule-bulean itu selalu keren dan oke. Walaupun hampir semua yang membicarakan Cinta Laura, bilangnya benci dan jijik dengan gayanya yang sok bule.

Kita lihat saja, berapa lama tren gaya Cinta laura akan bertahan??? Sebelum orang akan membicarakan public figure lainnya, yang bikin kehebohan baru...


Jakarta, 130208
Sore-sore Mari Kita Jalan-jalan ke Senayan City...

Wednesday, February 06, 2008

Dunia yang Lebih Damai...

Dunia saat ini bukan hanya sedang mengamati perekonomian AS yang sedang batuk-batuk, tetapi juga sedang berharap cemas tentang pemilihan Presiden AS yang akan dilakukan November mendatang. Pemilihan pendahuluan calon Presiden di AS yang sedang berlangsung, menjadi perhatian utama publik dunia. Menariknya, media cetak lebih banyak menyorot persaingan di kubu Partai Demokrat.

Hal ini punya dua alasan, pertama persaingan di kubu ini memang lebih sengit, karena keduanya akan menorehkan sejarah baru di AS, apabila mereka benar-benar menang di pemilu AS, maka mereka akan menjadi presiden kulit hitam pertama, atau presiden wanita pertama. Alasan kedua, sepertinya semua orang sudah percaya 90%, Partai Demokrat siapapun calon presidennya akan memenangkan pemilu AS.

Mengapa? Ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Amerika Serikat. Pemilu Australia juga menghasilkan yang sama, Kevin Rudd dari Partai Buruh memenangkan pemilu yang baru berlangsung tahun lalu.

Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia mempunyai paradigma yang hampir serupa, mereka lebih menyukai perdamaian, harmonisasi, dan pendekatan damai dalam mengatasi konflik. Ini bila kita melihatnya dari sisi kebijakan luar negeri.

Tampaknya, pendulum sedang bergerak ke arah sebaliknya. Karena selama ini rakyat mulai jenuh dengan berbagi konflik di berbagai belahan dunia. Misalnya konflik di Irak, yang hingga kini belum juga usai. Di mana AS dan Australia ikut bertanggung jawab. Implikasi perang Irak ternyata sangat meluas, karena terorisme kemudian menyebar ke berbagai negara.


Jakarta, 060108
On Blogging Mode On

Consumer Insight Via Internet

Internet, satu kata yang telah banyak membawa perubahan dalam perilaku manusia dalam berbagai aspek, termasuk bagaimana konsumen menyuarakan pendapatnya. Era internet membuat perusahaan tidak bisa lagi meredam berita negatif mengenai perusahaan atau produk mereka. Karena dengan adanya blog, forum, mailing list, web 2.0 yang interaktif, semua orang bisa menyuarakan pendapatnya.

Namun di sisi lain, ada sisi positifnya juga. Para pemasar akan lebih mudah mengintip benak konsumennya. Mereka bisa bergabung di forum-forum, ikut dalam milis-milis, lalu juga blog walking untuk mengetahui apa sih sebenarnya yang diinginkan oleh konsumen, dan bagaimana persepsi konsumen tentang produk mereka.

Karena di sanalah konsumen yang mempunyai minat yang sama berkumpul, dan saling bertukar pandangan. Namun sayangnya, beberapa pemasar yang konservatif masih menganggap kehadiran forum, mailing list, dsb, sebagai sebuah momok yang menakutkan, karena mereka takut nanti isinya keluhan semua. Dan bisa-bisa kena damprat dari bos.

Tapi bukankah lebih bagus, bila kita segera mengetahui keluhan dari konsumen. Keluhan yang terdeteksi di awal akan lebih mudah ditangani. Bayangkan bila keluhan itu hanya beredar di seputaran konsumen, dan tidak segera terendus pemasar.

Keadaan baru terendus setelah konsumen lari ke pesaing, dan tentunya ini akan lebih sulit untuk ditanggulangi. Oleh karena itu, pemasar harusnya lebih terbuka, dan berpikir positif atas setiap perkembangan yang terjadi. Kehadiran internet bisa jadi mimpi buruk, atau peluang, tergantung bagaimana menyikapinya.

Jakarta, 060108
Hari yang Mendung...

Monday, February 04, 2008

Siapakah Konsumen Internet Berikutnya???

Tahun lalu, terjadi peningkatan tajam pengguna internet di Indonesia, menjadi 25 juta, naik sekitar 39% dibanding tahun 2006 yang mencatatkan 18 juta pengguna. Nah tahun ini diprediksikan akan terjadi peningkatan yang tajam juga untuk pengguna internet di Indonesia. Lalu pertanyaannya, seperti apakah profil pengguna internet yang baru ini???

Karena menurut aku, selama ini karakteristik pengguna internet di Indonesia adalah kaum urban, kelas menengah atas, dengan pendidikan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beruntung karena mempunyai akses internet dari kantor, sekolah, atau fasilitas publik lainnya.

Hal yang perlu diantisipasi ke depan adalah koneksi yang semakin murah, dan infrastruktur penunjang yang makin memadai, menyebabkan semakin beragamnya karakter konsumen yang akan mengkonsumsi internet. Karena internet akan menjangkau kalayak yang lebih luas.

Inilah gambaran beberapa tipe konsumen yang akan menjadi konsumen berikutnya, dan bagaimana implikasinya pada pengembangan website:

Anak-anak

Mereka adalah konsumen potensial berikutnya dari internet, terutama anak-anak di perkotaan. Saat ini jangan kaget lagi apabila anak-anak berumur 3-4 tahun, sudah terbiasa berkirim e-mail, dan sebagainya.

Implikasinya, seharusnya ada website khusus yang ramah pada anak-anak, misalnya menampilkan desain dengan warna-warna cerah yang kontras, kemudian lebih banyak menonjolkan gambar dibandingkan huruf, dan dari segi isi juga harus lebih banyak menampilkan isi yang mendidik misalnya dongeng, pesan moral dan sebagainya.

Orang Kaya di Daerah

Mereka adalah konsumen potensial berikutnya, mereka punya daya beli yang kuat, tapi mungkin selama ini belum terjangkau internet. Karena seperti biasa, teknologi selalu berkembang pertama kali di kota besar, baru kemudian meluas ke berbagai daerah.

Implikasinya, para pengembang website harus bisa memenuhi selera mereka akan sesuatu yang berbau Jakarta, karena yang terjadi di Jakarta sering kali dianggap sebagai trend setter. Kedua, kebanyakan dari mereka tidak punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus, oleh karena itu pembuatan website harus menggunakan bahasa Indonesia, bukan hanya dari sisi isi, tetapi juga menu.

Orang Tua

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka mau tak mau orang-orang tua yang mungkin telah berusia 50 tahun ke atas, mau tak mau akan terseret ke dunia internet. Mereka akan dipaksa oleh jaman, untuk menggunakan internet. Misalnya untuk berkirim e-mail dengan cucunya, berkomunikasi lewat YM dll.

Lalu implikasinya adalah website yang bukan hanya harus berbahasa Indonesia, tapi juga menampilkan menu yang mudah navigasinya, dan jangan terlalu banyak menu. Mengingat mereka adalah generasi yang melompati zaman, mengapa??? Generasi tua di Indonesia kan jarang sekali yang mengenal komputer. Generasi yang lebih muda lebih gampang menggunakan internet, karena mereka telah paham betul logika komputer yang sejak lama mereka kenal.

Satu lagi yang perlu diperhatikan, penggunaan huruf dengan font yang besar, mengingat penglihatan mereka sudah tak setajam generasi muda. Ini sebenarnya juga terjadi dengan para generasi tua yang menggunakan Hand Phone. Mereka tidak cari HP yang neko-neko, yang penting bisa telpon dan sms, dan yang paling penting dari semuanya tombolnya gede-gede...

Ada yang mau menambahkan lagi???



Jakarta, 040208
In The Morning Passion

Friday, February 01, 2008

Koran Tempo Makin Memperkuat Positioning...

Hmmm semalam agak terkejuttt, karena aku dengar promo di Indika FM, untuk acara Club Hopper (Acara clubbing berkeliling di klub-klub kenamaan di Jakarta, dengan Dj-Dj yang nendang), Koran Tempo disebut sebagai media partner.

Ini mengejutkan karena ini baru pertama kalinya, aku dengar sebuah koran nasional mau menjadi partner untuk acara beginian. Ini sangat tepat, karena selama ini Koran Tempo ingin melakukan positioning sebagai korannya kaum muda urban yang gaul, dan smart.

Kehidupan malam, saat ini bukan hanya diliat dari sisi negatif, tapi sebagai gaya hidup bagi para eksekutif muda, terutama di kota-kota besar. Inilah yang aku sebut sebagai branding yang konsisten. Selalu berdekatan dengan hal-hal yang menjadi kegemaran pelanggan potensialnya.

Sayangnya hingga saat ini, sistem distribusi Koran Tempo masih sangat payah. Padahal koran bukanlah barang yang sangat istimewa, sehingga orang rela menunda pembelian bila tidak tersedia di suatu tempat.


Jakarta, 010208
Eh Hujan Kok Lebat Aje...

Thursday, January 31, 2008

Rame-Rame Melirik Para Blogger

Sepertinya saat ini dunia blogging semakin menggairahkan. Kalau dulu blog, dianggap sebagai temapt curhat, saat ini banyak sekali blog yang membahas tema-tema khusus. Para blogger membuat blognya dengan sangat profesional, karena ini adalah bagian dari personal branding, agar menjadi seleb di dunia blog.

Apalagi saat ini makin banyak orang yang terhubung ke internet dan gemar mengunjungi blog. Jadi makin terkenallah para penulis blog. Nah ini kemudian menarik banyak perusahaan untuk memasang iklan di blog, atau melakukan kegiatan kampanye pemasaran dengan melibatkan para blogger.

Hmmm tak menyangka, aku dulu memulai ngeblog tidak pernag membayangkan blog akan sesemarak sekarang ini, tampaknya aku memang kurang visioner dalam kasus ini hehehe. Tapi salutlah buat para blogger yang blognya menjadi favorit banyak orang, dan pada akhirnya banyak dilirik oleh para pemasar.

Ini semua baru awal, ke depan peran blogger akan semakin besar sebagai corong perusahaan untuk memasarkan blognya ke publik. Alasannya, akan semakin banyak blogger yang menulis dengan sangat profesional, dan serius mempromosikan blognya. Kedua, harga laptop, dan koneksi internet yang makin murah membuat browsing bukan lagi menjadi barang mewah.

Suatu saat nanti mungkin tema-tema soal bagaimana menanam padi yang benar, akan juga muncul di dalam blog. Kalo selama ini kan hanya tema-tema kaum urban yang muncul. Ya karena hanya golongan inilah yang mampu menikmati koneksi internet saat ini.


Jakarta, 310108
Menjelang Makan Siang...

Tuesday, January 29, 2008

Apa Kabar Detik.Com???

Tampaknya belakangan ini, kompetisi di portal berita makin memans. Kompas baru saja meluncurkan mega portalnya, yang menurut aku sangat mencengangkan. Lalu aku buka juga Okezone.com, wowww ternyata sekarang tampilannya juga lebih menarik. Lalu, apa kabar dengan Detik.com???

Selama ini Detik.com selalu dijadikan kiblat untuk portal berita, karena dianggap paling update. Tapi sejak lama memang aku gak suka dengan Detik, soalnya acak-acakan, sementara portal berita yang lain sangat tidak update. Ya akhirnya, jarang sekali update berita dari internet.

Tapi kemunculan Kompas.com yang trendi dan selalu update, membuat aku berubah menjadi lebih sering update berita lewat internet. Karena Kompas.com jauhhh lebih bagus dalam penataan desain, sehingga memudahkan pembaca dan update pastinya. Tampaknya Kompas sadar bahwa dunia sedang dan akan berubah dengan cepat. Mereka segera meredefinisi dirinya sebagai perusahaan yang bergerak di bidang media dan penyedia informasi, bukan terkungkung dalam paradigma bisnis mereka adalah media cetak.

Kompas yang selama ini dipersepsikan uzur, sedang berbenah dan berdandan, sedot lemak sana sini, agar terlihat lebih langsing, muda, dan menggairahkan, serta yang pasti selalu relevan dengan jaman. Nah sekarang tinggal melihat, apa yang akan dilakukan Detik.com selanjutnya??? Apakah mereka akan mempertahankan singgasananya sebagai pemimpin di dunia online dengan inovasi baru, atau semakin kalang kabut, dan tersingkir oleh para raksasa media???

Kita lihat saja pertarungan menarik ini...


Jakarta, 290108
Pagi-pagi...

