Liburan lebaran adalah saat yang paling menyenangkan. Karena saat inilah aku bisa berkumpul bersama Bapak, Adik, keluarga besar, dan juga teman-teman lama. Ada sebuah tradisi di keluarga kami, untuk bepergian ke tempat wisata di hari ketiga Lebaran.
Hari pertama biasanya diisi dengan berkunjung ke keluarga dekat untuk bersilaturahmi, dan bermaaf-maafan. Lebaran kedua, biasanya diisi dengan acara halal-bihalal keluarga besar. Nah di hari lebaran ketiga, saatnya kita berlibur ke tempat wisata.
Tahun lalu, kami pergi ke pemancingan. Pemancingan adalah tempat favorit, karena disana kita bisa berkumpul dalam suasana santai, dan penuh keakraban. Pagi-pagi benar semuanya sudah bersiap. Kita biasanya pergi beramai-ramai satu keluarga besar. Untung kita pakai Kijang, jadi bisa muat banyak.
Biasanya kalo acara liburan begini, bukan hanya keluarga inti yang ikutan. Ada nenek, tante, om, sepupu, keponakan, semuanya ikutan deh. Biasanya kita pergi dengan beberapa mobil, tentunya mobil Kijang kesayangan gak pernah ketinggalan.
Soalnya Kijang kan bisa muat banyak orang, terus gak terlalu ribet kalo jalannya gak rata. Kalau bawa mobil sedan wahhh bisa kacau, takutnya terjebak di lobang, soalnya kan bodinya lebih pendek.
Satu lagi enaknya naik Kijang, bisa rame-rame semobil, jadi sepanjang perjalanan bisa sambil ngerumpi-ngerumpi dan nyanyi-nyanyi. Maklumlah semua orang kan sibuk dengan kerjaan, sekolah, kuliah dll. Belum lagi tempatnya mencar-mencar di berbagai kota.
Saat liburan lebaran adalah saat untuk berkumpul dan berbagi cerita. Setiap momen menjadi sangat berarti. Kijang dengan ruang yang lega, dan kapasitas yang besar sangat pas untuk menambah kehangatan diantara kami.
Terima kasih Kijang, berkat Kijang, liburanku menjadi lebih bermakna….
Jakarta, 050608
On The Shiny Day
Thursday, June 05, 2008
Libur Lebaran…
Friday, September 28, 2007
Surat untuk Ibu
Jakarta, 28 September 2007
Untuk:
Ibuku di Sebuah Negeri yang Tenang
Dear Ibu,
Ibu tanpa terasa dua tahun sudah dirimu meninggalkan dunia ini. Tepatnya 30 September 2005, terakhir kali kumenyaksikan dirimu menarik napasmu yang terakhir kalinya. Dan kini, dua tahun kemudian semua telah banyak berubah...
Saat itu, kau selalu sibuk mempersiapkan pesta kesuksesan kami,anak-anakmu. Dan sayang sekali engkau tak bisa menikmatinya. Kini aku telah bekerja, hidup di atas kakiku sendiri, begitupun adik. Hmmm, alangkah bahagianya bila kita masih bersama-sama.
Aku belum memenuhi janjiku untuk membelikan baju-baju mahal,dan bermerek untukmu Ibu. Karena engkau terlanjur pergi, saat aku belum bisa berbuat apa-apa. Kadang aku menangis tersedu bila mengingat semua itu. Apalagi hari-hari sekarang ini mendekati lebaran, hatiku semakin miris adanya.
Tapi tak mengapa, aku yakin dirimu selalu melihat dari atas sana. Dan kau selalu seperti dulu tersenyum haru melihat setiap langkah kesuksesan yang diraih oleh anak-anakmu. Aku selalu mendoakan semoga jiwamu tenang di alam sana. Aku yakin kau lebih bahagia dari sebelumnya, karena engkau pantas mendapatkannya.
Jakarta, 280907
Malam yang Sunyi
Sunday, January 07, 2007
Sementara Yang Lain Sibuk Mule Bekerja…
Kadang-kadang aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Hmmm kok aku jarang ya nulis tetang teman-temanku di MM UGM??? hehehe. Makanya kali ini aku mo nulis tentang mereka deh.
Hmmm, bersyukur juga sampe detik ini aku mendengar banyak berita bagus dari mereka. Beberapa orang teman yang baru lulus, sudah banyak yang mendapatkan pekerjaan. Bayangkan wisuda aja belum, tapi mereka udah laris manis ajah hehehe.
Ini jelas paradoks di tengah, pengangguran di Indonesia yang mencapai 11 juta lebih. Semoga semua teman-temanku menjadi orang-orang yang hebatlah di masa depan. Sebagian besar juga bekerja di Jakarta, semoga saja kita masih sempat ngumpul-ngumpul bareng. Buat networking, dan bertukar pengalaman.
Berdasarkan pengalaman yang lalu, sebagian besar temanku menghilang setelah ditelan rutinitas pekerjaan. Aku berharap aku tidak termasuk dalam golongan itu. Aku harus bekerja, tapi teteuppp dong harus menikmati hidup. Kalo hidup hanya mengabdi pada rutinitas, mo jadi apa dunia ini hihihi.
Karanganyar, 221206
Semakin Banyak Burung Merantau
Ternyata 2006 tampaknya menjadi tahun yang penuh kabar gembira, bahkan di hari-hari terakhir menjelang tahun ini ditutup. Kabar terakhir yang baru kudapatkan tadi, seorang temanku mendapatkan beasiswa dari ADB untuk kuliah di Australia. Selamat ya mbok Dian…
Dia adalah teman dekatku selama kuliah S1. Aku sengaja manas-manasin dia beberapa bulan belakangan ini, bila ada berita teman-teman kita yang bakal berangkat kuliah dengan beasiswa. Dan ternyata resep itu manjur juga...
Aku tidak ingin apapun darinya, selain melihat teman-temanku maju... Alangkah senangnya bila semua orang dsekitar kita berprestasi. Aku kok gak pernah merasa tersaingi tuh, malah semakin termotivasi.
Kalo mereka sukses kan aku juga bisa belajar dari dia... Gimana mereka bisa sukses, apa yang mereka lakukan. Hidup ini kan harus saling membantu, dan memotivasi sesama teman.
Ayoooo teman-teman, kibarkan semangat HI UNPAD yang selalu agresif dan pantang tidak manfaatin berbagai peluang hehehe. Tapi memang benar, di mana kita berkuliah akan membentuk karakter kita, tanpa disadari.
Bayangkan saja, untuk tahun 2007 nanti akan ada dua orang temanku seangkatan di HI UNPAD 99 yang akan kuliah S2 di Australia dengan beasiswa. Semoga teman-teman yang lain akan segera menyusul...
Karanganyar, 221206
Friday, December 15, 2006
Dua Tahun Dalam Dunia Blog…
Tak terasa bulan ini telah memasuki tahun kedua aku menorehkan guratan dalam blog. Dua tahun bagiku bukanlah waktu yang singkat, karena mempertahankan stamina bukanlah perkara yang mudah.
Selama dua tahun aku menulis. Aku telah menjadi saksi bermunculannya blog-blog baru milik teman-temanku. Namun di saat yang sama, aku menjadi saksi tak sedikit yang kemudian layu, dan tak terurus lagi...
Satu hal yang paling sulit di dunia ini adalah masalah konsistensi... Beberapa orang mungkin sangat bersemangat di awal, tapi semangat itu ternyata hanya bertumbuh untuk beberapa saat, dan tak lama kemudian tenggelam. Lalu aku belajar, sangat bersyukur aku dianugerahi Tuhan dengan stamina yang sama sepanjang untuk apa yang aku lakukan.
Dalam perjalanannya, aku bukan hanya mendapatkan teman-teman baru. Aku juga secara tak langsung menginspirasi beberapa teman belajar menulis, dan membuat blognya sendiri.
Dan jasa yang paling mutakhir dari blog ini adalah blogku mempunyai andil hingga aku memperoleh pekerjaan. Kenapa??? Karena sebentar lagi aku bekerja di dunia PR, dimana keahlian menulis menjadi salah satu modal. Dalam surat lamaranku aku mencatumkan blogku, dan ternyata ini menjadi salah satu yang dipertanyakan saat wawancara. Berarti mereka tertarik dengan blogku bukan???
Ini memang tidak terlalu mengagetkan. Karena sejak lama aku menyadari bahwa blog ini akan menjadi semacam portfolio hasil karyaku. Dan berbagai tujuan lainnya. Mungkin terkesan janggal, di tengah orang lain membangun blognya dengan tujuan yang sederhana.
U know that I always be complicated, and some others say too ambitious… Finally I hope, I will still write the celebration for the years that will come.
Yogyakarta, 151206
Monday, November 20, 2006
Tunggu Denias Sekolah Mama…
Ini adalah penggalan dialog film “Denias”, ketika ia menangis tersedu-sedu dihadapan mayat ibunya. Kontan saja, aku tak sanggup mencegah lelehan air mata yang berhamburan. Aku teringat kembali saat-saat terakhir aku melihat ibuku terbaring lemah menahan sakit…
Yayaya, mungkin peristiwa ini telah berulangkali kutulis di blog ini. Tapi rasanya aku tak pernah puas, dan ingin terus menuliskannya. Karena itu adalah momen yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidup...
Saat di mana aku akhirnya merelakannya untuk pergi selamanya... Saat aku benar-benar ikhlas melepas beliau, karena aku tak tahan lagi melihat penderitaan yang harus ditanggungnya. Dan tak lama kemudian beliau menghembuskan napas terakhir...
Aku seperti halnya Denias, hanya menginginkan hal sederhana. Aku ingin ibuku menanti hingga aku menamatkan masterku. Aku ingin beliau ada saat aku merayakan kemenangan itu. Tapi apa mau dikata. Takdir tak mungkin dilawan. Beliau telah berjuang sekuat tenaga, tapi kuasa Tuhan berkata lain.
Lalu seperti halnya Denias, aku melalui satu tahun belakangan ini dengan penuh semangat menyelesaikan kuliahku demi Ibu. Denias berkata, ia ingin bersekolah demi Sang Ibu di Surga. Aku pun sama, aku bersemangat menyelesaikan kuliahku demi Ibu.
Karena Ibu bercita-cita agar anaknya sukses dan jadi ”orang”. Ibu kini sebagian impianmu telah tercapai. Namun perjalanan masih panjang. Impian Ibu melihatku menjadi ”orang”, masihlah jauh. Banyak jalan terjal yang harus kuhadapi di depan Ibu...
Tapi demi mengingatmu, aku akan tetap bersemangattt!!! Walaupun aku harus berdarah-darah, dan seberapapun mahalnya biaya kesuksesan itu, aku rela membayarnya demimu Ibu... Di saat aku lelah, dan linglung, kala aku kehilangan semangat, maka aku akan mengingatmu...
Kata-kata yang terus kau ucapkan saat kita berbicara berdua. Impian yang kau titipkan padaku, menjadi ajimat yang akan mengalahkan semua ketakutan dan rintangan di depan. Ibu..., kuharap kau sedang berada disampingku kala aku menuliskan ini...
Namun bagaimanapun aku masih lebih beruntung dibanding Denias. Ia ditinggal ibunya saat masih SD, sementara aku sudah hampi meraih gelar S2. Kehidupan dan rintangan yang dihadapi Denias juga jauhhhh lebih berat dari yang aku hadapi. Kalo Denias saja mampu menorehkan sejarah, dan memberikan inspirasi. Mengapa aku tidak??? Paling tidak aku bisa memberikan inspirasi bagi orang-orang terdekat...
Yogyakarta, 191106
Mengolah Ingatan Masa Lalu Lewat “Denias”

Film Denias entah mengapa mampu memberikan dorongan cukup kuat buatku untuk pergi ke bioskop. Maklum aku orang yang sangat jarang ke bioskop. Alasan pertama, aku tipikal orang yang lebih suka membaca daripada menonton. Kedua, aku bisa bangkrut kalo sering-sering nglencer ke bioskop.
Mengapa akhirnya dibela-belain nonton bioskop sendirian, demi Denias??? Pertama temanya yang mengangkat kisah nyata seorang anak Papua dari suku tertinggal yang bersemangat untuk sekolah menggugahku… Karena aku juga orang yang percaya pendidikanlah yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik.
Kedua, aku merasa bertanggung jawab untuk memberikan dukungan pada perkembangan film nasional. Aku hanya ingin membuktikan komitmenku pada bangsa ini, dengan memberikan penghargaan pada kreasi anak bangsa.
