Kata-kata yang tiba-tiba saja muncul dalam kepala, untuk menjelaskan fenomena saat ini dimana persentuhan antara budaya global dan lokal sudah sangat mengurat nadi, dan begitu dekat dengan kehidupan kita, namun kadang tidak disadari.
Kata ini sebenarnya berawal dari glocalism yaitu globalism dan localism. Namun aku lebih suka menyebutnya glocalissimo, karena biar ada sedikit campuran latin. Kayaknya lebih seru aja, walau gak tahu juga apakah ada kata itu dalam kamus suatu bahasa tertentu he... he...
Mengapa menjadi begitu menarik??? Pertama, seorang teman yang baru menjadi seorang ayah, bercerita tentang nama anaknya yang sangat unik. Aku lupa nama lengkapnya. Namun yang pasti dari tiga kata nama tersebut, digunakanlah tiga bahasa, nama depan bahasa Inggris, sincerely. Nama tengah bahasa Arab, yang aku lupa. Dan nama belakang kalo gak salah prameswari, yang jelas-jelas bahasa Jawa.
Kedua, beberapa hari lalu saat mengantar seorang teman berjalan-jalan ke Malioboro, dan barulah menyadari. Ternyata Popeyes (salah satu restoran fast food) mempuyai desain interior yang unik dibanding restoran fast food pada umumnya, dan juga beda sekali dengan Popeyes yang pernah aku liat di Bandung. Desain interiornya terasa lebih berat, karena ada unsur ukir kayu pada tiang penyangga. Di mana sangat tidak lazim, karena biasanya desainnya sangat sederhana dan bersih. Walau corak warna nya sangat Popeyes.
Masih tentang restoran Fast Food, Mac Donald. Sapa yang gak kenal ini??? Ternyata berdasarkan cerita seorang teman, cabangnya yang di Malioboro Mall menyediakan tempat lesehan. Percayakah Anda??? Kayaknya ini hanya akan ditemukan di Yogya.
Yang terakhir tanpa disadari selama ini, aku sering menulis yang mencampurkan bahasa Indonesia, dan penutupnya berbahasa Inggris. Padahal aku inginnya sih teteup menjadi orang Indonesia sejati yang orisinil. Dan kadang suka males ngeliat orang Indonesia, yang sok keinggris-inggrisan. Tapi... ternyata aku harus menelan ludah sendiri. Alam bawah sadar membawaku untuk menuliskan sesuatu yang becampur aduk. Kdang ingin kucaci maki diri sendiri he... he...
Dan akhirnya aku berpikir ini memang sudah zamannya. Konsekuensi dari dunia yang “menyempit”. Tidak ada lagi yang orisinil, dalam artian budaya yang tidak tersentuh budaya lain. Namun gimana caranya, citarasa lokal tetap harus dijaga.
Dan era ini adalah era yang sangat kritis di mana setiap orang sedang mencari-cari siapa dirinya??? Aku menyebutnya masyarakat yang gelisah, mencari keseimbangan baru di era yang juga baru.
Yogyakarta, 051206
Friday, January 06, 2006
Glocalissimo
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment