Wednesday, December 24, 2008

Menutup 2008 dengan Senyuman...

Tanpa terasa ternyata 2008, sudah hampir ditutup... Dan sekarang saatnyalah untuk membuka apa yang aku tuliskan di awal tahun. Udah matching kah? Harapan aku dengan apa yang telah aku lakukan di 2008??? Baru nyadar ternyata, aku sangat to the point saat membuat resolusi 2008.

Dan setelah di cek & ricek alhamdulilah sebagian besar memenuhi target. Aku masih setia di perusahaan yang sama saat menulis blog resolusi tahun 2008. Karena disini aku menemukan tim yang sangat hebat, mereka sangat membantu akuberadaptasi dengan cepat, dan menjadi partner kerja yang baik. Apa yang aku capai saat ini tak bisa lepas dari kontribusi teman-teman...

Kedua, aku masih setia menulis blog, walopun sekarang agak terseok-seok, makin dikit ajah postingnya. Tapi berita baiknya aku justru punya blog baru untuk hal-hal yang lebih serius di tuhunugraha.com. Karena kesibukan makin bertambah, godaan lain juga banyak. Misalnya Facebook, Plurk dll.

Ketiga, tahun ini adalah tahun dimana aku belajar menjadi the real leader. Belajar untuk mengkoordinasikan orang lain, dalam sebuah tim baik di kerjaan ataupun kegiatan sosial. Woww ternyata amazing kalo bisa menjadi team player yang baik.... Sekali lagi matur sembah nuwun buat semua orang yang telah bekerjasama dengan baik denganku. Dari sebuah kerja timlah aku mengerti apa sih sebenarnya arti seorang pemimpin sebenarnya, dengan segala lika-likunya....

Namun sayang tahun ini aku belum berhasil memenuhi target, menjadi dosen part time di kampus. Usaha sudah dilakukan, tapi memang belum terlalu serius, mungkin tahun depan... Yess ini menjadi PR besar tahun depan.

Tahun ini juga memberikan banyak catatan menggembirakan dalam hidupku. Menjadi finalis International Young Creative Entrepreneur untuk dua kategori sekaligus adalah sebuah anugerah besar. Karena ternyata aku bersanding dengan orang-orang terhebat di negeri ini di bidang industri kreatif. Walaupun aku tidak menang, paling tidak aku mendapatkan banyak ide baru, dan juga kerjasama-kerjasama bisnis dengan sesama finalis.

Tahun ini juga aku menjadi finalis Young Marketer Champion, sebuah ajang bergengsi bagi para pemasar muda. Menjadi finalis pun membuat aku merasa bersyukur, mengingat pengalamanku di bidang pemasaran masih sangat jauhhhhhhhh dibanding para finalis yang lain. Tenang masih banyak kesempatan tahun berikutnya. Paling tidak aku telah membuat sebuah awal yang bagus....

Tahun ini juga aku memenangkan kontes New Wave Marketing Competition, untuk kategori New Wave Marketing Story terbaik untuk artikel tentang Facebook. Yayaya, aku merasa ini adalah tahun terbaik dari semua tahun yang pernah kulewati... Selamat tinggal 2008, dan aku siap menjelang 2009....

Tahun depan memang tak akan mudah. Tapi aku melihat sebuah langit cerah dengan penuh optimisme... Ada banyak peluang yang bisa aku manfaatkan dari apa yang aku capai di tahun 2008.

Monday, December 22, 2008

Half of A Yellow Sun: Sebuah Epik dalam Peperangan

Sebuah novel yang membuat aku sangat terpukau. Sang penulis Chimamanda Ngozi Adichie, mampu membawa pembacanya memahami kepedihan sebuah negeri yang jauh. Yayaya Nigeria, sebuha negeri yang sebelumnya hanya samar-samar kumengerti dengan berbagai macam kudeta militer.

Novel ini memberikan sebuah pencerahan tentang Nigeria, mengambil latar belakang Nigeria pada 1960-an. Saat pecah perang saudara, yang menyebabkan Nigeria terpecah menjadi dua Nigeria dan Biafra.

Ada empat tokoh utama yang sangat menonjol dalam novel ini. Pertama, Olannna, seorang anak konglomerat kaya di Nigeria, cantik, lemah lembut, dan patuh pada orang tua. Namun kekayaan orangtuanya tidak membuatnya tertarik. Karena dia lebih terkesima dengan ideologi sosialisme.

Kedua, tokoh Kainene. Saudara kembar dari Olanna, yang wajahnya sangat berbeda dengan Olanna, tidak cantik, berbadan tinggi dan ramping. Ia adalah seorang pengusaha wanita yang tangguh, dan pemberani.

Berikutnya adalah Odegnibo, seorang dosen di universitas Nsukka. Peraih gelar Doktor, seorang aktivis sosialisme di Nigeria. Simbolisasi dari mobilitas kelas masyarakat Nigeria. Berasal dari sebuah kampung miskin di Nigeria, menjadi kelas atas inteletual Nigeria. Cara berpikirnya yangs sedikit radikal, membuat Olanna langsung jatuh hati saat pandangan pertama.

Dan terakhir, Richard, seorang Inggris, yang datang ke Nigeria. Dan mendadak menemukan dirinya mencintai Biafra, dibandingkan negerinya. Ia digambarkan sebagai pria pendiam, yang lemah.

Keempat tokoh utama ini menjalin sebuah cerita tentang cinta yang tulus, perselingkuhan, dan juga kesetiaan pada negara di saat-saat peperangan. Mereka tetap setia pada Biafra, walaupun keadaan sangat sulit. Dan mereka seharunya bisa melarikan ke luar negeri.

Olanna yang lemah lembut berjuang untuk Biafra dengan menjadi guru bagi anak-anak korban perang. Odegnibo, tetap setia menjadi pejabat pemerintahan, dan menyiapkan bunker bila terjadi penyerangan.

Richard berkontribusi bagi Biafra dengan menuliskan apa yang dilihatnya, menampilkan sebuah fakta yang selama ini tertutup. Karena Nigeria mampu melakukan propaganda dengan lebih lihai. Dan jurnalis kulit putih hanya perduli pada jumlah korban kulit putih, sementara korban-korban penduduk lokal tak pernah masuk dalam hitungan.

Dan Kainene yang kapitalis, mampu membuktikan bahwa ia bukan hanya rakus dengan uang. Ia tetap setia membela Biafra dengan menjadi koordinator kamp pengungsian. Dia menggunakan hubungan dengan orang-orang penting yang dimilikinya, untuk mendapatkan makanan bagi para pengungsi korban perang.

Novel yang sangat pas untuk kajian studi pos kolonial. Tentang pembentukan negara paska penjajahan, yang meninggalkan banyak bom waktu perang saudara. Dan manusia-manusia yang gamang dengan identitasnya. Tokoh Harrison misalnya, pembantu dari Richard. Ia merasa bangga dengan kemampuannya memasak makanan Eropa, dan menganggap remeh makanan-makanan khas Nigeria seperti Nasi Jollof.

Sebuah novel yang sangat kaya, dengan kebijaksanaan. Menggambarkan manusia seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing, berjuang menghadapi kenyataan. Dan mereka tetap optimis, bahwa Matahari akan terbit esok hari...

Monday, December 15, 2008

Terkadang...

Yayaya terkadang kita memang tidak pernah bisa memilih. Kadang ada hal-hal yang tidak sevisi lagi, bikin gemez gak jelas. Terkadang itu bertentangan dengan hati nurani. Kadang kita jadi jengkel, marah, mungkin hingga prustasi???

Namun terkadang kita memang tidak punya banyak pilihan lain. Beberapa hal mungkin masih bisa dikompromikan, namun seberapa jauh? Seberapa dalam? Yayaya itu yang sedang aku pertanyakan. Seberapa jauh aku akan mengkompromikan ini semua.

Beda kepala pasti akan berbeda pendapat, tapi pelajaran utama yang aku terima hari ini. Belajar memanajemen konflik, bahkan itu konflik batin dalam diri sendiri. Dunia memang tidak diciptakan sempurna, penuh bopeng...

Friday, December 05, 2008

Aku Sedang Bernyanyi...

Yayaya mendadak saja, aku ingin bernyanyi, sepertinya belakangan ini ada begitu banyak kebahagiaan yang mampir dalam kehidupanku gituh. Yayaya, segala daya dan upaya perlu dilakukan untuk menjadi lebih baik tentunya.

Setiap usaha pasti akan memberikan dampak. Walaupun itu tak seperti yang kita inginkan, tapi setidaknya akan membawa sebuah perbedaan. Dan perbedaan-perbedaan kecil ini suatu hari akan menggumpal dan membesar, membuat kita meninggalkan yang lain.

Yayaya, semuanya butuh sebuah proses, dan kita harus sabar dengan proses itu. Asal kita tahu, bahwa proses itu membawa kita semakin dekat dengan apa yang akan kita tuju di depan sana.

Akhir kata tetap semangatttttttttttttttttttt


In The Night...
Jakarta, 051208

Tuesday, November 25, 2008

Misi Itu, Mulai Menunjukkan Hasil...

Sudah beberapa bulan program We Listen To You, yang aku gagas untuk International Service Rotaract Club Semanggi dijalankan. Dan sejauh ini alhamdulilah sudah lumayan banyak opini-opini dari Rotaractors luar negeri yang masuk.

Aku sangat mengucapkan terima kasih untuk semua tema-teman Rotaract yang sepertinya sangat bersemangat dengan proyek ini. Dalam hal ini aku merasa ada dua keberhasilan sekaligus.

Pertama, berhasil membuat semua anggota Rotaract merasa bagian dari proyek ini. Semua Rotaractor Semanggi, bahkan di Indonesia sangat bersemangat untuk membantu kesuksesan kegiatan ini. Tanpa dukungan semuanya, kegiatan ini tidak akan menuai sukses sedahsyat ini.

Kedua, kegiatan ini juga berhasil menarik banyak Rotaractor dari luar negeri untuk datang ke Indonesia. Rombongan dari Hong Kong menulis komentar di Indonesiaonperspective.wordpress.com, bahwa mereka akan melakukan wisata dan kegiatan dari sosial.

Rotarian dari Bolivia juga sangat tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Hmmm senang rasanya bahwa sesuatu hal yang kecil yang dilakukan, membawa sebuah perubahan....

Jakarta, 251108
Menjelang Sore...

Wednesday, November 12, 2008

Musashi: Perjalanan Spiritual Seorang Samurai...

Sebenarnya sudah selesai membaca buku ini beberapa minggu yang lalu, tapi belum sempat menulis, dan sangat sayang ajah kalo tidak berbagi betapa indah dan mendalamnya buku ini. Ini mungkin salah satu buku terpanjang yang pernah aku baca, karena terdiri tak kurang dari 1200 halaman. Fiuhhhh bayangkan stamina yang dibutuhkan.

Sebenarnya buku ini bergerak sangat lambat di awal, jadi agak membosankan khas gaya para penulis Jepang, yang prolog ceritanya sangat bertele-tele. Tapi jelas buku ini memang sangat indah dan penuh perenungan, sehingga tidak heran buku ini menjadi buku klasik yang selalu menarik perhatian dari generasi ke generasi.

Berkisah tentang Musashi, seorang Samurai muda yang meledak-ledak dengan kemampuan yang membahayakan, lalu jalannya berubah ketika bertemu dengan seorang Biksu Zen eksentrik yang kemudian membawanya pada sebuah pencerahan.

Musashi yang meledak-ledak melalui berbagai macam cobaan, dan tantangan mentransformasi menjadi seorang Samurai sejati, yang anggun, tenang, dan penuh perhitungan. Dia mampu mengendalikan dirinya, untuk menggunakan kekuatannya untuk menjaga perdamaian....

Kisah yang sangat menarik, karena kita dibawa ke Jepang di era Shogun, dimana terjadi perebutan pengaruh antar-penguasa. Disini juga kita bisa mengintip sistem nilai masyarakat Jepang, yang masih dianut hingga saat ini.

Makanya tak heran, saat Jepang mulai menggeliat sebagai eknomi baru dunia. Para pebisnis di Amerika Serikat merasa perlu membaca buku ini, untuk memahami partner mereka dari Jepang.

Buku yang sangat direkomendasikan dibaca, walaupun harus bersusah payah membaca ribuan halaman.


Jakarta, 121108
On Evening...

Monday, November 10, 2008

Siapa Pahlawanmu????

Kebetulan sedang hari pahlawan. Kalo ditanya siapa pahlawanku, dengan sigap aku akan menjawab IBUKU!!!! Yayaya, karena beliau telah menitipkan padaku mimpi-mimpi besar.;.. Beliau menjadi penyemangat saat aku kelelahan dan putus asa...

Apa yang aku peroleh sekarang, apa yang telah aku capai sekarang semuanya demi Ibu... Mom if I know how much I love you... Sayang memang, ketika beliau harus pergi sebelum melihat hasil ata nilai-nilai yang ditanamkan selama ini.

Tak usahlah dikenang lagi kenangan melow itu, tapi yang jelas semangatnya, wejangannya akan selalu menyelinap di benakku.

Selamat jalan Ibu..., bagaimanapun Kau lah Sang Pahlawan Abadi...