Dan ternyata tidak salah, film ini membuatku menangis terharu, sekaligus membuatku tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah lugu mereka. Aku pun tersenyum-senyum simpul, karena beberapa kenangan masa lalu seperti tersibak kembali…
Yayaya, bumi Papua adalah tempat dimana aku dilahirkan. Logat bicara Denias, dan para tokoh lainnya dalam film ini, mengingatkanku pada masa-masa dulu... Semuanya sangat khas Papua. Sesuatu yang mungkin tidak pernah dikenal di luar Papua. Misalnya istilah suwanggi untuk setan, lalu penggunaan akhiran kah yang mungkin tidak lazim bagi orang-orang di luar Papua.
Lalu hukuman yang menggunakan cambuk dari rotan, membuatku mengingat masa-masa SD di Sorong. Memang benar, di Papua ketika seorang murid melakukan kesalahan maka ia akan dihukum dengan dipukul kakinya dengan sebilah rotan. Aku tak tahu apakah di semua daerah, dan di semua sekolah. Tapi paling tidak di sekolahku memang begitu...
Belum lagi, lagi-lagu asli Papua yang mengiringi film itu, membawaku pada kenangan di saat-saat terakhir sebelum aku meninggalkan tanah Papua. Ketika itu aku menjadi salah satu penari yospan (Yosim Pancar), tarian khas Papua. Tarian ini dipentaskan di sekolah, untuk sebuah acara yang aku lupa hehehe (maklum aku di sana hanya hingga kelas 4 SD, itu berarti lima belas tahun lalu). Dan lucunya dari kalo gak salah sepuluh orang penari, tak ada satupun yang asli Papua, semuanya keturunan pendatang (misal Jawa, Ambon, Ternate).
Film yang sangat tidak rugi untuk ditonton. Film yang bukan hanya memberikan inspirasi baru, tapi juga membangkitkan romansaku dengan masa lalu. Masa-masa yang indah, masa kanak-kanakku yang sebagian besar kuhabiskan di Papua... Karena di Papualah aku benar-benar belajar apa arti toleransi, dan hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama.
Yogyakarta, 191106
Wednesday, October 18, 2006
Prestasi….
Sudah cukup lama blog ini tidak di up date, semoga orang-orang yang rutin berkunjung tidak terlalu kecewa. Karena beberapa hari belakangan ini, hmmm jadwalku berasa sangat padat.
Dan beberapa hari ini juga, aku merasa sangat bangga karena berita bagus datang secara beruntun dari teman-temanku. Mereka semua membukukan prestasi-prestasi yang gemilang. Ada yang dapat beasiswa ke Australia, ada yang memenangkan kompetisi tingkat nasional, ada juga yang mendapat pekerjaan baru yang lebih baik.
Entah mengapa, setiap kali mendengar prestasi teman-temanku, aku merasa terharu. Sepertinya yang berprestasi itu aku sendiri hehehe. Padahal as you know belakangan ini tampaknya aku lagi paceklik prestasi.
Yang jelas prestasi teman-temanku itu menjadi pemacu semangat baru buat aku, agar lebih banyak berbuat. Kemenangan mereka membuat aku yakin, bahwa semua bisa dicapai asal kita mau berusaha.
Rentetan prestasi itu seakan mengubur kebosananku dengan urusan tesis yang mengapa hingga kini, belum juga di acc, dan masih saja revisi. Yahhh, tapi ini adalah saatnya untuk menguji kesabaran. Di tengah badan yang lemas karena puasa, dan aku harus bolak-balik kampus FE dan MM, tapi tetap harus semangat... Karena semuanya tak akan selesai hanya dengan mengeluh, bukankah begitu???
Makasih buat semua teman-temanku karena, tanpa kalian aku hanyalah manusia tanpa semangat. Dengan apa yang kalian lakukan, tanpa disadari telah memberikan inspirasi bagiku untuk lebih bersemangat...
Terima kasih Tuhan, coz You give me a lot of great friends, so I can benchmark what I have done with what they have done. I know there are many things that I missing, but I will try hard to fulfil all of that. Hopefully I can.
Yogyakarta, 171006