Monday, January 28, 2008

Komunitas Esia

Sudah sebulan lebih sedikit aku pakai HP CDMA Esia. Alasannya sederhana saja, karena aku butuh komunikasi murah. Pertimbangan lain, temanku paling banyak ya pake Esia, untuk komunikasi murah.

Dan tadi pagi, aku di sms lagi seorang teman, yang memberitahukan nomor baru Esia-nya. Hmmm makin ramai ajah jagad di sekelilingku yang pake Esia. Dan aku makin senang, karena bisa ngerumpi dengan lebih murah ke lebih banyak orang hehehe.

Di sini aku melihat sesuatu yang menarik. Esia sebenarnya bukan menawarkan harga yang paling murah, karena Flexi memberikan harga yang lebih murah, tapi kenapa orang malez pake Flexi.

Pertama, karena saat ini Esia sudah booming, kalo pake Flexi ya ndak ada guna (maklum tarif murah biasanya adalah antaroperator sejenis). Kedua, Esia menawarkan paket bundling bekerjasama dengan pabrikan Handphone, sehingga dapat menawarkan harga yang sangat menggiurkan di tangan konsumen. Ketiga, Esia untuk menjaga loyalitas pelanggannya, banyak bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk memberikan diskon khusus.

Keuntungan-keuntungan tersebut pada akhirnya membuat pelanggan semakin loyal pada Esia, dan tidak mudah tergiur pindah ke provider yang lain walaupun menawarkan harga yang lebih murah.

Dan yang pasti saking cintanya dengan Esia, aku menjadi brand missionary buat Esia. Semua orang aku dorong untuk pake Esia, tujuannya sederhana biar bisa telponan lebih murah kalo sesama Esia.

Jakarta, 280108
Sore-sore...

Kematian Soeharto...

Aku adalah termasuk orang yang telat tahu kalo Pak Harto sudah meninggal. Tahunya baru kemarin malem dikasih tahu teman, maklum soalnya gak punya TV. Jadi arus informasi agak tersendat hehehe.

Yang membuat aku terkejut, ternyata masih banyak sekali masyarakat yang mendukung Soeharto. Menganggap beliau adalah pahlawan bagi Indonesia. Dan ini bukan hanya dilontarkan oleh generasi tua, yang hidup di era kemakmuran ekonomi pemerintahan Soeharto, tapi juga generasi muda Indonesia. Tolok ukurnya adalah komentar beberapa teman di kantor, dan juga komentar pembaca di Kompas.com, dan berbagai variabel lainnya.

Menurut aku ini adalah hak masing-masing orang, untuk memberikan penilaian. Tapi tetap saja, aku tidak terima kalau Soeharto dianggap pahlawan. Indonesia yang porak-poranda sistemnya, adalah akibat kepemimpinan Soeharto. Indonesia juga harus menanggung hutang luar negeri yang luar biasa besar, akibat Soeharto.

Aku kurang ngerti, apakah bangsa ini kurang kritis dalam memahami suatu masalah. Atau kita memang bangsa yang pemaaf, dan mudah lupa??? Yayaya apapun sebutannya, Soeharto sekarang telah berpulang, lalu bagaimana dengan kasus hukumnya???? Apakah kemudian semua kasus akan ditutup begitu saja??? Sehingga para koruptor akan merasa bahwa bila meraka korupsi, ahhhh paling juga dimaafkan....

Yayaya ini hanya sekedar opini yang melawan arus orang-orang yang mencintai Soeharto.


Jakarta, 280108
Saat Semua Heboh Dengan Pemakaman Soeharto

Friday, January 25, 2008

Mengubah Paradigma...

Beberapa hari yang lalu, di Rotaract Reguler Meeting aku mendatangkan Duta ASEAN 2007. Ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan, dari presentasi mereka tentang misi kebudayaan ke Eropa akhir tahun lalu. Yang menarik adalah kesimpulannya, "Seenaknya negeri orang ,tetap lebih menyenangkan hidup di Indonesia. Hmmm kalimat yang klasik. Satu sisi memang keren, menunjukkan nasionalisme yang tinggi.

Tapi aku kok melihatnya dari sisi lain. Itu menunjukkan kita lebih suka dengan kenyamanan yang kita miliki saat ini, sehingga enggan untuk bergerak maju. Karena logikanya begini, biasanya kaum perantau akan lebih sukses dibandingkan mereka yang hanya berkutat di tempat asalnya. Lihatlah bagaimana orang-orang India dan Cina, mereka maju karena mereka punya keberanian luarrrr biasa untuk meninggalkan negerinya, dan bertahan di negara baru yang mungkin jauhhh sangat berbeda dari negeri asalnya. Makanya negaranya juga maju.

Amerika Serikat yang digdaya, itu juga dibangun oleh para perantau dari seluruh dunia. Pada awalnya AS dibangun oleh kaum imigran dari Eropa yang mencari penghidupan yang lebih layak, karena pada saat itu Eropa sedang babak belur dengan kemiskinan, perang suadara, dan wabah penyakit.

Dari dalam negeri, kita bisa lihat. Jakarta dikuasai oleh para perantau dari berbagai daerah, misalnya dari Minang, Padang, Jawa. Umumnya pemegang kekuasaan dalam berbagai bidang yang kelompok ini.

Pertanyaannya kemudian, mengapa??? Ya karena para perantau harus bekerja lebih keras agar mereka bisa diterima dan diakui. Mental mereka juga lebih kuat, karena mereka meninggalkan zona nyaman.

Lalu balik lagi ke pertanyaan awal. Apakah pernyataan, "Seenaknya negeri orang tetap lebih menyenangkan hidup di Indonesia", masih relevan untuk menunjukkan nasionalisme???

Menurutku, harusnya ada revolusi paradigma. Marilah kita belajar merantau ke negeri lain, belajar dan berusaha hidup di luar negeri. Berusaha beradaptasi, dan bertahan, lalu seandainya memang ingin membangun negeri tercinta, kembalilah saat kita telah menjadi pemenang, dan mempunyai banyak bekal ilmu untuk dibawa pulang.

Atau mungkin ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk negeri ini, tanpa harus berada di Indonesia. Ada banyak jalan ke Roma, dan ada banyak cara menunjukkan sikap nasionalisme. Saatnya kita membuka cakrawala lebih luas lagi...


Jakarta 250108
Tertatih Berpikir Nasionalisme...

Tuesday, January 22, 2008

Otomatis Romantisss Massss

Beberapa hari yang lalu kebetulan seorang teman mengajak nonton premier film "Otomatis Romantis". Jelas ajah aku gak menampik tawaran inih, secara aku suka gratisan, kedua aku mang penasaran dengan film ini. Dan ternyata memang filmnya tidak mengecewakan.

Film yang ditulis oleh Monty Tiwa ini berkisah tentang seorang Boz, yang jatuh cinta dengan pegawainya. Hal ini menjadi biasa ajah, seandainya boz-nya cowok, tapi disini boznya justru cewek.

Film ini menjadi menarik karena ada sebuah isu baru yang mencuat. Bahwa perempuan bisa punya kuasa lebih besar dari pria. Film ini hanyalah menangkap dengan apik realitas saat ini.

Film ini juga mengangkat banyolan dan isu-isu yang sangat lokal. Misalnya tentang si tokoh utama yang dikejar-kejar, kapan kawin??? Karena orang tuanya yang Jawa totok, takut anaknya jadi perawan tua, kalo sudah menginjak umur 30 tahun.

Satu hal yang menjadi catatan khusus, adalah ciri khas lainnya bahwa alur cerita selalu terselesaikan dengan mudah, dan terkadang terlalu berlebihan. Mengapa semuanya serba kebetulan... Itu juga cerminan dari bangsa ini, yang memang suka hal yang instan, dan menganggap segalanya adalah proses kebetulan.

Monday, January 14, 2008

Aku Cinta Bahasa Indonesia...

Perasaan sedih kembali mengusik, kemarin seorang teman berkomentar, "Yah kok pake Bahasa Indonesia?". Sebuah nada yang mungkin sedikit merendahkan, karena menu di HP-ku sengaja kupilih dengan Bahasa Indonesia. Apakah yang salah dengan Bahasa Indonesia???

Komentar itu hanya salah satu, dari banyak keprihatinan yang kurasakan pada generasi muda Indonesia. Mereka menganggap bahwa Bahasa Inggris lebih keren, dibanding dengan Bahasa Indonesia, sehingga mereka berusaha sebanyak mungkin memakai Bahasa Inggris dalam berbagai kesempatan.

Coba tengok anak-anak kecil di kota besar yang bersekolah di sekolah internasional. Kebanyakan dari mereka gak bisa berbahasa Indonesia, tapi Bahasa Inggris-nya lancar. Lalu akan jadi apakah nasib bahasa kita???

Justru saat ini, aku membuat gerakan disiplin diri untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Setiap menulis, selalu berusaha mencari padanan dalam Bahasa Indonesia, seminimal mungkin menggunakan istilah bahasa asing.

Sebuah gerakan memang harus dimulai dari diri sendiri, sebelum bisa ditularkan pada orang lain. Karena bangsa ini butuh sosok tauladan, bukan orang yang hanya bisa berbicara. Nah semoga gerakan kecil ini, membawa aku pada jalan yang benar.


Jakarta, 040108
Meratapi Krisis Identitas Bangsa

Friday, December 07, 2007

Kemajuan Teknologi dan Perubahan Perilaku...

Beberapa hari yang lalu, aku menerima forward sms dari seorang teman. Isi sms-nya adalah undangan pernikahan teman semasa kuliah di MM UGM. Lalu aku berpikir, betapa hebatnya teknologi sehingga mengubah perilaku manusia, dan menerobos kebiasaan dan tata krama lama yang telah terbentuk.

Bagi orang-orang segenerasi denganku, hal ini mungkin biasa saja. Undangan pernikahan yang hanya dikirim via sms, dan bukan dari Sang Pemilik Hajat pula. Coba bayangkan bila sms ini dikirim ke generasi Bapakku, atau gak usah terlalu jauh, misalnya generasi yang 10 tahun lebih tua dari aku?

Aku sangat yakin, mereka akan marah-marah, dan gak akan datang. Bagi generasi mereka, undangan itu harus bersifat formal, harus ada undangan resmi dalam bentuk cetakan. Atau mungkin kalau dia golongan terhormat, orang tersebut diminta langsung oleh Sang Pengundang dengan berkunjung atau "sowan" dalam istilah bahasa Jawa. Golongan ini mana mau datang, bila tidak ada undangan yang benar-benar personal ditujukan ke mereka.

Ini sangat berbeda dengan generasi baru yang lebih mengutamakan kepraktisan, dan melek teknologi. Undangan pernikahan tidak perlu dikirim dalam bentuk fisik. Penyebaran undangan melalui mailing list, sms, bahkan seperti yang aku terima via forward sms dari sesama teman, itu juga bukan masalah.

Tipa generasi memang berbeda. Dan sangat menarik melihat perubahan perilaku konsumen dari waktu ke waktu. Selamat datang di era kepraktisan dan candu teknologi.


Jakarta, 071207
Menulis Pagi-Pagi...

Friday, November 30, 2007

Pekerja Bukanlah Mesin Produksi...

Ada sebuah wacana yang menarik, benarkah pekerja hanya mesin produksi??? Hari gini masih berpandangan seperti itu??? Bersiaplah ditelan jaman. Karena saat ini pekerja lebih pintar, dan tahu akan hak-haknya. Oleh karena itu, jangan pernah menganggap pekerja hanyalah mesin tak berperasaan yang bisa diperas, dan dimaksimalisasi, lalu dibuang setelah tak dibutuhkan.

Ini adalah era dimana pekerja mempunyai kebanggaan yang tinggi, dan tahu berapa mereka pantas dihargai. Dan ingat penghargaan bukan hanya masalah uang, tapi juga penghargaan lainnya, misalnya pengakuan, apresiasi, dan perlakuan layaknya manusia yang mempunyai harkat, dan martabat.

Orang-orang yang mengalami frustasi karena diperlakukan secara tidak baik, bukan hanya akan meninggalkan perusahaan. Tapi mereka dengan kekuatannya, mampu menggoyahkan jalannya perusahaan.

Maka berhati-hatilah menjadi seorang manajer. Anda dituntut untuk menjadi seorang pemimpin yang dihormati, dan didengar. Bukan hanya seorang manajer yang ditakuti. Karena penghormatan membuat orang menjadi loyal, tapi ketakutan kadang akan menyulut dendam, dan anarkisme.

Jadi sapa bilang jadi pemimpin itu gampang???


Jakarta, 30 November 2007
Morning with Reflection