Jakarta, 101108
On Rainy Day

Tuesday, November 04, 2008

Rumah Baru...

Yayayay, karena seseorang berbaik hati membelikan domain dan membuatkan blog baru. Makanya sekatang aku punya dua blog. Blog ini akan tetap dipertahankan untuk berbagai tulisan campur aduk.

Sementara blog yang baru, tuhunugraha.com, akan lebih diarahkan tulisan menarik seputar isu online marketing communication. Yayayaya, blog pribadi yang ndak jelas juntungannya ini memang harus dipisahkan dengan hal-hal yang menyangkut profesionalitas.

Ntar tercampur aduk lagi... Soalnya secara bahasa kan juga udah beda sekaleee.
Smoga dengan adanya rumah baru makin rajin nulis juga. Aminnn.

Jakarta, 041108
Hari yang bergeludug...

Monday, October 20, 2008

Termehek-mehek Mendengar Realitas..

Akhir pekan ini aku banyak bertemu dengan teman-teman, beberapa yang lain curhat via sms. Hmmm ternyata banyak cerita tentang realitas kehidupan yang membuat termehek-mehek. Kadang berasa sedikit gak percaya kok kayak sinetron banget sih?

Ternyata setiap orang itu, memang menghadapi masalahnya masing-masing. Dan cerita-cerita ini datang di saat yang tepat. Minggu lalu aku merasa kosong, hampa, sepertinya tidak ada lagi yang ingin aku kejat.... Karena ngerasa kok stagnan ya, kok kayaknya orang lain terlihat lebih baik dan sempurna ya?

Mendengar dan hanya mendengar cerita-cerita itu sepertinya sebuah teguran dari Tuhan... "Hey no body perfect", semua orang harus menghadapi tantangannya masing-masing.

Ini yang kemudian membuat aku kembali semangatttt. Yayaya, hadapi sajah, toh semua tak sesempurna yang dilihat. Masalah itu membuat kita menjadi lebih dewasa, dan mendengar cerita tentang orang lain juga membuatku jadi belajar banyak. Sekaligus merefleksikan pada diri sendiri.

Mari melihat masa depan dengan senyuman yang cerah...


Jakarta, 201008
Hot Day Come Again..

Friday, October 17, 2008

Merenungi Tentang Kepemimpinan?

Banyak buku yang telah aku baca dan pendapat orang mengenai kepemimpinan dan pemimpin. Dari begitu banyak teori, dan interaksi dalam dunia nyata. Akhirnya aku mengerti betapa kepemimpinan itu punya pengaruh yang besar.

Hadirnya satu orang ternyata bisa membawa banyak perbedaan. Namun seseorang itu bukanlah harus seseorang yang mempunyai jabatan formal atau titel tertentu. Orang itu mungkin saja hanya seorang bawahan, atau seorang biasa saja. Namun diam-diam dia punya pengaruh yang sangat besar di lingkungannya, di komunitasnya.

Apa yang dikatakannya selalu dipercaya oleh orang-orang sekitar. Sikapnya selalu menginspirasi karena dia bukan hanya bisa dihormati, namun sangat bisa menghargai dan mendengarkan orang lain.

Yayaya, aku melihat begitu banyak orang memegang jabatan, namun apa gunanya kalo dia tidak mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari anak buahnya. Memang tak mudah menjadi seorang pemimpin. Mereka harus punya kepekaan, kebijaksanaan, kemampuan berkomunikasi yang baik dan lainnya agar orang akhirnya mengakui bahwa Ia memang layak dianggap sebagai seorang pemimpin sejati...


Jakarta, 171008
My Reflection Time...

Tuesday, October 14, 2008

Laskar Pelangi: Sebuah Semangat Tentang Keindonesiaan...

Tepat pas malam takbiran Lebaran kemarin. Aku bersama para sepupu beramai-ramai nonton film Laskar Pelangi di Solo. Setelah dengan penuh perjuangan mengantri karena penonton yang membludak akhirnya dapet juga tiketnya.

Laskar Pelangi sangat menggegerkan, karena diangkat dari buku dengan judul yang sama karya Andrea Hirata yang juga sangat fenomenal, tercatat sebagai buku sastra terlaris di Indonesia, paling tidak begitu klaim dari pihak penerbit.

Filmnya sendiri memang agak sedikit melenceng dari cerita yang ada dalam bukunya. Beberapa orang mengatakan film ini lebih bagus dari bukunya. Bagi aku itu berlebihan karena bagaimanapun bukunya lebih ok dibandingkan filmnya. Namun dibandingkan dengan beberapa film lainnya yang juga diangkat dari cerita novel, film ini layak diacungi jempol.

Bagian awal dari film ini juga terlalu panjang dan bertele-tele, sehingga aku sempat ngantuk dibuatnya. Terlalu banyak nasihat sepertinya yang ingin dijejalkan. Dan terlalu banyak tokoh yang ingin diungkap.

Namun di sisi lain, film ini mampu menampilkan sosok-sosok yang bermain sangat natural. Aku sangat kagum dengan para pemain cilik dari Belitung. Mereka sepatutnya mendapatkan penghargaan karena akting mereka yang sangat cantik dan alamiah. Cut Mini yang berperan sebagai Ibu Guru juga sangat bagus. Terutama dengan dialek Belitong-nya.

Dari segi gambar juga sangat mengagumkan. Riri Riza sangat pas membawa kita pada penggambaran Belitong di pertengahan 70-an. Detil-detilnya begitu pas, aku seperti kembali ke masa lalu, melihat minyak rambut berwarna hijau. Lalu kapur tulis, dan juga yang membuat seisi bioskop histeris adalah poster Rhoma Irama saat muda yang digunakan untuk menambal dinding rumah lengkap dengan lagu-lagu Bang Rhoma yang sangat 70-an.

Beberapa momen membuat aku ingin menangis termehek-mehek, terutama saat Lintang mengirim surat kalau tidak bisa melanjutkan sekolah, karena harus menggantikan peran ayahnya yang hilang di laut, sebagai tulang punggung keluarga.

Padahal Lintang-lah yang paling bersemangat untuk bersekolah dan mengejar cita-cita. Hmmm rasanya ingin marah saat itu, mengapa dunia begitu tak adil? Ada begitu banyak orang yang mempunyai kesempatan yang luas tapi menyia-nyiakan. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang berjuang sekuat tenaga, tapi tak berdaya akibat keadaan.

Jakarta, 141008
Akhirnya Menulis Juga...

Friday, September 26, 2008

Social Marketing Campaign untuk Visit Indonesia Year 2008

Saya tidak tahu apakah istilah social marketing campaign ini tepat atau tidak. Saya hanya menggunakan istilah saya sendiri, untuk sebuah program sosial yang dilakukan untuk menngkampanyekan Indonesia.

Jadi ceritanya di Rotaract(Rotary in Action)Club Semanggi Jakarta, kita membuat sebuah program International Service yang berbeda dari sebelumnya, yang biasa dilakukan. Mengingat Rotaract Club telah eksis di lebih dari 158 negara, mengapa tidak kita melakukan kampanye tentang Indonesia, dengan sesuatu yang berbeda. Proyek ini disebut sebagai "We Listen To You Project"

Kalau biasanya dengan agresifnya kita mempromosikan negara ini. Sekarang dibalik, mengapa tidak kita mencari insight apa sih yang dipikirkan oleh orang lain tentang negeri kita?

Di sinilah kita bisa belajar untuk merefleksikan diri sendiri, apa sebenarnya kekuatan kita, dan kekurangan kita. Kita jadi tahu apa sih kekuatan kita dimata konsumen, bukan dari sudut pandang kita.

Setelah membaca berbagai komentar yang masuk, terkadang ada temuan-temuan yang mengejutkan. Dan sebagian besar komentar ini diperoleh melalui online, entah melalui mailing Rotaract Internasional, atau juga melalui Facebook. Internet membuat semuanya jadi mudah, bayangkan saat ini saja sudah masuk komentar dari negeri-negeri nun jauh yang mungkin jarang kita dengar semisal Pantai Gading, Nepal, Honduras dll.

Semoga kegiatan Rotaract ini, sedikit memberikan kontribusi bagi pariwisata Indonesia, dan juga membangun citra yang lebih baik tentang Indonesia. Mengapa? Pertama dengan adanya proyek ini, mereka yang sebelumnya tidak tahu mengenai Indonesia akan mencari tahu seperti apa sih Indonesia?

Kedua, akan tertanam persepsi bahwa walaupun tidak sempurna, banyak diberitakan terjadi bencana, korupsi, terorisme. Tapi setidaknya sebagai sebuah bangsa kita mau mendengar.

Ingat era internet, menuntut kita harus lebih banyak mendengar dan berdialog dengan konsumen. Karena konsumen tidak bisa lagi dibujuk dengan teriakan promosi dan iklan, biarkan mereka menemukan sendiri persepsinya tentang sesuatu.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari Bangsa ini, mungkin luangkan waktu sejenak untuk berkunjung, dan merefleksikan, seperti apakah negeri kita?


Jakarta, 260908
Ngeblog Sebelum Mudik...

Tuesday, September 23, 2008

Kemana Online Marketing Communication Akan Melangkah???

Perilaku konsumen di dunia online berubah sangat cepat. Hal ini salah satunya didorong oleh perkembangan teknologi yang sangat luar biasa. Konsumen selalu digoda dengan teknologi baru, yang menawarkan sesuatu yang lebih canggih. Walaupun ada banyak hal baru yang bermunculan, tapi hanya beberapa hal yang kemudian bisa bertahan dan menjadi tren. Biasanya yang bisa bertahan adalah sesuatu yang menawarkan hal-hal yang baru, sehingga mampu menggoda konsumen untuk kemudian berpindah.

Lalu apa kira-kira yang akan menjadi tren terutama di tahun 2009. Hal ini perlu diketahui oleh para praktisi marketing communication, karena disanalah konsumen akan berkumpul, berdiskusi dan berbagi tentang produk Anda.

Ada beberapa hal yang saya perkirakan akan naik daun dan eksis untuk tahun depan:


1. Blog

Blog akan masih menjadi primadona, seperti halnya tahun ini dimana tren blogging menggema dimana-mana, dan banyak perusahaan yang telah berusaha melakukan pendekatan kepada mereka. Tren blog masih akan menguat alasannya karena komunitas ini semakin erat, di berbagai daerah terdapat komunitas Blogger yang sangat aktif. Misalnya, Batagor di Bandung, Anging Mamiri di Makassar, Angkringan di Yogyakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, Wong Kito di Palembang dan masih banyak lagi.

Kedua eksistensi Pesta Blogger yang tahun ini akan memasuki tahun kedua , dan dilakukan dalam bentuk road show beberapa kota akan membuat komunitas ini semakin kuat.

2. Facebook
Ke depan Facebook akan berjaya mengalahkan Friendster. Mungkin saat ini masih banyak yang enggan bermigrasi dari Friendster ke Facebook, tapi dalam beberapa bulan ke depan akan semakin banyak orang yang akan beralih ke Facebook. Karena Facebook menyediakan fitur-fitur yang jauh lebih menarik dibandingkan Friendster.

Facebook sepertinya berusaha menjadi tempat yang mengakomodasi segala keinginan, mau menulis blog, chatting, main games, mengirim undangan, bahkan samapi kampanye sosial bisa dilakukan di Facebook. Inilah yang menyebabkan perkembangan Facebook begitu cepat.

3. Plurk
Plurk adalah sejenis twitter. Tepat dimana Anda dapat melakukan microblogging. Jadi disini Anda bisa posting maksimal 140 karakter yang ibarat ber-sms ria, tapi bisa dibaca oleh semua orang, dan bisa berdiskusi di sini.
Anehnya, tidak seperti Twitter yang disambut adem ayem saja, Plurk disambut dengan lebih baik oleh konsumen Indonesia. Walaupun saat ini di Indonesia juga baru menjadi tren di kalangan early adopter, tapi saya yakin ke depan akan mewabah di Indonesia.

Apa yang membedakan Plurk dibanding Twitter, adalah sistem Karma yang membuat konsumen berlomba meraih karma setinggi-tingginya. Bayangkan orang Indonesia, yang selalu tidak mau kalah dengan temannya, maka berusaha gimana caranya karmanya makin tinggi.

Kedua, microblogging itu lebih mudah. Anda tak perlu menulis panjang-panjang. Cukup menulis singkat saja, maka akan langsung penuh dengan komentar. Ingat tabiat orang Indonesia yang gemar ngobrol dan ngumpul-ngumpul. Sejauh ini yang saya tahu Kecap Bango telah memanfaatkanPlurk untuk berinteraksi dengan konsumen. Di Plurk Anda silahkan mencari nickname Bango Mania.

Kira-kira begitu perkiraan mengenai tren ke depan. Ada lagi yang belum tercantum, dan mungkin akan menjadi tren besar di tahun depan?


Jakarta, 230908
Pada Suatu Pagi...

Thursday, September 18, 2008

Pergeseran dari Media Relation Menjadi Talker Relation

Dahulu orang-orang PR dan Marketing Communication, sangat getol untuk berbaik hati dengan para jurnalis. Karena merekalah satu-satunya corong yang akan mampu mengabarkan berita tentang merek dengan sangat masif.

Lalu dengan adanya internet apakah jurnalis hanya satu-satunya? Tentu saja tidak. Konsumen itu tidak lagi mencari referensi dari media konvensional. Suara konsumen pun akan menggema lebih kencang dari sebelumnya.

Adanya mailing list, blog, Plurk, social networking dan yang lainnya menyebabkan konsumen punya banyak tempat untuk berinteraksi, berbagi dan bersuara. Dan celakanya suara mereka akan semakin keras menggema kemana-mana, karena bantuan teknologi ini.

Lalu apa yang terjadi? Para praktisi PR dan Marketing Communication, tidak hanya cukup berbaik ria pada para jurnalis. Anda juga harus pinter-pinter mendekati para Talker atau orang-orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan sosial. Karena mereka ini punya suara yang sangat berpengaruh.

Dan ingat bahwa para talker itu juga konsumen, jadi ini adalah perbincangan dan komunikasi antarkonsumen. Dan untuk mendekati para talker memang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Mereka membutuhkan pendekatan personal, hal-hal kecil dan perhatian akan efektif untuk mendekati mereka, dan mereka akan dengan senang hati merekomendasikan produk Anda.


Jakarta, 180908
Menanti Oh Menanti...

Wednesday, September 17, 2008

Twilight: Kisah Percintaan Remaja yang Tak Biasa

Pertama kali tahu buku karya Stephenie Meyer ini justru karena pemberitaan bahwa buku ini sukses melalui kampanye pemasaran melalui dunia online. Sang penulis, benar-benar menggarap dan memelihara para penggemarnya di dunia online. Ia menjawab satu per satu e-mail yang masuk, dan menanggapi secara serius website para penggemar bukunya yang berdikusi melalui internet.

Bukunya sebenarnya sederhana tentang percintaan kisah anak remaja SMA. Namun yang menjadi menarik adalah Sang Pria ternyata seorang Vampir. Aku berpikir jalan cerita akan berjalan standar dan mudah ditebak.

Ternyata dugaan itu salah, maka tak mengherankan bila buku ini mencuri hati para pembacanya. Buat yang suka dengan cerita-cerita cinta, mungkin buku ini sangat pas. Buat yang suka dengan sebuah kisah yang tidak biasa juga harus membaca buku ini. Karena ada sebuah nuansa baru yang ditawarkan, yang tidak biasa dalam sebuah novel percintaan populer...

Jakarta, 170908
Menunggu Saat Berbuka...

Monday, September 08, 2008

Blakanis: Tentang Kejujuran yang Langka

Arswendo setelah sekian lama, kembali dengan novelnya "Blakanis". Masih dengan gaya menulis yang sederhana, namun mengena. Blakanis bercerita tentang Ki Blaka, dan sebuah gerakan yang dimulainya untuk berani berkata dan berbuat jujur.

Dari sebuah kerumunan kecil, perkumpulan ini menjadi sangat besar. Ada mantan pejabat yang kemudian mengaku korupsi, ada anak-anak sekolah yang berhenti menyontek dan lain lain.

Ki Blaka sendiri tidak menginginkan dirinya, dan apa yang dilakukannya menjadi sebuah kultus, aliran kepercayaan atau apapun. Ini sepertinya merupakan sebuah sindiran lain dari Arswendo tentang bangsa ini yang sangat mudah untuk mengkultuskan sesuatu.

Arswendo benar-benar membawa cerita ini dalam konteks Indonesia yang sangat kental, dengan berbagai macam problemanya, bukan hanya menyangkut soal kejujuran, tapi tata sosial masyarakat Indonesia yang disentil dengan sangat halus, bahkan mungkin tak terasa bila Anda bebal.

Novel ini uniknya menceritakan satu cerita yang sama dengan dua sudut pandang yang berbeda. Satu sudut pandang pria, dengan gaya bercerita yang tegas, lebih melihat dari sisi intrik, dan politis. Satu sisi lagi dari sisi wanita, yang lebih personal, hal-hal yang sangat humanis, kadang remeh-temeh tapi menyentil.

Dua sudut pandang ini saling melengkapi, agar kita mendapatkan satu kesatuan cerita utuh dalam memandang Ki Blaka, dan Blakanis. Sebuah buku yang wajib dibaca untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik....

Jakarta, 080908
Setelah Berbuka...

Wednesday, September 03, 2008

Enrique's Journey, Perjalanan Dramatis Menemui Ibu


Buku karya Sonia Nazario ini, bercerita tentang perjalanan Enrique seorang remaja dari Honduras yang pantang menyerah menemui ibunya yang bekerja sebagai imigran gelap di Amerika Serikat.

Perjalanan yang harus ditempuh sangat mengerikan dan dramatis. Dia harus menghadapi kekerasan dari para preman, pemerasan dari polisi perbatasan yang korup, dan kemungkinan celaka lalu mati akibat jatuh dari atap kereta.

Kisah ini diceritakan oleh Sonia berdasarkan kisah nyata, ribuan anak-anak dari negara-negara Amerika Selatan, seperti Honduras dan Guatemala yang nekad menuju ke Amerika Serikat, demi bertemu dengan ibunya yang telah lama tidak bertemu. Mereka bahkan tidak bertemu dengan ibunya hingga belasan tahun.

Kemiskinan, adalah jawaban dari pertanyaan mengapa anak-anak itu rela menuju Amerika, seperti halnya para ibu dari negeri Amerika Tengah rela meninggalkan negaranya. Los Angeles yang gemerlapan sepertinya menawarkan mimpi yang tidak dapat ditolak oleh mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat minim sarana dan prasana.
Ini sama halnya dengan urbanisasi masyarakat pedesaan yang tergiur dengan kehidupan Jakarta yang gemerlap, dan dianggap bisa menawarkan kehidupan yang lebih baik.

Kisah Enrique seperti sebuah cerita telenovela, dramatis, menyedihkan, dan permasalahan yang tak berujung. Pertemuan dengan ibunya di Amerika Serikat bukan berarti akhir yang bahagia, ada dendam masa lalu dimana ia merasa ditinggalkan oleh ibunya. Sementara Sang Ibu merasa ini adalah bagian dari pengorbanannya demi kehidupan anak-anaknya yang lebih baik.

Epik tentang lingkaran kemiskinan yang tak berujung...



Jakarta, 030908
Menanti Saat Berbuka..

Thursday, August 28, 2008

Apa Yang Dilakukan Para Perempuan Di Social Media?

Beberapa hari yang lalu. saya lagi-lagi terhenyak pada sebuah obrolan dengan seorang teman. Dia mengganti statusnya dari "In Relationship" menjadi "Single", setelah melihat pacarnya yang nun jauh mengganti statusnya juga menjadi "Single". Ceritanya ini sebuah aksi balas dendam.

Intinya adalah, ternyata para perempuan ini, begitu detilnya ketika melihat hal-hal yang sangat pribadi di social media. Karena sebelumnya saya seringkali dapat gosip terbaru dari para teman-teman perempuan, katanya si ini sudah putus, si anu ganti pacar. Atau yang lain lagi, sedang diujung tanduk hubungannya. Terus setelah ditanya dari mana mereka tahu? Jawabannya semua sama, status Friendster!!!!

Wah, wah, wah ternyata hal seperti ini penting yah bagi para perempuan. Jujur saya tidak pernah memperhatikan status seseorang. Sebenarnya ini tidak terlalu mengherankan, kalau di dunia nyata para wanita biasanya mengintip status terutama para pria dari cincin yang melingkar. Kalau belum ada cincin, berarti masih ada peluang nih, selalu ujungnya kesana.

Lalu apa sesuatu yang lebih besar dari semua ini. Ini memberikan sebuah petunjuk bahwa para perempuan itu memang menyukai informasi yang sangat personal. Bukan hanya di dunia nyata mereka suka bergosip, ternyata di dunia maya pun perilakunya sama.

Lalu apa konsekuensinya? Saya membayangkan, bila membangun sebuah komunitas online atau sebuah website yang menyasar para wanita, maka website ini harus sesuai dengan karakter ini. Semuanya harus bersifat personal, dari segi bahasa, hingga isi yang ada di dalamnya. Semua harus mengambil tema soal-soal yang sangat pribadi, hal-hal yang mungkin bagi para pria tidak penting akan sangat penting buat mereka.

Dan celakanya kebanyakan developer website dan orang-orang yang bermain di dunia ini adalah para pria. Apakah para pria ini, bisa sebegitu memahami dunia perempuan? Disinilah peran pemasar dan pemilik brand harus lebih berhati-hati. Dan pintar-pintar mengarahkan para developer website, untuk mengerti apa sih yang sebenarnya dibutuhkan targer konsumennya. Bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 290808
On Cloudy Friday

Thursday, August 21, 2008

Apa yang Dicari Konsumen dari Plurk???

Saat ini beberapa pecinta teknologi, dan early adopter di Indonesia sedang gandrung dengan Plurk. Makhluk macam apa lagi ini??? Ini semacam blog, tapi sangat singkat. Sekali menulis, maksimal 140 karakter, yah berarti sepanjang sms.

Plurk dikategorikan sebagai micro blogging, kenapa disebut mikro?? Ya karena nulisnya pendek-pendek. Nah kalo blog biasa, itu orang seperti dituntut untuk nulis panjang-panjang, dan komitmen yang tinggi untuk sharing sesuatu yang penting ke kalayak yang luas.

Nah di micro blogging ini, justru sharing hal-hal yang nggak penting. Misalnya makan siang dimana, lagi ngapain, dll. Lalu mungkin banyak yang bertanya, mang penting ya? Nyatanya penting tuh.

Plurk sedang jadi bahan pembicaraan di banyak milis, dan juga dalam ajang kumpul-kumpul. Sepertinya selain konsumen kita suka narsis, mereka juga selalu ingin tahu, dan sangat perduli dengan apa yang dilakukan teman, tetangga ato sodara... Nah sepertinya fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh para penggagas microblogging.

Nah apa yang kemudian perlu diketahui oleh pemasar? Disini konsumen biasanya suka pamer sekaligus komplen lho... Misalnya mereka pamer, makan siang dimana, jalan-jalan ke mall mana. Bukankah ini sebuah media PR yang sangat okeh? Bayangkan bila dia pengguna Plurk yang gaul, dimana ada ratusan atau mungkin ribuan teman. Plus fans-fans yang bertebaran.

Tapi merek Anda juga akan segera tamat, bila tiba-tiba ada yang ngeluh di Plurk-nya. Semisal kemarin saya membaca Bos saya mengeluhkan soal XL 3G yang sekarang katanya makin lambat. Waduh jujur saja, saya langsung ilfeel dengernya. Kalo misal ada temen nanya soal 3G, buru-buru saya tidak akan merekomendasikan XL, karena teringat komentar di atas.

Plurk juga bisa jadi ajang ngerumpi berjamaah. Seorang pengguna Plurk saya temukan sedang berbagi iklan atau videoklip kesukaan gituh lupa. Nah dimasukkan juga tuh linknya. Internet saat ini dengan segala penemuan baru, menyebabkan informasi beredar semakin cepat, baik itu baik ataupun buruk...


Jakarta, 210808
Hari yang Panas...

Wednesday, August 20, 2008

Bilangan Fu: Sebuah Lelaku Spiritual..

Pertama kali melihat buku karya Ayu Utami ini, hanya satu kata "Harus Beli". Kenapa? Sangat sederhana dan sentmentil, halaman sampulnya keren heheheh. Terus setelah dilihat ternyata yang menulis Ayu Utami, hmmm kayaknya makin yakin kalo bukunya ok. Plus baca sinopsis halaman belakang, sepertinya novel ini menawarkan sebuah cerita yang tidak biasa...

Lalu apa komentar setelah membaca. Saluttt untuk Ayu Utami, karena sangat jarang penulis di Indonesia yang mau menulis novel dengan sangat panjang, dan melakukan sebuah riset yang sangat panjang.

Novel ini mengangkat tiga tokoh utama Marja, seorang wanita tangguh. Yuda seorang pria yang selalu skeptis melihat kehidupan, dan kadang merendahkan orang lain. Dan Parang Jati, yang lahir dengan jari enam, dan diajarkan untuk punya kepekaan sosial yang tinggi.

Novel ini akan membawa kita pada relung yang paling dalam di benak para pemanjat gunung. Namun inti sebenarnya adalah sebuah proses untuk lebih mendalami spiritualisme yang lebih luas dibandingkan sekedar agama.

Ayu Utami sebagai seseorang yang bergaya posmodernisme, berusaha mengulik lagi dan mempertanyakan tentang modernisme dan monoteisme. Ayu melakukan pembelaan pada tradisi-tradisi kuno semisal sesajen dan sinkretisme antara kebudayaan islam dan praislam di Jawa.

Ayu sebagai anak dari posmodernisme, berusaha bersimpati dengan dunia klenik, dan mencari jawaban rasional ala generasi masa kini. Untuk memberikan penjelasan mengenai tradisi, dan cara berpikir generasi masa lalu.

Novel ini, masih juga mengangkat tema-tema feminisme yang pekat, namun dengan bahasa yang lebih halus dan anggun. Tidak lagi meledak-ledak dan memberontak seperti yang dipertontonkannya di novel sebelumnya, Saman dan Larung.

Novel ini adalah sebuah oase untuk pecinta sastra anak negeri. Karena beberapa waktu belakangan ini, aku sepertinya tidak menemukan sebuah karya sastra dalam negeri yang digarap dengan serius. Karena saat ini tren sedang bergerak ke arah novel-novel pop yang ringan.

Tak ada yang salah dengan genre ini, karena memang pasar lebih menyukai karya-karya seperti ini. Seperti halnya, konsumen lebih suka sinetron lebai, atau film-film hantu yang tak mendidik. Sisi positif dari kehadiran jajaran novel pop ini adalah, semakin banyak generasi muda yang suka membaca. Karena selama ini orang Indonesia dikenal dengan minat baca yang sangat rendah.

Sekali lagi, Bilangan Fu adalah sebuah novel yang wajib dibaca. Karena novel ini merupakan nukilan potret negeri saat ini. Novel ini mengajarkan kita untuk lebih toleran, dan belajar melihat sesuatu dari kacamata orang lain...


Jakarta, 200808
Sebuah Pertanyaan untuk Toleransi?

Friday, August 15, 2008

Oleh-Oleh dari IYCEY 2008

Tanggal 1-3 Agustus yang lalu, aku mendapatkan anugerah luar biasa menjadi finalis International Young Creative Entrepreneur of the Year 2008. Dan yang lebih menyenangkan lagi, aku menjadi finalis untuk dua kategori sekaligus yaitu Communication dan Interactive, sebagai finalis termuda.

Kegiatan tahunan ini dipersembahkan oleh British Council, untuk mereka yang bekerja atau mempunyai perusahaan di sektor industri kreatif berumur 25-35 tahun. Untuk tahun ini, ada empat kategori yang dilombakan yaitu Screen, Fashion, Interactive, dan Communication. Para pemenang dari Indonesia akan pergi ke UK, untuk bersaing dengan peserta dari negara lain, dan memperebutkan hadiah utama uang senilai 7,500 pounsterling.

Walaupun tidak menang, aku merasa sangat beruntung. Mengapa? Karena aku bisa berkumpul, dan berteman dengan orang-orang yang sangat hebat, dan punya visi yang jauh ke depan. Masing-masing dari mereka mempunyai karya andalan yang sangat bagus, dan yang paling penting punya visi untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan bangsa ini.

Kedua, aku bisa membangun jaringan bisnis, dan deal-deal bisnis dengan sesama finalis. Kita juga bisa membuat sebuah proyek-proyek gila dan kreatif dengan berkolaborasi sesama finalis, yang mempunyai keahlian masing-masing.

Ketiga, bertemu dengan orang-orang muda yang walaupun berprestasi segudang, tapi gak jaim, dan asyik banget sebagai teman berbagi, dan juga sebagai teman bergila-gilaan. Ini adalah orang kreatip Bung, kalo gak gaul dan gila perlu dipertanyakan kreativitasnya hehehe.

Ajang ini merupakan wadah yang bagus bukan hanya untuk berkompetisi, tapi sekaligus mengukur seberapa besar sih yang sudah dikontribusikan bagi bangsa ini. Negara ini butuh generasi muda yang tangguh, berpikiran terbuka, dan kompetitif. Ini bukan saatnya leha-leha, banyak mengkritik tapi sedikit bertindak. Mari kerjakan apa yang kita bisa untuk perbaikan negeri ini.

Aku berharap tahun depan semakin banyak entrepreneur kreatif Indonesia yang ikut menjajal ajang ini. Tunjukkan bahwa generasi muda Indonesia itu adalah generasi yang kreatif dan kompetitif, tidak takut untuk bersaing.

Terkadang aku suka merasa sedih melihat banyak teman, yang males ikut ajang-ajang kompetisi. Alasan paling sering adalah, merasa belum pantas dan belum banyak yang diperbuat. Apakah kita sendiri bisa menilai apa yang telah kita kontribusikan? Kenapa tidak mencoba saja, dan biarkan orang lain yang menilai pantaskah kontribusi kita diberikan sebuah penghargaan?

Bagaimanapun hidup ini adalah tentang kompetisi, namun sekaligus kolaborasi. Jadi kutunggu di IYCEY 2009, karena aku akan kembali dengan persiapan yang lebih baik lagi tentunya....

Thursday, August 14, 2008

Konsumen Itu Butuh Didengarkan...

Ada sebuah cerita menarik, ketika saya menjadi organizer acara Blogger Writing Competition "Liburan Bersama Kijang". Di e-mail kontak, saya tiba-tiba menemukan sebuah e-mail keluhan dari pengunjung.

Nama : jhal
Alamat : dunia maya
Hp : 085238207238
Pertanyaan : emang semua blogger pake mobil kijang??? kalo cerita blognya liburan keluarga naik andong tapi yang narik kijang gimana??? dasar ngadain lomba syaratnya kok berlebihan...

http://bintang-terasing.co.cc neh blog orang miskin neh cuihhhh


Lalu, saya merespon e-mail itu seperti ini:

Dear jhal,

Terima kasih untuk komentarnya. Sebenarnya dalam lomba ini tidak
mengharuskan semua peserta untuk memiliki sendiri mobil Kijang, tapi bisa saja mobil teman, tentangga, atau sewa mungkin. Mungkin bisa dilihat lagi di syarat dan ketentuan.

Pihak Toyota hanya bertujuan untuk mempromosikan semangat ngeblog, mohon maaf bila lomba ini tidak berkenan di hati Anda.


Salam,

Panitia


Lalu sangat menakjubkan reaksi beliau saat menerima e-mail saya:

wahhhhh saya benar-benar salut...
ternyata hanya untuk komentar gak berguna seperti ini masih sempat juga dibalas...

mohon maaf telah karena telah menganggap syarat tersebut berlebihan...
mungkin jika akan mengadakan lomba blog lagi... lebih baik *tidak mencantumkan persyaratan yang berupa materi.*..

terima kasih untuk tanggapannya dan sekali lagi *mohon maaf *dan saya juga ingin mewakili komentar dari para blogger laen yang telah mengungkapkan tanggapan yang sama dengan yang telah saya utarakan sebelumnya.

hormat saya,
jhal sang *Bintang Terasing


Perbincangan melalui e-mail ini telah mendapatkan persetujuan dari beliau untuk dipublikasikan. Nah apa pelajaran menarik yang bisa kita ambil? Bahwa sebenarnya konsumen itu terkadang hanya ingin didengarkan.

Saat ini trennya adalah dialog antara produsen dan konsumen secara personal. Pemilik merek tidak bisa lagi tampil menjadi super brand yang ingin terlihat sempurna tanpa cacat.

Konsumen sebetulnya tahu, bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, yang mereka butuhkan hanyalah seorang pendengar. Maka lebih banyaklah mendengar mereka, maka mereka dengan senang hati akan menjadi brand evangelist produk Anda.

Teknologi saat ini telah memungkinkan produsen untuk berkomunikasi dua arah dengan konsumennya. Maka sudah saatnya produsen belajar menjadi pendengar yang lebih baik. Konsumen saat ini sangat berlimpah pilihan, pengambilan keputusan membeli akan lebih banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya emosional, misalnya perasaan didengar keluhannya.

Jakarta, 140808
Sebuah Hari yang Menegangkan...

Thursday, August 07, 2008

Kontemplasi Pagi Hari...

Yayaya, ada saatnya hidup sedang mengalami penurunan. Drastis, hopeless, don't know what to do... Namun pertanyaan selanjutnya apakah akan menyerah begitu saja pada keadaan? Tidak-tidak, tentu saja.

Walaupun kekesalan itu segunung, walau kemarahan itu kadang membuncah. Apalagi kalau kau tahu, bahwa kamu hanya dijadikan tumbal untuk sesuatu yang orang lain menghindari untuk melakukannya. Ketika kau tahu, seseorang masuk, dan tahu ini akan sulit, maka kau diseret untuk membilas dan merampungkan.

Pantaskah aku marah? Jangan-jangan aku yang terlalu reaktif menanggapi keadaan. Deuhhhh kadang hidup ini terlalu kompleks untuk dinalar. Kadang butuh kesabaran luar biasa untuk menghadapi tekanan, dan ekspektasi yang begitu besar dari begitu banyak orang.

Pertanyaannya tak selamanya kita bisa menjadi Batman yang baik hati, tapi kadang wajah-wajah Joker sesekali muncul. Dan itu juga terjadi pada orang lain. Saat seperti inilah, saat dimana empati, dan kemampuan untuk mengatasi tekanan benar-benar teruji.

070808
Sebuah Pagi Khas Jakarta...

Tuesday, July 29, 2008

The Last Empress: Pertarungan Diplomasi Dalam Bungkus Sejarah

"The Last Empress", adalah sekuel dari buku "Empress Orchid" yang pernah ditulis resensinya disini. Bila dalam novel sebelumnya, kita akan dibawa dengan keindahan kota terlarang, dan betapa repotnya tatacara kekaisaran Cina. Maka pada sekuel ini lebih banyak nuansa kelabu.

Kekaisaran Cina yang mulai rapuh, kekuatan asing yang semakin merajalela. Disinilah kita akan disuguhi sebuah dongeng tentang diplomasi antarnegara. Bagaimana diplomat Cina di masa itu, harus bernegosiasi untuk mempertahankan wilayahnya dari negara asing.

Sementara di dalam negeri sendiri, terjadi pergolakan yang luar biasa, menuntut Kaisar mengusir kekuatan asing. Tarik-menarik kepentingan tergambar juga dengan jelas disini. Dan akhirnya aku belajar bagaimana seorang pemimpin harus mempertimbangkan begitu banyak variabel saat mengambil keputusan.

Bagaimana Ratu Yehonala, yang sudah mulai renta, harus berpikir keras menjaga keseimbangan politik untuk menjaga kelanggengan dinastinya. Di satu sisi, dia tahu tidak akan mampu menghadang kekuatan asing keluar dari negaranya. Karena melawan secara frontal berarti bunuh diri. Karena kekuatan militer Cina tak akan mampu membendung pasukan asing, dan teknologi mereka yang canggih.

Cina yang mengagung-agungkan dirinya sebagai yang terhebat, dan menganggap orang-orang Barat itu sebagai Bangsa Barbar, telah disadari oleh Ratu Yehonala sebagai sebuah kesalahan besar.Cina mungkin mempunyai teknologi tinggi di masa lalu, tapi kini mereka kalah jauh dengan teknologi yang dimiliki oleh negeri Barat.

Di sisi lain, golongan konservatif tidak menginginkan perubahan. Mereka juga tidak menginginkan adanya orang-orang asing amsuk ke negaranya. Mereka mulai menghasut untuk menciptakan kebencian pada orang asing. Kemudian menimbulkan sebuah gerakan yang disebut "Boxer". Mereka adalah para petani miskin yang putus asa, karena berbagai bencana alam, yang menyebabkan mereka gagal panen dan kelaparan.

Konteks seperti ini, seakan mirip dengan apa yang terjadi saat ini. Sejarah memang berulang. Dan saatnya kita mulai belajar. Sangat impresif, karena aku belajar bagaimana seorang diplomat yang piawai bernegosiasi. Dan seorang pemimpin sejati harus mengakomodasi dan mengambil keputusan yang sulit.


Jakarta, 290708
Dalam Sebuah Penantian

FX Plaza: Mengakomodasi Gen Y yang Narsis

Mall-mall sudah sangat banyak di Jakarta. Bahkan banyak orang berkomentar, "Hahhhh bangun mall lagi?" Kebanyakan konsumen sepertinya sudah muak dengan kehadiran mall-mall baru.

Namun konsep baru yang ditawarkan oleh FX Plaza, segera disambut gegap gempita oleh para pecinta gaya hidup. Ketika pertama kali ke mall ini, sekitar lima hari setelah dibuka, mall ini masih relatif sepi. Tapi minggu berikutnya sepertinya pengunjung sudah membludak.

Lalu apa istimewanya? Mall ini mengambil pasar yang sangat khusus, para kaum muda urban berduit, profesional muda yang doyan nongkrong-nongkrong dan jalan-jalan. Makanya jangan heran bila tenant yang ada sebagian besar didominasi restoran, dan jualan aksesoris.

Mall ini juga menawarkan slider, yang kemudian menjadi senjata utama untuk menciptakan viral marketing. Belum lagi bila Anda melihat ruangan-ruangan yang disewakan sebagai tempat meeting, transparan, dan sekaligus bisa untuk Karaoke. Ide yang cerdas...

Tenant-tenant yang belum dibuka pun disulap menjadi tempat pameran hasil karya seni instalasi, yang tentu saja bertujuan untuk menjadi obyek foto yang menarik. Bayangkan kemudian foto-foto ini tersebar di blog, friendster, facebook, atau mailing list. Bukankah itu menjadi publikasi murah untuk FX Plaza?

Mall ini benar-benar memahami Gen Y. Mengapa? Saat ini Gen Y adalah generasi baru yang mempunyai daya konsumsi yang tinggi. Mereka lahir dari awal 1980-an hingga akhir 1990-an. Mereka saat ini adalah para pekerja muda, dan remaja. Generasi ini adalah generasi yang sering disebut generasi yang suka nongkrong dan jalan-jalan, serta narsis, dalam segi pekerjaan mereka banyak membuat pusing para HRD karena pembosan, banyak tuntutan, dan ingin bekerja dengan gaya yang kasual. Mereka ini lahir di era teknologi, dan ekonomi yang sedang tumbuh pesat.

Inilah yang sepertinya ditangkap oleh FX Plaza. Dimana para Gen Y yang banyak tuntutan ini, difasilitasi untuk bisa bekerja sekaligus bersosialisasi. Dan terbukti pendekatan ini sukses berattt, menangguk banyak pengunjung. Di tengah kebanyakan mall, yang menyasar segmen keluarga.


Jakarta, 290708
I Wish My Dreams Come True

Friday, July 25, 2008

Menggali Potensi Facebook untuk Pemasar...

Betul sekali, sekarang konsumen sekali lagi telah berubah. Kalo dulu friendster merajalela. Sekarang? "Hari gene masih main friendster, facebook dong." Indikatornya apa? Ketika bertemu teman-teman baru, yang ditanya bukan lagi "Fs-nya apa?" Tapi "Facebook loe apa?". Indikator lain, ketika mendengarkan di radio-radio, majalah, dan media-media lainnya, nama facebook sudah sangat jamak disebut.

Lalu bagaimana mengantisipasi perubahan ini bagi pemasar? Pertama ya harus kenal dulu apa itu facebook. Bagi beberapa orang, facebook memang terlalu rumit, dan menghabiskan waktu. Terlalu banyak fitur, itu komentarnya.

Namun semakin Anda terbiasa, maka akan tahu betul bahwa social media baru ini, lebih ampuh dibandingkan friensteruntuk kampanye pemasaran. Facebook memungkinkan pihak ketiga untuk menempelkan pernak-pernik sendiri, dan memilih berbagai fitur yang sesuai dengan keinginan.

Dan sudah menjadi standar, bahwa pemasar menggunakan facebook untuk woro-woro sekaligus mengundang massa, melalui fitur "invitation" di Facebook. Beberapa yang lainnya menggunakan fitur "groups", dan "fans of" untuk mencari massa, dan mendapatkan insight dari konsumen.

Lalu apa hal yang tidak biasa yang mungkin belum terpikirkan? Kelebihan Facebook, dibandingkan Friendster yang saat ini sedang saya gemari adalah "Tag Photo". Dengan fitur ini, maka saat foto bersama, sesama pengguna facebook bisa "tagging" atau menandai orang lain yang ada dalam foto tersebut, dan akan terkirim ke facebook orang yang di tag.

Dan ini tentunya menimbulkan keriuhan tersendiri, terutama soal komentar. Bayangkan bila dibuat sebuah konsep dimana, sebuah brand, berada ditengah-tengahnya. Alangkah riuhnya, dan ekspose terhadap brand semakin kuat, karena orang Indonesia sangat suka saling mengomentari.

Dengan memanfaatkan facebook ini ada beberapa hal yang bisa dicapai yaitu brand awareness dan viral. Namun jelas yang bisa menggunakan cara ini, tentu saja brand yang bisa menonjol ditengah kerumunan, misalnya mobil, resto, ada ide lainnya? dan segmen yang memang familiar dengan facebook.

Ini memang masih ide mentah, masih banyak detik eksekusi yang harus dimatangkan? Bagaimana menurut Anda? Berani mencoba?

Jakarta, 250708
Akhirnya Bisa Dikit Napas...

Tuesday, July 22, 2008

Empress Orchid: Pergolakan di Tengah Dunia yang Berubah..


Hanya satu kata untuk novel ini "luarrrrr biasaaaa". Karena novel ini bukan hanya menghantarkan detil-detil mengenai Kota Terlarang, dengan berbagai tradisinya. Tradisi yang membuat tercengang, sekaligus pusing membayangkan alahkah repotnya menjadi Kaisar dan Permaisuri di negeri itu.

Novel ini mengisahkan tentang Ratu Yehonala, yang berjuang melawan intrik di Kota Terlarang. Posisinya sebagai selir kerajaan yang kemudian memegang tampuk kekuasaan, membuatnya harus pandai membawa diri, karena sekian banyak musuh yang berusaha menjegal dan menantikan kejatuhannya. Ia harus memim[pin Cina, di saat keadaan yang bergolak.

Catatan penting lainnya dari novel ini, adalah bagaimana sebuah kekaisaran yang telah berumur ribuan tahun harus mengalami nasib yang sangat mengenaskan akibat ketidakmampuannya menghadapi perubahan yang bergulir di luar. Kebijakan Cina pada masa itu yang mengisolasi dari negara lain, dan menganggap peradabannya adalah yang tertinggi di dunia, harus menelan pil pahit, dan mengalami kekalahan yang memalukan.

Kekaisaran Jepang juga mengalami nasib yang sama sebelumnya. Mereka dipaksa oleh kekuatan Barat untuk membuka diri mereka atas isolasi dari negara lain. Namun mereka mampu bangkit lebih cepat, segera mencanangkan reformasi besar-besaran yang dikenal sebagai Restorasi Meiji.

Dalam novel ini digambarkan, bagaimana Kekaisaran Cina yang agung, dipaksa membuka diri dan wilayahnya dicaplok oleh negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Rusia, bahkan juga Jepang yang baru saja mengalami kebangkitan, dan menjadi sangat agresif serta ekspansif.

Kekalahan Cina dalam Perang Candu menyebabkan Cina harus rela kehilangan beberapa wilayah, dan masih ditambah pula mereka harus membayar kompensasi biaya perang. Dalam novel ini tergambar jelas, bagaimana teknologi Cina kalah jauh dibandingkan negara-negara Barat, misalnya pandangan terkagum-kagum Ratu Yehonala tentang teknologi jam.Ini merupakan hadiah dari negeri Barat untuk Kaisar.

Novel ini memberikan sebuah pembelajaran berharga bukan hanya tentang detil sejarah, dan kebudayaan. Tetapi juga perenungan bahwa perubahan adalah keharusan. Statis berati bersiap menggali kuburan, dan layu dengan keadaan yang memalukan...

Jakarta, 220708
Waktu Luang yang Smakin Mahal Buat Ngeblog...

Monday, July 14, 2008

IIMS 2008 dan Saatnya Berlomba Branding..

Hari jumat kemarin, diundang oleh Toyota Astra Motor, pada pameran Indonesian International Motor Show (IIMS) 2008. Pengalaman yang sangat mengasyikkan, karena undangan khusus ini diberikan dalam kapasitas sebagai blogger.

Lalu apa yang menarik dari IIMS? Saya melihat bahwa ajang ini lebih banyak dijadikan sebagai sebuah ajang branding oleh banyak perusahaan. Toyota misalnya dengan sangat cerdas menampilkan I-Real yang diharapkan menjadi pusat publikasi dan bahan pembicaraan . Toyota juga menampilkan mobil Prius, yang belum hadir secara resmi di Indonesia. Namun mulai diperkenalkan kepada publik.

Kehebatan Toyota adalah, mampu menggiring para menteri yang meresmikan acara ini untuk pertama kali mengunjungi stand Toyota, dan mempersilahkan Ibu Marie Pangestu untuk mencoba I-Real. Bayangkan berapa banyak publikasi yang bisa dihasilkan dari sini, karena kehadiran para pejabat tentunya membawa kerumunan wartawan, dan itu berarti publikasi gratis bagi Toyota.


Isuzu, lebih ekstrim lagi dalam urusan branding mereka lebih banyak menampilkan mobil-mobilnya dalam balutan stiker bergambar senyuman anak-anak Indonesia. Ini adalah kerjasama antara Isuzu dengan Unicef. Sepertinya Isuzu ingin dipersepsikan sebagai produsen yang mempunyai keperdulian sosial yang tinggi.


Honda lain lagi, tampil dengan konsep muda dan urban, dimana tembok-temboknya dihiasi dengan pemandangan gemerlap lampu perkotaan, disamping parade mobil-mobil keluaran terbaru dari Honda. Sangat atraktif, dan menarik. Honda juga menampilkan aksi teatrikal, dengan mengangkat tema utama tentang pemanasan global yang saat ini isunya sedang hangat-hangatnya...




Jakarta, 140708
Mengapa Hari Ini Begitu Panas???

Thursday, July 10, 2008

Masyarakat yang Postmo..

Beberapa hari yang lalu bersama teman-teman, aku menonton film Kungfu Panda, dan Han Cock. Ada yang menarik dari kedua film ini yang membentuk satu benang merah, apaan tuh??? Jadi begini kedua film ini menjungkirbalikkan serta mempertanyakan kembali konstruksi sosial yang telah terbentuk selama ini.

Kalau selama ini Anda membayangkan seorang pahlawan itu, gagah, tampan, pemberani, dielu-elukan dan dipuja. Maka kedua film ini mempertanyakan kembali tentang ide-de tersebut.

Kungfu Panda, menampilkan sosok Panda yang menjadi pahlawannya. Pahlawan yang gendut, dari kalangan biasa, yang mendadak sontak harus memenuhi ekspektasi, dan jalur takdir bahwa dialah Sang Pahlawan yang dinanti.Sosoknya yang gendut dan sedikit pengecut, merombak pandangan selama ini bahwa seorang pahlawan itu adalah seorang sosok yang selalu tampil sempurna.

Kedua, Hancock juga menampilkan sosok pahlawan yang bergaya preman, selengekan, mengalami depresi karena kesepian, dan serasa belum cukup sampai disana dia juga dibenci oleh masyarakat. Karena niatan dia untuk membantu, justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar lagi.

Selamat datang, di era dimana kemapanan ide, dan konstruksi sosial dipertanyakan. Semoga dengan cerita-cerita yang seperti ini, menciptakansebuah generasi yang lebih cerdas. Karena mereka dibenturkan pada banyak ide yang bertolak belakang, bukan sebuah ide mapan yang menggerogoti kreativitas...

Tuesday, July 01, 2008

Menghitung Online PR Value???

Dalam dunia PR tradisional, sudah ada rumus baku dalam perhitungan konversi nilai dalam uang, dari sebuah publikasi. Misalnya dihitung 2 X rate iklan X jumlah kolom. Lalu saya sedang membayangkan, bagaimana dengan perhitungan online PR Value?

Karena ada banyak hal lain yang sangat khas online yang seharusnya juga diperhitungkan dalam perhitungannya. Misalnya:
1. PageRank (peringkat dari sebuah situs atau blog)
2. Jumlah pengunjung yang tentunya sangat fluktuatif
3. Agregator Blog, dimana blog tersebut terdaftar pada sekumpulan blog yang akan terupdate setiap hari.
4. Jumlah pelanggan RSS Feed

Lalu bagaimana PR Value akan bisa dihitung dengan sangat banyaknya variabel seperti ini? Padahal perhitungan PR Value itu sangat penting untuk meyakinkan manajemen puncak, apabila mereka ingin melakukan investasi di Online PR.

Adakah yang bisa memberikan jawaban formula perhitungan Online PR Value, atau mungkin variabel tambahan yang mungkin perlu dipertimbangkan dalam penghitungan ini?


Jakarta, 010708
Berjuang Keras Melawan Kebosanan

Sex and the City: Drama Kapitalisme yang Kesepian

Beberapa waktu yang lalu, aku dan beberapa orang teman nonton film Sex and The City. Motivasi utama karena penasaran saja, bagaimana akhir cerita dari serial drama ini yang sempat booming beberapa tahun lalu. Teringat waktu jaman kuliah dulu, biasanya nonton bareng-bareng dikosan teman, untuk menghibur diri dengan drama para wanita New Yorker dengan gayanya yang berani dan agresif.

Lalu bagaimana dengan filmnya? Tidak menecewakan, masih tampil dengan gaya khas Sex and the City, hamburan Manolo Blahnik, Louis Vuitton,dan produk bermerek lainnya. Masih juga tentang Samantha yang selalu tak tahan dengan godaan pria-pria muda yang tampan nan seksi.

Namun dibalik kesuksesan film ini menghibur. Ada sebuah cerminan dari problematika masyarakat kapitalis Amerika. Bukankah sebuah produk budaya, adalah cerminan dari dinamika masyarakatnya???

Dibalik keglamoran kehidupan keempat wanita setengah baya Carrie, Samantha, Miranda, dan Charlotte. Tersimpan problema masyarakat kapitalis yang mengalami kekosongan jiwa, dan kerinduan akan cinta dan kasih sayang. Lihatlah kehidupan Charlotte yang serba sempurna, rumah mewah, suami yang baik. Namun hidupnya kurang lengkap, karena ia belum juga mempunyai anak sendiri. Seperti bisa ditebak, Charlotte akhirnya hamil dan melahirkan anak perempuan yang cantik.

Lain lagi dengan Miranda, yang sempat gonjang-ganjing pernikahannya akibat perselingkuhan. Suaminya Steve mengaku tidur dengan wanita lain, karena Miranda sejak lama ogah diajak bermain sex. Miranda terlalu stres dengan pekerjaan, dan mengurus keluarga, yang membuatnya hampir frigid. Pernikahan mereka akhirnya dapat diselamatkan, dengan sebuah cara rekonsiliasi yang sangat irasional. Suatu ide yang menjungkirbalikkan cara berpikir Miranda yang sangat rasional, dan penuh perhitungan.

Berkebalikan dengan Miranda, Samantha penggila sex, punya kekasih yang jauh lebih muda dan seksi. Kehidupan sexnya masih seminggu 3-4 kali. Namun ia tak mampu menahan godaan pria seksi tetangga sebelah, yang sangat menggoda. Di tambah lagi ia merasa kesal dengan kekasihnya yang makin lama makin sibuk. Sementara ia hanya di rumah, dan dipenuhi semua kebutuhannya. Ia merasa kehilangan independensinya, walaupun semua kebutuhannya dipenuhi.

Adegan paling kentara mengenai hal ini, terlihat saat Samantha yang sedang stres meredam godaan Sang Pria Seksi dengan berbelanja beberapa buah tas Louis Vuitton dan berbagai produk bermerek lainnya. Namun pada akhirnya, Samantha lebih memilih meninggalkan keglamoran LA, dan kekasihnya. Karena ia merindukan kebebasan, independensinya, serta kebersamaan dengan teman-temannya di New York.

Paling mencolok dari kejenuhan kapitalisme dipertontonkan oleh kehidupan Carrie. Seorang penulis sukses, yang pernikahannya akan disponsori oleh majalah Vogue, sebagai pernikahan impian Amerika. Pernikahan yang bertaburan produk kelas satu mulai dari Vivian Westwood, Carolina Herera, wedding organizer terbaik, dan deretan perancang terbaik lainnya. Namun ternyata pesta pernikahan akbar itu tidak berakhir sempurna bak dongeng. Mr Big, calon suaminya dilanda keraguan di saat-saat terakhir sebelum pernikahan.

Carrie akhirnya harus belajar menata hidupnya sendiri, bertemu dengan seorang Personal Assistant yang memakai tas Louis Vuitton (LV) sewaan. Adegan paling mengharukan adalah dalam sebuah dialog yang kira-kira seperti ini, "Ini adalah tas LV paling worthed yang perna kubeli". Tas Louis Vuitton ini dibeli oleh Carrie untuk Personal Assitant-nya. Cerminan tentang pemujaan pada LV ternyata bukan segalanya, tapi berbagi kebahagiaan merayakan LV bersama Personal Assistant-nya lah, yang membuat hidup lebih berarti.

Di akhir cerita, Carrie bisa ditebak menikah dengan Mr Big. Namun bukan dengan pernikahan meriah ala Cinderella, bukan di sebuah hall besar dengan gaun pengantin terbaik. Namun hanya pernikahan sangat sederhana, seperti halnya kebanyakan pasangan pas-pasan di catatan sipil, dimana hanya ada mereka berdua. Yayaya, hanya mereka berdua, dan tentunya para hakin, dan antrian pengantin berikutnya yang mirip pernikahan massal. Dan ditutup dengan manis, kejutan kehadiran tiga orang sahabatnya...

Sex and the City sebenarnya tidak lagi bicara tentang pemujaan pada kemewahan dan produk bermerek. Tapi lebih pada menunjukkan, keempat wanita New Yorker yang sukses ini, telah jenuh dengan kapitalisme. Kapitalisme dengan kemewahan individualnya membuat mereka terasing. Mereka ingin kembali pada kesederhanaan, kembali pada pelukan keluarga, dan teman-teman...

Jakarta, 010708
Untuk Sebuah Pagi...

Friday, June 27, 2008

Seberapa Efektif Internet, Dibanding Media Lain???

Pertanyaan ini sepertinya menjadi pertanyaan setiap pemasar dan praktisi PR di Indonesia. Efektifkah internet mempengaruhi konsumen? Ada sebuah peneltian menarik yang dilakukan di Eropa, diktuip dari FutureLab. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa negara di Eropa, diambil kesimpulan, bahwa internet dua kali lebih berpengaruh pada konsumen dibandingkan televisi, dan delapan kali lebih berpengaruh dibandingkan media cetak.

Ujung-ujungnya kembali lagi kepada siapa yang memberikan pendapat tentang sebuah produk. Di media cetak dan televisi, konsumen sadar bahwa itu adalah suara dari produsen. Ya tentu saja, produsen akan bilang produknya nomor satu, begitu yang nyangkut dalam benak konsumen.

Namun justru sebaliknya yang terjadi di internet. Konsumen sendiri yang bercerita tentang pengalaman mereka mengkonsumsi sebuah produk. Dan pengalaman itulah yang dibagi ke konsumen lainnya.

Oleh karena itu jangan heran, apabila banyak konsumen yang melakukan riset online terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian. Lalu apa yang harus disiasati dengan perilaku semacam ini?

Sekarang adalah era web 2.0, dimana setiap orang bisa mempublikasikan pendapatnya. Maka perusahaan, seharusnya memberikan fasilitas agar konsumen bisa memberikan review atau opini di website perusahaan. Karena konsumen lain yang akan membeli produk serupa, akan lebih mempercayai opini sesama konsumen dibandingkan suara produsen.

Jakarta, 270608
Detik-detik Menuju Pulkam....

Friday, June 20, 2008

Social Media Marketing: More Than Blogger Relations

Judul ini terinspirasi dari Geoff Livingston, ini sangat menarik, dan memang menggelitik pemikiran saya beberapa waktu belakangan ini. Walaupun saat ini, blogger sedang menjadi primadona. Sudah saatnya memikirkan cara lain untuk melakukan pendekatan ke online social media.

Sebenarnya sebagai pemasar kita sedang mencari orang-orang berpengaruh yang menjadi konektor, di dalam komunitas dan lingkungan sosialnya. Blogger hanyalah satu bagian dari itu, di luar sana masih banyak konektor lainnya yang bverserak di friendter, facebook, dan yang terbaru dan mungkin akan menjadi tren berikutnya setelah twitter, adalah plurk.

Disinilah kelihaian seorang pemasar untuk bisa melibatkan diri dalam komunitas-komunitas itu. Pemasar bukan lagi diharapkan hanya jago membuat planning, budgeting dll. Tapi mereka harus mengerti seluk-beluk media ini, lebih dalam lagi diterima dengan baik dalam komunitas-komunitas dimana produknya memiliki kepentingan disana.

Memang benar selama ini pemasar, adalah orang yang gaul. Tapi ternyata gaul saja tidak cukup, Anda juga diharapkan melek teknologi. Soalnya bagaimana mungkin Anda bergaul dengan blogger, atau orang-orang yang berpengaruh di social media, tapi Anda bahkan tidak tahu bagaimana pengalaman menggunakannya.

Setiap social media punya karakter yang berbeda. Oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan yang sangat berbeda ke masing-masing komunitas ini.

Jakarta, 200608
Sekali lagi, lembur itu pilihan...

Lolita: Tentang Dunia Yang Muram


Kesan pertama yang terbangun dari nove Lolita, yang ditulis oleh Vladimir Nabokov adalah kemuraman. Sebuah percintaan antara seorang paruh baya, dengan seorang anak-anak berusia 12 tahun.

Kisah yang sangat rumit, sebuah percintaan yang sangat tragis. Dengan pendalaman karakter pribadi-pribadi yang nyleneh. Ceritanya seperti datar, konflik seperti dijaga dari awal hingga akhir.

Awalnya serasa agak membosankan membaca novel ini. Karena semuanya serba aneh. Namun kisah percintaan yang tulus dengan bungkus yang aneh bisa direnungkan disini. Novel ini juga membawa pada kehidupan tahun 50-an. Kehidupan dimana televisi sepertinya baru memulai debutnya, dan kehidupan unik lainnya.

Novel ini juga membawa kita pada berbagai kultur negeri Eropa dan Amerika. Karena persentuhannya dengan berbagai negara yang pernah ditinggalinya, membawa novel ini menjadi lebih kaya.

Jakarta, 200608
Malam Hari Masih di Kantor Itu Pilihan...

Wednesday, June 18, 2008

Geliat Visit Indonesian Year 2008 di Dunia Online...

Kampanye Visit Indonesian Year 2008, sangat banyak menuai perdebatan. Banyak yang mengkritik kesiapan negara ini menyambut turis asing. Alasannya, bencana alam, demonstrasi, dan berita negatif lainnya. Belum lagi kampanye ini yang ipersiapkan dadakan, dan tergesa-gesa sehingga gaungnya tidak terlalu meluas.

Tapi sangat menarik kalau melihat langkah yang dilakukan departemen kebudayaan dan pariwisata di dunia online. Selama ini saya pikir, orang-orang departemen itu gaptek, dan tidak melek teknologi.

Ternyata pemikiran ini salah. Saya melihat banyak sekali banner tentang Visit Indonesian Year terpasang bukan hanya di media mainstream seperti portal berita dll. Banner ini ternyata juga eksis di berbagai blog, termasuk Indobackpacker, yaitu blog dari para pecinta jalan-jalan berbudget murah.

Dan yang lebih seru lagi, ternyata mereka juga memanfaatkan Facebook untuk melakukan kampanye. Dan kampanye ini tampaknya lumayan berhasil. Karena groups yang dibentuknya hingga hari ini mampu menyedot simpatisan hampir 13.000 orang. Dan banyak dari simpatisan ini adalah orang-orang asing, dan orang Indonesia yang berada di luar negeri.

Bayangkan dengan membentuk groups di facebook yang gratis ini, mereka bisa mempromosikan situs wisata Indonesia, dan juga file video serta gambar kecantikan alam dan kebudayaan Indonesia. Langkah yang sangat inovatif, disaat para pemasar lainnya bahkan masih gagap dengan teknologi ini.

Disini, para simpatisan juga bisa mengirimkan komentar yang bisa dibaca oleh semua orang. Jadi paling tidak mereka juga bisa mendapatkan insight seperti apa sih cara pandang konsumen tentang Indonesia.

Ini sebuah langkah yang murah dan tepat, karena apa? Target audiens dari Visit Indonesian Year 2008 kan terutama dari manca negara. Dan teknologi internet mampu menjangkau mereka, dengan biaya yang sangat murah.

Jakarta, 180608
Lost in time...

Friday, June 06, 2008

Gebrakan Baru Toyota Menggandeng Blogger

Toyota sepertinya layak diacungi jempol sebagai perusahaan yang sangat inovatif. Setelah sebelumnya Toyota, berhasil membuat kehebohan dengan mengundang Blogger dalam acara Luncheon. Kali ini Toyota kembali dengan sebuah terobosan baru dengan mengadakan blogger writing competition, dengan tema "Liburan Bersama Kijang".

Beberapa perusahaan memang telah melakukan hal serupa. Namun jelas ini menjadi berbeda karena, pertama Toyota menawarkan hadiah yang sangat besar, liburan ke Disneyland. Kedua, Toyota memasang iklan justru di sarangnya yaitu di blog-blog kenamaan, seperti Raditya Dika, Venus, dan Ndoro Kakung. Sehingga iklan yang dipasang memang tepat sasaran, dan langsung bisa terukur seberapa dampaknya pada brand awareness Kijang, dan acara ini sendiri.

Saat ini pemasar tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa untuk memasarkan produknya, dan membuat sebuah produk dikenal oleh publik. Internet dengan segala potensinya mempunya potensi yang sangat besar untuk menciptakan word of mouth sebuah produk. Namun belum banyak pemasar yang mau melakukan hal ini, dengan berbagai alasan.

Terbukti dalam beberapa hari saja, lomba ini menjadi perbincangan di beberapa posting blog, seperti di Virtual, Dian K Irawaty, Bungcip, Mukhlason, Wikimu. Lalu tunggu apalagi??? Saatnya Anda menjadi yang pertama di kategori. Karena yang pertama selalu yang teringat dibenak konsumen.

Jakarta, 090608
Great Monday

Thursday, June 05, 2008

Libur Lebaran…

Liburan lebaran adalah saat yang paling menyenangkan. Karena saat inilah aku bisa berkumpul bersama Bapak, Adik, keluarga besar, dan juga teman-teman lama. Ada sebuah tradisi di keluarga kami, untuk bepergian ke tempat wisata di hari ketiga Lebaran.

Hari pertama biasanya diisi dengan berkunjung ke keluarga dekat untuk bersilaturahmi, dan bermaaf-maafan. Lebaran kedua, biasanya diisi dengan acara halal-bihalal keluarga besar. Nah di hari lebaran ketiga, saatnya kita berlibur ke tempat wisata.

Tahun lalu, kami pergi ke pemancingan. Pemancingan adalah tempat favorit, karena disana kita bisa berkumpul dalam suasana santai, dan penuh keakraban. Pagi-pagi benar semuanya sudah bersiap. Kita biasanya pergi beramai-ramai satu keluarga besar. Untung kita pakai Kijang, jadi bisa muat banyak.

Biasanya kalo acara liburan begini, bukan hanya keluarga inti yang ikutan. Ada nenek, tante, om, sepupu, keponakan, semuanya ikutan deh. Biasanya kita pergi dengan beberapa mobil, tentunya mobil Kijang kesayangan gak pernah ketinggalan.

Soalnya Kijang kan bisa muat banyak orang, terus gak terlalu ribet kalo jalannya gak rata. Kalau bawa mobil sedan wahhh bisa kacau, takutnya terjebak di lobang, soalnya kan bodinya lebih pendek.

Satu lagi enaknya naik Kijang, bisa rame-rame semobil, jadi sepanjang perjalanan bisa sambil ngerumpi-ngerumpi dan nyanyi-nyanyi. Maklumlah semua orang kan sibuk dengan kerjaan, sekolah, kuliah dll. Belum lagi tempatnya mencar-mencar di berbagai kota.

Saat liburan lebaran adalah saat untuk berkumpul dan berbagi cerita. Setiap momen menjadi sangat berarti. Kijang dengan ruang yang lega, dan kapasitas yang besar sangat pas untuk menambah kehangatan diantara kami.

Terima kasih Kijang, berkat Kijang, liburanku menjadi lebih bermakna….

Jakarta, 050608
On The Shiny Day

Wednesday, June 04, 2008

Blogging Bubble, How High Can You Go?

BusinessWeek edisi Indonesia edisi 11 Juni 2008, membahas "Masa Depan Blog" sebagai topik utama. Satu hal yang menjadi perhatian adalah, apakah gelembung blog akan meletus seperti halnya tren yang terjadi di industri dotcom beberapa tahun lalu? Berdasarkan data yang ditulis, technorati mencatat saat ini ada 74 juta blog di dunia, namun saat ini yang aktif hanya sekitar 2-4juta blog. Blog yang dikategorikan aktif, adalah blog yang di update dalam dua bulan terakhir.

Tampaknya di Amerika Serikat, blog sudah mengalami tren penurunan. Walaupun diprediksi, gelembung blog tidak akan meletus. Kalau menurut saya, tren penurunan adalah sebuah kewajaran, karena gelombang teknologi terbaru terus berdatangan. Dan sebagian besar orang, akan beralih ke teknologi baru yang lebih seksi dan mempesona.

Namun seperti halnya teori Darwin, survival of the fittest. Maka dunia blogging akhirnya hanya akan menyisakan para blogger kenamaan yang punya banyak penggemar. Dimana para penggemar itulah yang memberikan energi bagi mereka untuk terus menulis.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Dunia blogging di Indonesia sepertinya baru marak setahun belakangan ini. Dunia blog banyak dilirik, setelah acara Pesta Blogger, yang kemudian mendapatkan liputan yang sangat luas.

Oleh karena itu, dunia blogging di Indonesia sedang masuk dalam tahap pertumbuhan, dan setidaknya masih akan bertumbuh selama satu atau dua tahun ke depan. Dan menurut analisa saya, ada beberapa hal yang menyebabkan blogging akan tetap bertahan, dan terus tumbuh subur di negeri ini.

Pertama
Masyarakat kita itu sedang mengalami euforia dengan kebebasan pers. Jadi blogging menjadi sarana untuk "berteriak", dimana saluran ini dulu tersumbat.

Kedua
Konsumen kita suka berbagi, terutama pengalaman pribadi. Sekaligus kita suka mencari tahu urusan orang lain. Ya jadinya kloplah sudah. Jadi jangan heran bila banyak blog di Indonesia, yang bercerita tentang pengalaman pribadi pun, banyak dikunjungi dan banyak pula dikomentari.

Ketiga
Tipikal orang Indonesia itu, agak konservatif. Tidak terlalu suka mencoba hal-hal baru. Kebanyakan akhirnya mencoba hal baru akibat tekanan sosial, dan ikut-ikutan. Dan karena konservatif ini, biasanya lebih loyal. Silahkan saja lihat, di luar negeri, trennya orang lebih banyak menggunakan Facebook atau Myspace. Tapi konsumen kita, masih setia dengan Friendster.

Jadi ini bisa jadi referensi bagi para pemasar dan praktisi PR di Indonesia. Perkembangan blog di Indonesia sedang bergairah, apabila target audiens Anda ada disana. Sebaiknya segera mendalami dunia ini.

Jakarta, 040608
Afternoon Session

Monday, June 02, 2008

Saatnya PR Kembali ke Selera Asal...

Hari saya membaca sebuah artikel yang menarik, tentang Social PR. Dalam blog ini, konsep intinya adalah mengintegrasikan PR, pemasaran, dan media baru yang sedang menjadi tren saat ini, misalnya situs jaringan sosial, blog dll.

Sebenarnya seperti apa yang ditulis diakhir artikel ini. Ini hanyalah sebuah istilah baru, untuk sebuah praktek yang telah lama dilakukan di dunia PR. Yaitu sebuah semangat untuk memberikan kontribusi bagi komunitas dan masyarakat, yang sempat ditinggalkan selama 20-30 tahun belakangan.

Selama ini, PR telah mengalami perkembangan yang luarr biasa, dimana PR bertugas untuk mengontrol pemberitaan media. Ya, itu sangat mudah dilakukan, ketika media besar mendominasi, dan pihak-pihak yang bisa melakukan publikasi sangat terbatas.

Namun era seperti ini sepertinya tidak relevan lagi saat ini, kini saatnya PR bertugas untuk menjalin hubungan baik dengan konsumen. Bukan saatnya lagi PR berpikir untuk menjadi Sang Dewa pengendali. Ini eranya semua orang bebas berbicara.

Sudah saatnya PR kembali ke selera asal. Berbicara tentang kejujuran, tanpa bisa ditutup-tutupi lagi...

Jakarta, 020608
Late Night

Thursday, May 22, 2008

Nasib Produk Anda di Tangan Google???

Saya terhenyak sejenak, saat mendengar cerita seorang teman. Dia melakukan riset terlebih dahulu mengenai brand-brand Bis antar kota melalui internet, saat kita akan bepergian keluar kota.

Seorang teman lainnya, pernah cerita. Dia melakukan riset terlebih dulu di internet, saat akan berlangganan tv kabel. Lalu apa kesimpulannya? Internet sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian sebuah produk.

Anda mungkin selama ini berpikir, buat apa serius menggarap internet, toh di Indonesia orang masih jarang bertransaksi online. Tapi ingat bahwa konsumen saat ini semakin canggih, sebelum melakukan pembelian mereka melakukan riset dulu di internet. Dan sayangnya mereka ini, adalah mereka yang siap membeli.

Mereka biasanya akan "Googling ajah". Dan google akan menyajikan semua informasi, yang berkait dengan produk yang dicari. Bayangkan bila komplain tentang produk Anda di blog, forum, atau situs suara konsumen semacam pintu.net mendominasi, maka konsumen akan urung membeli produk Anda.

Mungkin Anda berpikir, apakah konsumen akan percaya begitu saja dengan orang-orang tanpa kredibilitas? Sebenarnya selama ini konsumen juga tidak terlalu perduli dengan kredibilitas. Dulu mereka bertanya pada tetangga kanan kiri, teman sekerja, atau orang yang pernah mengkonsumsi produk tersebut.

Nah sekarang, semua itu bisa mereka temukan di internet, dengan lebih terorganisir. Bahkan situs suara konsumen, atau beberapa situs lainnya seperti Amazon, mempunyai fasilitas untuk memberikan rating bagi setiap produk plus kolom komentar yang sangat interaktif.

Kehadiran internet juga menyebabkan searching cost konsumen menjadi sangat murah. Dulu konsumen, tidak terlalu banyak melakukan riset sebelum membeli untuk sekedar membandingkan harga, karena perbedaan harga yang didapat tidak sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari harga yang termurah. Di internet, mereka bisa membandingkan harga produk yang sama dari berbagai gerai di saat yang bersamaan.

Kesimpulannya, ada begitu banyak hal yang berkait dengan produk Anda di internet, bukan hanya sekedar online sales. Konsumen mungkin tak membeli, tapi mereka meriset di internet. Selamat datang generasi googling, bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 220508
In A Hurry

Thursday, May 15, 2008

Tips Membangun Komunitas

Dalam artikel sebelumnya, saya pernah menulis bahwa saat ini komunitas sedang naik daun. Lalu bagaimana caranya menangani komunitas ini? Akhirnya saya mendapatkan sebuah pencerahan dari blog NowIsGone. Blog ini membahas apa saja yang perlu dilakukan untuk membangun komunitas.

1. Jangan pernah mengontrol pesan
Ini adalah era yang berbeda dari sebelumnya, dimana saat media masih sangat terbatas, maka pemilik merek bisa mengontrol berita dan pesan yang beredar dengan mudahnya.

2. Kejujuran, etika, dan transparansi.
Ketiga hal diatas merupakan sebuah keharusan, karena dalam komunitas semua orang itu merasa terkait secara emosional.

3. Partisipasi dalam komunitas
Saat kita memutuskan untuk menggarap pasar komunitas, maka pemasar harus terlibat di dalamnya secara aktif. KIta tidak bisa hadir hanya saat mau mengirimkan iklan. Komunitas itu tentang keterkaitan secara emosional.

4. Komunikasi ke Audiens itu sudah gak jaman
Anda sedang hidup dijaman internet yang interaktif, jadi tidak bisa lagi komunikasi satu arah. Apa yang harus dilakukan adalah melibatkan konsumen, dan berdialog dengan mereka.

5. Berikan Nilai Tambah
Keterlibatan Anda secara aktif di komunitas, untuk mendengarkan, berdialog dengan mereka membuat Anda bisa memberikan kontribusi informasi yang penting untuk mereka.

6. Berikan informasi bukan propaganda
Ini yang agak susah, kebanyakan pemasar tidak sabar saat memasarkan ke komunitas. Mereka hanya memindahkan paradigma iklan ke pemasaran di komunitas, yang tentu saja tidak jalan. Berikan ke komunitas sesuatu yang inspiratif, dan menarik maka mereka akan dengan senang hati menyebarkannya.

7. Tambahkan sarana yang memudahkan komunikasi
Gunakanlah RSS Feed, dan saran lainnya yang memudahkan pengunjung untuk kembali ke berkunjung.

Jakarta, 150508
In A Hurry

Wednesday, May 14, 2008

Di Online PR dan MarCom, Lupakan Bahasa Press Release...

Ini adalah tantangan terbesar yang mungkin akan dihadapi oleh para praktisi PR. Mereka akan tergagap-gagap saat harus berkomunikasi di online. Praktisi PR terbiasa menulis dengan bahasa resmi, elegan, dan terkesan dingin, seperti halnya ketika membuat press release.

Padahal di dunia internet, Anda tidak bisa lagi melakukan yang sama. Di internet, audiens Anda bukan wartawan yang butuh naskah yang menjadi sumber berita mereka. Di internet, Anda akan bertemu langsung dengan beragam pembaca. Dia bisa jadi kompetitor, wartawan, atau konsumen Anda.

Pembaca Anda yang sangat beragam pastinya membingungkan. Jadi Anda diharapkan mempunyai kemampuan menulis dengan gaya yang berbeda. Bahasa yang lebih gaul, lebih seperti sebuah dialog dengan bahasa lisan. Karena perkembangan internet saat ini, mendorong kita menjadi sangat interaktif. Sesuatu yang tidak dimungkinkan oleh media lainnya. Setiap tulisan Anda, akan segera ketahuan responnya. Kolom komentar memungkinkan semua orang bisa bersuara.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, jangan menulis terlalu panjang dan bertele-tele. Pembaca sudah malas melihat tulisan Anda yang terlalu panjang. Kebiasaan orang membaca di internetitu hanya sekedar scanning. Jadi buatlah poin-poin untuk hal-hal yang dianggap penting.

Jakarta, 140508
Sore yang Cerah

Monday, May 12, 2008

"Perempuan Suci", Feminisme Timur, dan Perubahan Sosial Pakistan


Novel pertama karya Qaisra Sahraz ini memang sangat menganggumkan. Tokoh utamanya adalah Zarri Bano, seorang wanita muda, modis, cantik, dan sangat cerdas lagi kaya raya. Ia adalah seorang aktivis feminis, yang menganut kebebasan. Hingga akhirnya, Sang Ayah memerintahkan menjadi seorang Perempuan Suci.

Dengan status ini, Zarri Bano, harus mengubah kehidupannya secara total. Ia tidak boleh menikah, dan mengabdi sepenuhnya pada ilmu agama. Dan ia harus berbalur Burqa hitam, sebagai simbol status barunya ini. Status ini dipaksakan oleh Sang Ayah, untuk melindungi harta warisan keluarga, karena anak lelaki dalam keluarganya mati muda.

Novel yang sangat mengejutkan, dan menguras emosi. Anda akan dibawa bersedih, tersentuh, melayang oleh ceritanya yang romantis. Dan suatu saat akan marah, tentang sistem patriarki yang sangat tidak adil.

Alur besarnya sangat bisa ditebak, bergaya khas alur film Bollywood yang mendayu. Namun jangan berprasangka dulu hingga Anda masuk ke dalamnya. Di sana Anda akan melihat sudut pandang Islam, untuk menjelaskan kepada dunia Barat yang selama ini berpandang curiga.

Di sini, Anda juga akan menemukan bagaimana feminisme menemukan bentuknya dalam konteks budaya Timur. Feminisme ditampilkan dengan tetap berbungkus kepatuhan pada orang tua, bukan meledak-ledak dan frontal seperti yang dilenggangkan oleh Ayu Utami, dalam Saman.

Aku paling suka dengan alasan, Zarri Bano menerima putusan sebagai Perempuan Suci. Yaitu saat ayahnya, mengatakan "Kau butuh lelaki dalam hidupmu". Jadi dia sebenarnya sedang melawan patriarki itu sendiri, dengan menjadi seorang Perempuan Suci. Bukan justru sebaliknya, seperti yang dituduhkan oleh orang-orang sekitarnya.

Disini, Anda juga akan menemukan perubahan sosial dari tiga generasi keluarga Pakistan. Sebuah perubahan cara pandang dari masyarakat agraris berbalut konsep islami, menuju masyarakat industri modern. Hal ini digunakan dengan perlambang keluarga Zarri Bano yang merupakan Tuan Tanah turun temurun, dan keluarga Sikander yang merupakan tunangan Zarri Bano, yang berasal dari keluarga kaya baru. Seorang pebisnis, yang tinggal diperkotaan.

Jakarta, 120508
Hari Mulai Menua...

"A Thousand Splendid Suns", dan Nyanyian Kepedihan...


Setelah memukau dunia dengan bukunya "A Kite Runner". Khaled Hosseini menulis buku berikutnya "A Thousand Splendid Suns". Buku yang masih juga membahas tentang bait-bait kepedihan Afghanistan yang terkoyak dalam perang saudara dalam beberapa tahun ke belakang.

Buku ini diawali dengan kisah tragis Mariam sebagai Harami atau anak Haram, dari seorang terpandang di kota kecil Herat di Afghanistan yang menghamili pembantunya. Meminjam mata Mariam yang malang, pembaca diajak bertualang dalam kehidupannya yang menyedihkan.

Ditolak oleh ayah kandungnya, lalu ibunya memilih gantung diri, karena anaknya lebih memilih menemui ayahnya. Penderitaan Mariam terus berlanjut, dimana dia dipaksa menikah dengan seorang pria yang jauh di atas umurnya.

Ia menjadi saksi sistem patriarki Afghanistan yang rigid. Dicampakkan oleh suaminya karena tidak mampu menghasilkan seorang anak. Dimadu, dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tanpa mampu melakukan perlawanan.

Novel ini juga menangkap perang saudara yang berkepanjangan di Afghanistan. Kota yang hancur lebur, aliran pengungsi ke Pakistan yang hidup dalam kesengsaraan. Dan tangisan pedih dan lirih, karena begitu banyak keluarga yang meninggal akibat perang.

Novel ini, menurutku masih kurang menggigit dibandingkan karya Khaled sebelumnya, "A Kite Runner". Suasananya terlalu suram, dan mencekam. Atau mungkin aku terlalu terpesona dengan karya sebelumnya? Ledakan emosional yang pernah dirasakan tatkala membaca A Kite Runner, sangat jauh dibandingkan buku ini yang terasa hambar.

Tapi secara keseuluruhan buku ini layak untuk dibaca, karena Anda bisa mengintip kehidupan sosial masyarakat Afghanistan. Dan tentunya perubahan politik di sana yang mengakibatkan peperangan, dan kemiskinan tak berkesudahan.

Jakarta, 120508
Siang Nan Sunyi...

Demo dan Menciptakan Opini Publik Via Blog

Pagi ini saya terhenyak saat mengecek Google Readers, posting Mbelgedez di blognya menurut saya merupakan fenomena menarik. Dia meminta para pembacanya yang setia, untuk membuka blog FORKOM ARAS.

Blog ini dibangun, sebagai solidaritas atas sebuah travel agent, yang uang depositnya belum dikembalikan oleh Adam Air. Sepertinya dari blog ini, para pengusaha travel agent sedang melakukan protes, dan berusaha menarik opini publik sebanyak-banyaknya untuk mendukung mereka.

Lihatlah, postingan beliau, yang mengajak semua orang untuk kasih komentar. Tujuannya agar peringkatnya naik di wordpress, dan pada akhirnya akan membuat blognya terdeteksi dan dikunjungi semakin banyak orang. Itu pun masih ditambah lagi dengan video yang di upload di youtube.

Fenomena ini menarik karena beberapa hal. Pertama, ternyata blog saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Semenjak blog menjadi tren, dan orang gemar menulis dan membaca blog. Banyak orang yang kemudian menggunakan blog, untuk beragam kepentingan. Kedua, terjadi pergeseran strategi untuk melakukan demo dan membangun opini publik.

Mereka-mereka yang telah melek teknologi, tidak mau lagi capek-capek demo di jalanan, yang berisiko ditonjok polisi. Atau mengirimkan surat protes ke media cetak atau elektronik, dimana ini juga membutuhkan jalan panjang. Yang paling penting kan esensinya, menarik perhatian publik sebanyak-banyaknya.

Mereka lebih memilih consumer generated media, dimana merekalah yang memegang kontrol. Dan mereka yang melek teknologi ini, tahu bagaimana caranya mendatangkan banyak pengunjung, untuk menyebarkan idenya.

Untung saja Adam Air sudah karam. Bagaimana kalau ini adalah produk dimana Anda sebagai Marketing Manager atau PR Manager? Bukankah dampaknya akan sangat luas bagi keberlangsungan produk Anda?

Oli Top 1, dan Mizone sempat kalang kabut, karena isu miring yang beredar di mailing list tentang produk mereka. Mereka tidak segera menanganinya sejak awal, dan pada akhirnya mereka mengeluarkan dana yang sangat besar, untuk memulihkan kepercayaan. Hanya karena mereka abai, dan tidak mendeteksi sejak dini. Bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 120508
Menuju Makan Siang

Thursday, May 08, 2008

Komunitas yang Sedang Naik Daun...

Belakangan ini, mendadak banyak sekali klien yang minta dibikinkan komunitas, atau ingin tahu apa itu komunita. Terutama mereka tertarik dengan komunitas online. Mengapa sekarang komunitas menjadi tren? Ini sebuah pertanyaan menarik.

Menurut saya ada beberapa hal, yang menyebabkan komunitas menjadi seksi di mata para pemasar. Pertama, para anggota komunitas biasanya sangat loyal, dan mempunyai ikatan yang sangat kuat antara satu dengan lainnya. Kedua, pendekatan ke komunitas itu lebih efektif karena Anda berbicara dengan orang memang antusias dan membutuhkan produk Anda.

Lalu mengapa sekarang komunitas menjadi begitu hebatnya, dan diburu oleh pemasar? Ada beberapa faktor juga yang menjadi penyebabnya. Pertama, tak bisa dielakkan lagi kehadiran internet membuat komunitas tumbuh subur. Karena orang-orang dengan kesamaan karakter dan minat, tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Orang dengan dengan minat yang sama bisa bertemu di forum, mailing list, atau groups yang disediakan oleh situs jaringan sosial.

Kedua, saat ini begitu banyak merek dan pilihan bagi konsumen. Kelimpahan pilihan membuat konsumen terkadang bingung, dan tidak bisa membedakan satu produk dan lainnya. Maka pada komunitaslah mereka akan meminta rekomendasi produk yang layak untuk dikonsumsi.

Makanya jangan heran, bila banyak sekali perusahaan yang mulai menerjunkan karyawannya untuk berkelana ke berbagai mailing list dan forum. Menjadi pengamat dan pendengar suara konsumennya, lalu kemudian sesekali mengadakan kegiatan offline untuk mempererat ikatan emosional antara produk dan konsumennya.

Karena di era berlimpah pilihan saat ini, konsumen menjadi sangat sentimentil. Keputusan pembelian lebih didasarkan pada isu-isu yang dianggap penting bagi mereka, dibandingkan produk itu sendiri.

Jakarta, 080508
Saatnya Menulis Lagi...

Tuesday, May 06, 2008

Dunia yang Damai Ketika Hidup Tanpa Prasangka...

Benarkah kedamaian dimuka bumi ini adalah sesuatu yang mustahil??? Banyak sekali wacana yang telah dimunculkan, banyak sekali usaha telah dilakukan. Kaum liberal berusaha mewujudkan obsesi tentang perdamaian dunia yang abadi melalui Liga Bangsa Bangsa (LBB), setelah meletusnya Perang Dunia I.

Ternyata para penggagasnya mungkin tertunduk dalam frustasi karena lembaga itu hanya bertahan beberapa saat, lalu runtuh akibat Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II, kaum Liberal masih belum putus asa, maka dibangunlah Perserikatan Banga Bangsa yang masih kukuh hingga saat ini, namun apakah ini bisa meredam peperangan? Ternyata tidak!!!

Peperangan masih saja terjadi, walaupun belum memuncak pada seperti halnya dua Perang Dunia sebelumnya. Lalu pertanyaannya apa sih penyebabnya manusia berperang? Ada pendapat yang mengatakan, perang diakibatkan dunia yang terlalu maskulin. Penguasa yang didominasi pria, membuat peperangan terus terjadi. Karena pria dianggap lebih suka menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan.

Ada juga yang berpendapat perang diakibatkan ketamakan atau sumber daya yang terbatas. Alasannya? Manusia menjadi agresif ketika dia harus berebut sebuah sumber daya yang terbatas. Penjajahan Eropa ke Asia dikarenakan terbatasnya pasokan rempah-rempah yang mereka butuhkan.

Lalu apa lagi lainnya? PRASANGKA, yayaya ini juga menjadi penyebab yang paling menyedihkan dari hancurnya peradaban. Seringkali kita terlibat dalam konflik hanya dikarenakan kita mempunyai prasangka buruk.

Perbedaan cara pandang, kebiasaan dan lainnya sering kali berujung pada permusuhan dan peperangan. Indonesia beberapa kali mengalami pertumpahan darah antaretnis karena terjadinya prasangka.

Prasangka akan membakar hati kita, lalu bertemu dengan orang yang merasa senasib. Dan muncullah sikap agresif, yang berujung pada kekerasan. Padahal prasangka itu seharusnya bisa dicegah, kalau ada suatu dialog.

Prasangka muncul karena adanya sumbatan dalam komunikasi. Dan sering kali kita sama-sama tidak tahu bagaimana memulai berdialog dengan orang lain yang berebeda. Kita terkadang merasa diri paling benar, sementara orang lain juga merasa serupa.

Inilah saatnya untuk mampu membuka telinga, belajar mendengar baru berkomentar. Saatnya berempati pada orang lain, baru menuntut untuk dimengerti. Alangkah indahnya dunia ini, apabila semua orang mempunyai sikap seperti ini. Lagi-lagi ini sebuah utopia. Tapi sebuah pergerakan dimulai dari ide, lalu menyebar dari individu ke individu, maka efek bola salju akan bergulir. Begitulah dunia berubah, melalui sebuah langkah yang sederhana...

Jakarta, 060508
I Wish I Can be A Wise Man...

Monday, May 05, 2008

Memahami Desire dan Anxiety Blogger

Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tentang mimpi buruk pemasar dengan consumer generated media. Tulisan itu terinspirasi oleh sebuah tulisan yang ditulis oleh Agung tentang Ford. Walhasil Agung memebaca tulisan ini, lalu menulis blog sebagai respon atas tulisan itu.

Saya cukup terkaget-kaget melihat respon akan tulisan ini. Tampaknya ada sebuah miskomunikasi disini. Agung mempersepsikan bahwa saya menganggap tulisannya itu tidak pantas, karena menjelekkan sebuah merek. Padahal saya mengangkat kasus ini, untuk menunjukkan pada pemasar, bahwa berhati-hatilah dengan konsumen. Mereka saat ini bisa berbicara di media internet, dan akan berdampak sangat luas.

Oleh karena itu pemasar perlu berdialog dengan konsumennya. Namun bukan justru memaksa konsumen tutup mulut. Pemasar harus berani mengakui kalau mereka melakukan kesalahan, belajar untuk mendengar dari konsumennya.

Karena reaksi frontal, dan ancaman hanya akan memperburuk suasana. Kritik tajam pastinya akan semakin meluas kemana-mana. Dari satu blog di link ke blog lain, lalu melompat ke mailing list, dan pada akhirnya menjadi pembicaraan offline.

Namun justru dari tulisan blog ini beserta komentar para pembacanya, saya menemukan insight menarik tentang blogger Indonesia. Kalau dalam bahasa Hermawan Kertajaya, tentang anxiety dan desire.

Lalu apa anxiety blogger? Ternyata selama ini di era semua orang bebas berekspresi, mereka masih punya ketakutan untuk dibredel. Ketakutan bahwa perbedaan pendapat, dan kritik itu tidak sopan, dan mengganggu stabilitas. Ini bisa dimaklumi, rezim Soeharto itu baru berakhir 10 tahun. Mereka yang sekarang ini menjadi blogger adalah generasi yang masih dididik dengan P4.

Blogger juga ternyata masih mengalami inferiority complex, akibat adanya banyak cap negatif yang melekat. Misalnya, blogger disamakan dengan hacker dan pembohong yang dicapkan oleh Roy Suryo.

Disisi lain, Blogger punya desire untuk diakui keberadaannya. Bahwa mereka ini eksis lho. Mereka ini bukan hanya sekelompok orang yang menulis dusta, atau curhat di internet. Bahwa banyak juga lho blogger yang menulis sesuatu yang bagus, dan bermanfaat bagi orang banyak.

Lalu apa dampaknya bagi Anda para pemasar? Anda harus memahami anxiety dan desire mereka ini, baru Anda akan mengerti bagaimana berkomunikasi dengan mereka. Bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 050508
Pagi yang Indah...